Skip to content

Refleksi Syukur

8 March 2011

Perkembangan zaman yang kita hadapi saat ini sering membuat hidup kita kurang bermakna. Terkadang kita juga merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya. Apa yang kita perjuangkan tak jarang dikatakan sebagai perbuatan yang sia-sia belaka. Sebuah pertanyaan yang sering kita lontarkan adalah: “apalah arti hidup ini, bila perjuanganku ternyata sia-sia belaka?”
Makna Hidup
Pemaknaan hidup memang sering diperdebatkan orang. Tidak jarang pula, ada orang yang membandingkan hidup manusia tak ubahnya dengan binatang: “sebagaimana yang satu mati, begitu juga yang lain (Pkh 3:19).” Jelas bahwa hidup manusia berbeda dengan binatang. Manusia memiliki sejarah hidup, kehendak untuk mengasihi sesama dan tujuan kemana arah hidupnya di masa yang akan datang. Pertanyaan demi pertanyaan kerapkali banyak terlontar demi mendapatkan sebuah jawaban pasti akan kesejatian hidup manusia. Hal ini pada dasarnya membawa manusia mencapai sebuah pemaknaan baru mengenai kehidupan, dan sebuah ekspresi akan penghargaan kehidupan yang lebih mendalam.
Mendalamnya pemaknaan hidup tidak dapat ditemukan dalam berbagai rumusan yang diberikan kebanyakan orang. Makna hidup tidak tergantung pada keuntungan dan keberhasilan manusia. Hidup dikatakan bermakna bila manusia bisa menghayati kehidupannya sendiri. Makna hidup muncul ketika seseorang mau mengolah pengalaman hidup di dalam hatinya. Manusia memerlukan ruang dan waktu untuk menemukan pemaknaan akan hidup yang dialaminya. Semua digapai dengan cara mendengarkan dan mencermati jeritan-jeritan suara hati yang tidak tredengar oleh indera pendengaran kita semata. Manusia perlu mendengarkan suara hati yang membawanya pada penemuan makna hidup yang sesuai dengan apa yang dia impikan selama ini.
Peranan Hati dalam Sudut Pandang Kisah Penciptaan
Dalam kisah penciptaan, disposisi hati seseorang telah dilukiskan begitu indah. Hati manusia penuh kedamaian. Manusia menjadi rekan kerja Allah, menjadi subyek yang bebas, otonom, berdikari, dan mampu menjawab panggilan kasih Allah. Manusia masuk ke dalam kesatuan cinta dengan PenciptaNya. Atas dasar itulah, disadari bahwa Tuhan menciptakan manusia demi sebuah kata, yakni “relasi”. Manusia dberi anugerah untuk dicintai dan mencintai tanpa mengenal keterbatasan ruang dan waktu. Disposisi hati yang seperti ini harus senantiasa dibawa dalam hidup manusia karena hidup manusia tidak jauh dari peranan kasih yang telah diberikan Tuhan pada manusia.
Disposisi hati yang murni kadang menjadi sebuah wacana belaka, karena manusia dewasa ini cenderung memikirkan diri sendiri daripada orang lain. Fenomena perkembangan zaman memaksa manusia memnuhii kebutuhannya sendiri dengan segala kemampuan dari dalam diri mereka. Kadang manusia lebih terkesan sebagai pemangsa manusia lain (homo homini lupus) daripada manusia sebagai bagian dari manusia yang lain (homo homini socius). Fenomena seperti inilah yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Pada dasarnya, manusia tidak lain adalah sosok ciptaan yang tidak sempurna. Manusia memiliki keterbatasan yang bisa disebut dengan sebuah kekurangan. Akan tetapi satu hal yang menjadi kelebihan atas ciptaan lain adalah sebuah hati yang dimiliki oleh manusia. Hati mengarahkan manusia pada penemuan kesejatian hidupnya. Manusia mempunyai sejarah hidup yang membuat manusia merasakan betapa berharganya hidup yang diberikan Tuhan selama ini. Bukan hanya dalam zaman ini saja manusia berusaha menemukan sebuah arti kehidupan yang dijalani, tetapi sejak zaman dahulu kala manusia berusaha mencari arti kesejatian hidup. Sebut saja plato, aristoteles, dan para pemikir terkenal lainnya. Mereka berusaha menemukan arti kesejatian diri dari apa yang mereka alami. Tak jarang pengalaman pahit mereka dapatkan demi sebuah pencarian akan kesejatian hidup.
Seperti yang telah disinggung diawal tadi, manusia zaman ini terkadang pesimis dengan kehidupan yang ia jalani. Titik ini adalah titik awal menuju sebuah pemurnian hati. Manusia merasa jenuh atas kehidupan yang ia rasakan, dan ini terjadi karena ia mulai menyadari bahwa ada yang salah dalam kehidupan yang telah dijalani. Proses penyadaran ini merupakan sebuah cerminan yang diberikan Tuhan pada manusia. Manusia hendaknya mau melihat perkembangan diri yang telah ia alami dan temui selama ini. Proses penyadaran diri memang bukan proses yang mudah. Ada luka yang sangat dalam harus dialami dalam peristiwa ini. Terkadang dalam proses ini membawa manusia pada keterpurkan yang dalam yang membawa manusia lari dari kehidupan. Hal inilah yang perlu dihindari. Manusia pada dasarnya tidak hidup sendiri. Manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan manusia yang lain. Disinilah letak peranan hati manusia yang membimbing manusia pada sebuah pemaknaan akan hidup ini. Tak lupa, Tuhan tidak berdiam diri melihat apa yang dialami oleh manusia. Tuhan selalu ada dalam perjalanan hidup manusia, malah Tuhan selalu setia mendampingi manusia untuk membantu penemuan jati diri manusia yang sesungguhnya. Tuhan hadir secara tidak langsung melalui peranan keluarga, sahabat, dan teman-teman yang ada di sekitar kita. Kesadaran akan peran serta Tuhan inilah yang menyadarkan hati manusia pada keterbukaan akan kehendak Allah.

Syukur
Syukur merupakan sebuah kesadaran dan kemampuan seseorang memaknai setiap peristiwa hidupnya dan melahirkan sebuah mentalitas rasa terima kasih atas apa yang sudah diterima, dialami dalam peristiwa kehidupan. Pada tahap awal, rasa syukur ini lahir karena seseorang sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Misalnya ketika orang berdoa dan permohonannya dikabulkan, maka ia akan berterima kasih. Tahap berikutnya orang sudah bergerak dari tahap berterima kasih karena mendapatkan sesuatu berlanjut ke tahap “habit”. Tahap ini adalah tahap berterima kasih karena semua yang dialami, dimiliki, dan apapun di dalam hidup seseorang sudah patut disyukuri. Hal ini akan membuat hidup seseorang lebih bebas dan mampu berbahagia, karena apa yang telah didapatkan sudah menjadi cukup baginya.
Rasa syukur inilah yang mendasari hidup para santo dan santa. Mereka menjadi kudus, salahsatunya karena mereka mampu bersyukur atas peristiwa hidup mereka. Rasa syukur ini menjadi sebuah “habit”, misalnya hidup Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Santa ini masuk menjadi biarawati saat usia masih sangat muda. Teresia mampu memaknai hidupnya dengan sangat baik. Setiap hari ia merefleksikan hidupnya, sehingga ia sampai pada pengertian bahwa Tuhan amat mencintai hidupnya. Cinta Tuhan inilah menjadi dasar kekuatan bagi Teresia mengasihi rekan suster sekomunitasnya dengan apa adanya, kendati ia sering pula diremehkan karena umurnya yang muda. Kesadaran untuk mencintai membuatnya mampu bersyukur atas apapun yang diberikan Tuhan kepadaNya. Ia berusaha melakukan semua pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina dengan cinta yang besar. Ia berusaha setia atas tugas yang dipercayakan padanya. Hingga akhirnya Santa Teresia Kanak-kanak Yesus diangkat menjadi santa, karena cinta sehabis-habisnya kepada Tuhan dan mampu bersyukur atas apa yang dialaminya. Tuhanlah yang membuat ia kaya, maka tidak ada lagi yang akan merisaukan hidupnya.
Sebuah pertanyaan akhir yang perlu dilihat secaral lebih dalam diri kita adalah: apakah aku sudah bersyukur atas hidup pengalaman hidup yang telah kujalani? Jika aku belum bersyukur, tidak ada kata terlambat untuk mengatakan: “Tuhan, aku bersyukur atas segala pengalaman yang kau berikan padaku, serta peran serta diri-Mu dalam hidupku.”

By: Rdk

From → coretan

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s