Skip to content

JATI DIRI MANUSIA DALAM KEBAIKAN DAN KEJAHATAN

10 May 2013

(Pertemuan antara pandangan Neo konghucuisme dengan Filsafat Barat)

ZhuXi.Portrait.TrimKebaikan dan kejahatan merupakan salah satu topik yang menarik untuk menjadi bahan diskusi filsafat barat dan timur. Dalam hal ini, penulis ingin mengangkat bagaimana pandangan filsafat Neo-Konghucuisme dalam pandangannya terhadap kebaikan dan kejahatan dalam tokoh Chu Hsi sebagai pemikir penting ketiga konghucuisme. Hal ini akan menarik bila dipertemukan dengan pandangan Paul Ricoeur dalam memandang kejahatan dengan metode fenomenologis hermeneutik. Dalam pemahaman penulis, penulis menemukan beberapa pertemuan antara pandangan Chu Hsi dengan Paul Ricoeur dalam pembahasan mereka mengenai kejahatan.


Chu Hsi memiliki jasa terpenting dalam Neo-Konghucuisme terutama dalam kemampuannya menafsir kembali dan membuat sintesis pemikiran para pemikir Neo-Konghucuisme awal. Ia memberi satu dasar teroritis yang kuat bagi filsafat praktis yang menekankan suatu cara untuk memulihkan kembali kodrat asli yang murni dan baik melalui pengolahan diri secara moral. Paul Ricoeur adalah seorang murid Marcel dan di awal kariernya ia menerbitkan sebuah buku tentang “filsafat eksistensi Jaspers.” Buku ini berisisi tentang misteri dan paradoks dalam Jaspers dan Marcel, dan menerjemahkan karya Husserl tentang Ideen ke dalam bahasa Prancis. Kemudian, ia mengadaptasi metode fenomenologis Husserl untuk sebuah studi tentang makna eksistensi manusia dalam karyanya tentang filsafat kehendak yang terdiri atas tiga volume. Dalam hal ini, penulis ingin mengangkat satu tema mengenai pandangan Ricoeur mengenai kejahatan disamping tema-tema lain yang tersirat dalam bukunya.

Kejahatan Dan Kebaikan Menurut Chu Hsi

Untuk dapat memahami kejahatan dan kebaikan dalam Neo-Konghucuisme, penulis mengambil pandangan Chu Hsi dalam melihat permasalahan ini. Tiga kegiatan belajar atau filsafat terapan, yaitu: pengolahan, pembetulan dan pengembangan, adalah bagian dari program yang sama pengolahan diri secara moral, karena bila relasi manusia dibetulkan dan kebajikan-kebajikan dikembangkan, maka jen akan dibenahi. Dan bila jen diolah, maka kebajikan akan dikembangkan dan relasi manusia akan dibetulkan. Dan bila ketiga hal ini dilaksanakan secara penuh, maka kejahatan akan tersingkirkan, masyarakat akan mengalami damai, dan kebaikan akan meraja di dunia.
Kesulitan utama yang dihadapi Konghucuisme adalah kesulitan untuk menjelaskan asal usul kebaikan dan kejahatan serta hubungan antara keduanya pada satu pihak, kesulitan itu sudah dirasakan lebih dulu oleh Mensius yang mencoba memecahkan persoalan itu dengan mengklaim bahwa kodrat manusia pada dasarnya baik, tapi dirusakkan oleh masyarakat dan budaya. Di pihak lain, Hsun Tzu sudah mencoba memecahkan persoalan itu dengan berargumentasi bahwa kodrat manusia pada dasarnya jahat, tetapi melalui pendidikan dan kebudayaan, kejahatan ini dapat tercabut dari akarnya dan diganti dengan kebaikan.
Chu Hsi menunjukkan bagaimana kodrat dasar manusia identik dengan prinsip tertinggi alam semesta, dan bahwa dengan itu dialah prinsip kodrat kebaikan murni, sementara kodrat sekunder manusia, yang tercipta oleh penggabungan prinsip dengan zat materil (ch’i) adalah tidak murni dan sumber kejahatan. Dalam teori ini, kodrat manusia menjelma dalam pribadi manusia dengan membangkitkan perasaan. Perasaan-perasaan yang bersumber pada nafsu-nafsu jasmaniah itulah yang melahirkan kejahatan, karena mereka menggelapkan kebaikan asli kodrat manusia yang dalam dirinya adalah kodrat jen.
Dengan membedakan antara prinsip sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri dan prinsip sebagaimana menjelma dalam dirinya sendiri dan prinsip sebagaimana menjelma dalam pribadi dan benda-benda, ia berkata: “Apa yang ada sebelum bentuk fisik adalah satu prinsip yang bersifat harmonis, tak terbedakan dan selalu baik. Namun apa yang ada sesudah bentuk fisik bersifat kacau dan campur baur, dan dengan itu dibedakan kebaikan dan kejahatan”. Pernyataan ini adalah kunci pemecahan terhadap persoalan bagaimana kehadiran kejahatan dapat didamaikan dengan kebaikan yang melekat dalam kodrat manusia. Distingsi yang dilakukannya ialah distingsi antara kebaikan prinsip dan zat meteriil yang melahirkan kejahatan.

Kejahatan Dalam Pandangan Paul Ricoeur

Dalam jilid pertama dari karya Ricoeur tentang Filsafat Kehendak, Ricoeur menggumuli tema kebebasan dan kodrat (Freedom and Nature).Ia menjelaskan tentang deskripsi murni dari eksistensi manusia, yakni struktur esensial dari kehendak manusia. Kehendak manusia dan unsur-unsur dalam eksitensinya tidak bergantung pada kehendaknya, sebab kehendak selalu beraksi dalam suatu lingkungan yang tidak dikendaki. Manusia selalu terbentur pada oposisi antara kebebasan dan keniscayaan, selalu ada hubungan timbal balik antara yang dikehendaki dan yang tidak dikehendaki. Dan yang tidak dikehendaki harus dimengerti dengan beritik tolak dari subyek, sebab unsur yang pertama ialah bahwa saya mengerti diri saya sebagai yang berkehendak. Dalam bagian kedua jilid ini, Ricoeur menjelaskan mengenai tema manusia yang dapat salah (Fallible Man). Manusia yang dapat salah memungkin munculnya kejahatan. Berkaitan dengan tema ini, pertanyaan yang muncul adalah: Bagaimana falibilitas itu menjadi mungkin? Ricoeur mengaitkan metode fenomenologi dengan metode transendental Kant dalam menjawab pertanyaan ini. Ricoeur menyimpulkan bahwa dasar untuk falibilitas itu terletak dalam usaha manusia untuk memperdamaikan keberhinggaan dan ketakberhinggaan, yang tak mungkin dapat diatasi. Ricoeur melihat bahwa eksistensi manusia itu tampak dalam hati sanubari manusia yang tidak pernah puas, selalu gelisah, selalu mencari obyek yang lebih baik dan lebih memuaskan. Terutama dalam hati manusia, kita menyaksikan terjadinya konflik antara kutub berhingga dan kutub tak berhingga. Ricoeur menyimpulkan bahwa posisi hati manusia yang tidak stabil tersebut memungkinkan kejahatan masuk dalam diri manusia.
Dalam bagian ketiga, Ricoeur membahas mengenai tema simbolisme kejahatan (The Simbolisme of Evil). Ricoeur menjelaskan situasi nyata manusia yang jatuh dan bersalah. Di sini Ricoeur menggunakan metode pendekatan hermeneutik, yang menuntut manusia untuk mengerti dirinya sendiri sebagai mediator dan diungkapkan melalui bahasa, simbol dan mitos. Ricoeur ingin mengkonkritkan bahwa manusia beragama sekalipun mengalami kejahatan atau lebih konkritnya bagaimana manusia itu mengakui kejahatan itu sendiri. Ricoeur juga menerangkan bahwa bagimana manusia mengalami kejahatan atau lebih tepat lagi bagaimana manusia ”mengakui” kejahatan. Ada 3 macam simbol dalam mengungkapkan pengalamannya tentang kejahatan, diantaranya:
1. Noda, adalah bahwa disitu kejahatan dihayati sebagai sesuatu ”pada dirinya” (in itself). Kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang merugikan yang datang dari luar dan dengan cara magis menimpa serta mencemarkan manusia. Kejahatan disini masih merupakan suatu kejadian obyektif. Jadi berbuat jahat berarti melanggar suatu orde atau tata susunan yang tetap harus dipertahankan perlu dipulihkan kembali
2. Dosa, manusia melakukan kejahatan ”dihadapan Tuhan”. Berbuat jahat tidak lagi berarti melanggar suatu tata susunan yang magis dan anonim, melainkan ketidaktaatan terhadap Tuhan yang telah mengadakan suatu perjanjian dengan manusia. Dosa merupakan ketidaksetiaan manusia terhadap Tuhan yang setia.
3. Kebersalahan (guilt), cara penghayatan tentang kejahatan ini berkembang di Israel sesudah pengasingan di Babilonia selesai. Pada waktu itu kejahatan ditemukan sebagai kebersalahan pribadi. Simbol-simbol yang digunakan untuk mengungkapkan kebersalahan ini adalah terutama ”beban” dan kesusahan” yang menkan dan memberatkan hati nurani manusia. Dalam konteks kebersalahan, kejahatan dihayati sebagai suatu penghianatan terhadap hakekat manusia yang sebenarnya, bukan seperti dosa sebagai suatu pemberontakan terhadap Tuhan. Kesempurnaan manusia tercapai dengan memenuhi peraturan-peraturan dan perintah-perintah Tuhan secara seksama, tetapi dengan melanggar peraturan-peraturan dan perintah-perintah itu manusia tidak bersalah terhadap Tuhan, melainkan terhadap diri manusia sendiri.
Setelah mengungkapkan simbol-simbol yang melambangkan kejahatan manusia, maka Ricoeur mengungkapkan mitos-mitos tentang kejahatan yang digunakannya untuk menerangkan dari mana asalnya kejahatan.

Titik Temu Antara Padangan Chu Hsi Dengan Pandangan Paul Ricoeur
Menurut Chu Hsi, Kodrat asli manusia pada dasarnya baik, tetapi kegagalan untuk mengontrol dan menenangkan perasaan atau emosi-emosi mengakibatkan kehancuran. Basis umum untuk semua kegiatan manusia adalah Cinta kasih yang meresapi segala-galanya. Cinta kasih universal berasal dari kodrat dasar manusia, karena ia menghadirkan kembali apa yang merupakan dasar bagi semua manusia. Kodrat manusia ini dibentuk juga oleh rasa sopan santun, kejujuran, kebenaran dan kebijaksanaan. Kodrat manusia menjadi rusak. Disebabkan oleh kenikmatan, kemarahan, kesedihan, kesukaan, cinta, benci, dan hasrat. “Ketika perasaan menjadi kuat dan bertambah garang tak terkendalikan, maka kodrat manusia menjadi rusak”.
Menurut Ricoeur, Kebebasan dan kodrat manusia tidak dapat dipahami secara langsung. Eksistensi manusia itu tampak dalam hati sanubari manusia yang tidak pernah puas, selalu gelisah, selalu mencari obyek yang lebih baik dan lebih memuaskan. Terutama dalam hati manusia, kita menyaksikan terjadinya konflik antara kutub berhingga dan kutub tak berhingga. Ricoeur menyimpulkan bahwa posisi hati manusia yang tidak stabil tersebut memungkinkan kejahatan masuk dalam diri manusia. Kejahatan terjadi ketika posisi hati manusia yang tidak stabil tersebut memungkinkan kejahatan masuk dalam diri manusia.
Dua hal diatas merupakan salah satu temuan penulis yang dipakai sebagai titik temu pandangan Chu Hsi dengan Ricoeur. Dalam pemahaman penulis, pandangan Chu Hsi mengenai kodrat manusia yang pada dasarnya adalah baik sebenarnya menjadi gambaran bahwa fenomena yang ada di luar diri manusia-lah yang membuat kodrat manusia tidak murni lagi. Hal ini bisa dikatakan sebagai kejahatan atau zat yang tidak murni. Dalam pandangan Ricoeur, Ia mengungkapkan bahwa karena ketidakstabilan manusialah yang menjadikan manusia masuk dalam apa itu yang disebut dengan kejahatan. Dua pandangan ini mungkin juga mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah murni. Yang membuat sesuatu itu jahat bukanlah diri manusia itu sendiri, melainkan unsur-unsur dari luar manusia lah yang membuat semua itu menjadi tidak murni lagi.
Cara pandang Chu Hsi dan Ricoeur dalam menanggapi fenomena yang terjadi merupakan sebuah gambaran bahwa melalui fenomena yang ada, kita dapat memahami gejala-gejala yang mungkin akan merusak kemurnian diri manusia. Fenomena-fenomena yang ada juga tidak bersifat solid, namun dapat diolah oleh diri manusia. Melalui simbol-simbol atau mitos, manusia dapat menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya, dan tercapailah hidup baik yang didambakan oleh manusia pada umumnya. Hidup baik yang didambakan tidak lain adalah kebaikan, dan jika manusia belum dapat mencapai pada hal itu, ia memerlukan sebuah kesadaran akan jati diri manusia yang pada dasarnya adalah murni. Melalui pandangan Ricoeur, manusia dapat mempelajari asal usul fenomena yang terjadi, yang mungkin tidak sesuai dengan hidup mereka.

Refleksi Kritis
Jati diri manusia pada dasarnya adalah murni atau dalam bahasa teologi, manusia tidak bernoda atau berdosa. Manusia juga jatuh dalam dosa karena faktor luar yang ada dalam kehidupan mereka. Hal senada juga terungkap dalam pemahaman harmoni agung yang membawa manusia pada kehidupan yang ideal. Jika ada salah satu hal yang tidak baik mulai merasuki manusia, maka manusia tersebut tidak akan merasakan sebuah keharmonisan dalam hidup. Unsur-unsur di luar diri manusia memang membuat manusia mudah sekali masuk dalam sisi yang kurang baik dalam kehidupan.
Pada dasarnya manusia memang adalah murni, tapi manusia juga dapat dikatakan lemah. Unsur yang murni dapat dengan mudah dipengaruhi unsur lain yang dapat membuat ia tidak murni lagi. Juga dalam pandangan lain, manusia itu lemah. Karena kelemahan inilah, manusia juga dapat salah (infallibilitas). Manusia memiliki keterbatasan dalam kehidupan ini, dan tentunya manusia perlu menyadari hal itu. Manusia memang memiliki angan-angan atau impian akan sebuah hal besar yang dapat ia lakukan dan itu diharapakan sebagai sumbangsing yang berguna bagi perkembangan hidup manusia. Akan tetapi jika manusia terbuai dengan keinginan dan angan-angan itu tanpa melihat kembali pada ketebatasan manusia, manusia akan jatuh pada kesalahan. Melalui inilah manusia jatuh dalam apa itu yang dimaksud dengan kejahatan.
Dalam refleksi penulis secara khusus, penulis melihat bahwa dalam diri manusia yang pada dasarnya murni dan untuk menjaga kemurnian diri manusia, manusia membutuhkan sebuah kesadaran akan jati diri manusia itu sendiri. Sadar akan jati diri manusia membuat manusia juga sadar bahwa apa yang tidak baik itu ada di dalam aspek kehidupan kita. Semuanya ada dan dapat mempengaruhi kita untuk berbuat tidak seperti yang kita inginkan. Idaman setiap manusia adalah untuk mendapatkan kehidupan yang penuh kedamaian, dimana tidak ada kejahatan atau bisa juga kita bahasakan dengan kata keharmonisan dalam hidup. Untuk mencapai itu, pemurnian diri manusia akan pengenalan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita menjadi sangat penting dan berarti.

DAFTAR PUSTAKA

M Koller, John. Filsafat Asia (terj, Donatus Sermada). Ledalero. Maumere: 2010.
Thomas Long, Eugene. Twenieth-Century Western Philosophy of Religion 1900-2000, Vol I. Kluwer Academic Publishers. London: 2000.
Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer-Prancis.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2006.
Bleicher, Josef. Hermeneutika Kontemporer.Fajar Pusataka baru. Yogyakarta: 2003.

From → coretan

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: