Skip to content

Doa

3 May 2013

APAKAH DOA ITU ?

pray1

Sebuah definisi doa yang amat tua menjelaskannya sebagai “mengangkat hati DAN pikiran kepada Tuhan.” Apakah ‘pikiran’, apakah ‘hati’? ‘Pikiran’ ialah apa yang berpikir–

ia bertanya, merencana, cemas, berkhayal. ‘Hati’ ialah apa yang tahu–ia mencinta. Pikiran adalah organ pengetahuan, hati organ cinta. Kesadaran pikiran pada akhirnya harus dilepaskan dan terbuka menuju cara tahu yang lebih penuh, yang adalah kesadaran hati. Cinta adalah pengetahuan lengkap.

Namun, kebanyakan pendidikan kita di dalam doa terbatas pada pikiran. Sebagai anak-anak, kita diajar untuk berdoa, minta kepada Tuhan apa yang kita atau orang lain butuhkan. Tetapi ini baru setengah dari misteri doa.

Setengah yang lain adalah doa hati, di mana kita tidak lagi berpikir tentang Tuhan atau berbicara kepadanya atau minta sesuatu. Kita hanya sekadar berada bersama Tuhan yang ada di dalam kita di dalam Roh Kudus yang telah diberikan Yesus kepada kita. Roh Kudus adalah cinta, hubungan cinta yang mengalir antara Bapa dan Putra. Itu adalah Roh yang ditiupkan Yesus ke dalam setiap hati manusia. Jadi, meditasi adalah doa hati yang menyatukan kita dengan kesadaran manusiawi Yesus di dalam Roh.

“Kita bahkan tidak tahu bagaimana harus berdoa, tetapi Roh itu sendiri berdoa di dalam kita.” (Rom 8:26)

Untuk doa pikiran–doa dengan kata-kata atau menggunakan pikiran tentang Tuhan–kita dapat membuat aturan. Ada banyak “metode doa pikiran”, tetapi untuk doa hati tidak ada teknik, tidak ada aturannya. “Di mana ada Roh, ada kebebasan.” (2 Kor 3:17)

Roh Kudus di dalam gereja modern, terutama sejak Konsili Vatikan II pada awal 1960-an, mengajar kita untuk menggali kembali dimensi lain dari doa kita ini. Dokumen-dokumen Konsili itu mengenai Gereja dan liturgi kedua-duanya menekankan perlunya “orientasi kontemplatif” di dalam kehidupan spiritual orang Kristen pada zaman ini. Semua orang dipanggil menuju kepenuhan pengalaman Kristus, apa pun cara hidup mereka.

Ini berarti kita harus beranjak mengatasi tingkat doa pikiran: bicara kepada Tuhan, berpikir tentang Tuhan, minta kepada Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita harus menyelam ke dalam lubuk kedalaman, ke tempat di mana roh Yesus sendiri berdoa di dalam hati kita, di dalam keheningan yang dalam dari kesatuan dengan Bapa kita di dalam Roh Kudus.

Doa kontemplatif bukanlah kelebihan bagi para rahib laki-laki dan perempuan atau bagi orang-orang mistikal khusus. Itu adalah dimensi doa yang kedalamnya kita semua terpanggil. Itu bukan berurusan dengan berbagai pengalaman luar biasa atau keadaan kesadaran berubah. Itu adalah yang disebut oleh Thomas Aquinas “penikmatan sederhana dari kebenaran” [simple enjoyment of truth]. William Blake bicara tentang perlunya “membersihkan pintu-pintu persepsi”, sehingga kita dapat melihat segala sesuatu seperti keadaan sebenarnya: tak terbatas.

Semua ini berkaitan dengan kesadaran kontemplatif sebagaimana dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Meditasi membawa kita kepada keadaan ini, dan itu adalah bagian dari seluruh misteri doa di dalam kehidupan setiap orang yang mencari kepenuhan eksistensi [the fullness of being].

Pandanglah doa sebagai roda besar: Roda itu berputar membawa seluruh hidup kita menuju Tuhan. Doa adalah bagian esensial dari kehidupan yang sepenuhnya manusiawi. Jika kita tidak berdoa, kita hanya setengah hidup dan iman kita hanya setengah berkembang.

Jari-jari roda itu mewakili berbagai jenis doa. Kita berdoa dengan cara berbeda-beda, pada waktu berbeda-beda, dan menurut apa yang kita rasakan. Berbagai orang mempunyai cara berdoa yang disukai masing-masing. Misalnya, jari-jari itu mewakili Ekaristi, sakramen-sakramen yang lain, doa spiritual, doa permohonan dan doa untuk orang lain [intercessory], doa karismatik, kebaktian, rosario, dsb.

Tetapi yang membuat semua wujud doa yang berbeda-beda ini Kristiani ialah bahwa semuanya berpusat pada Kristus. Jari-jari roda itu adalah wujud atau ekspresi doa
yang cocok dengan sumbu roda, yang adalah doa Yesus sendiri.

Doanya adalah makna dan sumber esensial dari doa seorang Kristen. Kita dapat berkata bersama Santo Paulus: Bukan aku lagi yang berdoa, tapi Kristus berdoa di dalam aku. Jadi, di dalam model roda ini, semua bentuk doa mengalir ke dalam dan keluar dari roh Yesus yang memuja Tuhan di dalam dan bagi ciptaan. Semua bentuk doa adalah valid. Semuanya diterangi oleh doa kesadaran manusiawi Yesus yang ada di dalam kita melalui berkah Roh Kudus.

Ini adalah pemahaman iman mengenai roda doa. Kita tidak memikirkan semua ini pada saat bermeditasi itu sendiri. Dari segi pengalaman, roda itu juga mengajarkan kepada kita sesuatu yang amat penting. Pada sumbu roda itu, pada pusat doa, Anda menemukan keheningan. Tanpa keheningan di pusat, tidak mungkin ada gerakan atau pertumbuhan di pinggir. Meditasi adalah karya untuk menemukan dan menjadi satu dengan keheningan ini, yang merupakan ciri utama dari Roh. “Diamlah, dan ketahuilah Aku Tuhan!”

Doa kontemplatif adalah keterbukaan total dan kesatuan dengan doa Yesus. Kontemplasi adalah berada dalam sunyi, hening dan sederhana. Dan intisari doa Yesus adalah
komuni cintanya dengan Bapa, memalingkan perhatian kepada Bapa, di dalam Roh Kudus. Dengan demikian, doa Kristiani berarti memasuki kehidupan Trinitas Suci di dalam, melalui dan bersama pikiran dan hati manusiawi dari Yesus.

Bagi banyak orang, pada dasarnya doa adalah permohonan kepada Tuhan untuk bantuan khusus dalam keadaan kesulitan tertentu. Adalah alamiah untuk mengekspresikan iman dan keyakinan kita kepada Tuhan dengan cara ini pada saat-saat demikian. Tetapi, apakah iman kita kepada Tuhan? Bukankah, seperti kata Yesus, Tuhan mengetahui kebutuhan kita sebelum kita minta? Kita tidak menyampaikan kebutuhan kita kepada Tuhan, baik untuk memberitahu Tuhan apa yang ia tidak tahu, maupun untuk membujuk Tuhan untuk mengubah pikirannya. Jika kita berdoa bagi kepentingan kita, itu terutama karena berbuat demikian akan memperkuat keyakinan kita bahwa Tuhan tahu dan Tuhan peduli.

Kecuali iman kita jernih dan dalam, doa kita mudah terperosok dalam tahap perkembangan yang mandek, berhenti pada tingkat ego. Bagi banyak orang Kristen, ini adalah krisis iman mereka pada dewasa ini, dan itu mencerminkan tingkat spiritualitas Kristiani yang sering kali dangkal.

Doa hati, doa kontemplatif, meditasi, pada hakikatnya adalah doa iman. Dalam keheningan kita menerima bahwa Tuhan tahu kebutuhan kita dan bahwa pengetahuan ini
adalah cinta yang menciptakan dan pada akhirnya akan memenuhkan kita.

Jika ini membantu menjawab pertanyaan “Apakah doa?”, pertanyaan berikutnya adalah “Bagaimana kita berdoa?” Hanya dengan berdoa kita dapat sungguh-sungguh
menemukan apa arti doa dan bahwa doa harus memenuhi hati setiap kehidupan yang sungguh-sungguh berarti.

 

Oleh: Romo Laurence Freeman, OSB
Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: