Skip to content

Kurban Kudus Misa

28 November 2011
DSC_0101

Katekese tentang Kurban Kudus Misa

oleh: St. Yohanes Maria Vianney

 

Segala pekerjaan baik digabung menjadi satu masih tidak sebanding nilainya dengan Kurban Kudus Misa, sebab segala pekerjaan baik itu adalah karya manusia, sementara Misa Kudus adalah karya Allah. Kemartiran tak ada artinya dibandingkan Kurban Misa; kemartiran adalah kurban manusia atas hidupnya bagi Tuhan; Misa adalah kurban Allah yang menjadi manusia atas Tubuh-Nya dan darah-Nya. Oh, betapa luar biasanya seorang imam! andai ia memahaminya, pastilah ia akan mati … Tuhan taat padanya; ia mengucapkan dua patah kata saja, maka Kristus turun dari surga atas perintahnya dan menghadirkan Diri dalam rupa Hosti kecil. Allah Bapa memandang ke altar “Inilah Anak yang Ku-kasihi,” sabda-Nya, “kepada-Nyalah Aku berkenan.” Tuhan tak dapat menolak jasa-jasa persembahan Kurban ini. Jika kita memiliki iman, kita akan melihat Tuhan yang bersembunyi dalam diri imam, bagaikan cahaya di balik kaca, bagaikan anggur bercampur air.
Setelah konsekrasi, ketika dengan jari-jariku aku menggenggam Tubuh Kristus yang Mahakudus, dan ketika aku putus asa, memandang diriku yang tak layak apa pun kecuali neraka, aku berkata pada diriku sendiri, “Ah, jika saja setidak-tidaknya aku dapat membawa Dia besertaku! Neraka akan terasa menyenangkan bersama-Nya; aku akan merasa puas walau harus menderita di sana selama-lamanya, asal saja Ia besertaku. Tetapi jika demikian, tidak akan ada lagi neraka; api cinta kasih akan membinasakan api keadilan.” Betapa mengagumkan! Setelah konsekrasi, Allah yang baik ada di sana sama seperti Ia ada di surga. Jika saja manusia memahami sepenuhnya misteri ini, pastilah ia akan mati karena cinta. Tuhan berbelas kasihan kepada kita karena kelemahan-kelemahan kita. Suatu ketika seorang imam, setelah konsekrasi, sedikit ragu apakah beberapa patah kata yang diucapkannya dapat membuat Kristus turun ke atas altar; pada saat itulah ia melihat Hosti berubah menjadi merah dan korporal ternoda oleh darah.
Jika seseorang mengatakan kepada kita, “Baru saja terjadi seorang mati hidup kembali,” maka berlarilah kita secepat kilat untuk menyaksikannya. Tetapi tidakkah Konsekrasi, yang mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan, jauh lebih ajaib daripada seorang mati yang hidup kembali? Kita harus senantiasa bersujud setidak-tidaknya seperempat jam guna mempersiapkan diri kita agar dapat ikut ambil bagian dalam Misa dengan baik; kita patut merendahkan diri di hadapan Tuhan, seturut teladan-Nya merendahkan Diri sedemikian rupa dalam Sakramen Ekaristi; dan patutlah pula kita memeriksa batin kita, karena kita harus berada dalam keadaan rahmat agar dapat ikut ambil bagian secara pantas dalam perayaan Misa. Jika saja kita memahami nilai Kurban Kudus Misa, atau jika saja kita mempunyai iman, pastilah kita ikut ambil bagian di dalamnya dengan jauh lebih antusias.
Anak-anakku, ingatkah kalian akan kisah yang aku ceritakan kepada kalian tentang seorang imam kudus yang berdoa bagi sahabatnya? Tuhan telah, tampaknya demikian, membuatnya tahu bahwa sahabatnya itu berada di api penyucian. Muncul dalam benaknya bahwa tak ada yang lebih baik yang dapat dibuatnya selain dari mempersembahkan Kurban Kudus Misa bagi jiwa sahabatnya itu. Ketika tiba saat konsekrasi, ia menggenggam Hosti di tangannya sambil berkata, “O Allah yang Kudus dan Kekal, marilah kita saling tukar-menukar. Padamu ada jiwa sahabatku yang ada di api penyucian, sementara padaku ada Tubuh Putra-Mu, yang ada dalam genggamanku; baiklah Engkau bebaskan jiwa sahabatku, dan aku akan mempersembahkan Putra-Mu kepada-Mu, dengan segala jasa atas sengsara dan wafat-Nya.” Sesungguhnya, pada saat sang imam mengangkat Hosti Kudus, ia menyaksikan jiwa sahabatnya terangkat ke surga, sepenuhnya kemilau dalam kemuliaan. Jadi, anak-anakku, apabila kita ingin mendapatkan sesuatu dari Allah yang baik, mari melakukan hal yang sama; setelah Komuni Kudus, kita persembahkan kepada-Nya Putra-Nya yang terkasih, dengan segala jasa atas sengsara dan wafat-Nya. Allah tak akan dapat menolaknya lagi.
sumber : “Catechism on the Holy Sacrifice of the Mass by Saint John Vianney”; http://www.catholic-forum.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya

 

From → katekese

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: