Skip to content

IMANENSI PRIMBON JAWA

11 May 2013

(Pertemuan Primbon Jawa dengan The Immanent Frame, dalam perspekif Charles Taylor)

Pengantar

Jika di negara Cina banyak orang mengenal Feng Shui, yaitu ilmu Cina kuno, di Indonesia, secara khusus bagi orang jawa mengenal primbon. Tidak terbatas hanya pada masa lalu saja, tapi pada zaman modern ini, orang Jawa masih meyakini makna primbon dalam kehidupan mereka. Tidak jarang ada salah pengertian antara primbon dengan ramalan yang ada di media massa, tapi ada beberapa hasil tafsiran dari primbon yang memang benar-benar sesuai dengan apa yang menjadi kebudayaan Jawa yang terjadi secara turun temurun, bahkan sampai saat ini pun ada penghayatan yang lebih dalam mengenai hal ini.


“Kekuatan diri diawali pada saat penemuan ide dari jiwa, tekanan moral, kekuatan yang kausal dengan bakat tertentu, mendekatkan pada sesuatu yang tidak dipahami.” Penulis ingin mendekatkan pemaknaan primbon pada penemuan jati diri manusia. Manusia jawa yang masuk dalam primbonisme mengenal lebih dekat apa yang menjadi kegalauan hidup mereka. Primbon merupakan sebuah kumpulan ilmu pengetahuan akan hidup manusia yang lengkap dan rinci, meski dilihat secara mistis.
Dalam hal ini, penulis mencoba mengulas pemahaman primbon dalam pengertian dan penghayatan manusia Jawa pada umumnya dengan mempertemukannya dengan pandangan Charles Taylor mengenai The Immanent Frame dalam buku A Secular Age. Penulis ingin membawa pembaca pada pengenalan akan sebuah penghayatan primbon yang mengarahkan manusia pada penemuan jati diri dan pemahaman akan Allah. Dalam pandangan Taylor pada The Immanent Frame, Taylor memiliki pandangan lain dalam menghayati penemuan jati diri yang dikaitkan dengan hubungan sosial manusia. Di sinilah sebuah pertemuan yang ingin diangkat oleh penulis dalam hubungannya dengan penemuan jati diri manusia jawa.

Primbon Jawa

Untuk dapat mengerti lebih dalam mengenai primbon, tentunya kita perlu mengenal arti kata primbon itu sendiri. Kata primbon sebenarnya terdiri dari dua kata dalam bahasa jawa, yakni: “bon” (mbon atau mpon) yang berarti induk, dan mendapat awalan kata “pri” (peri) yang berfungsi meluaskan kata dasar . Melalui kata ini, dapat kita artikan bahwa primbon sebenarnya adalah induk dari kehidupan masyarakat jawa. Dalam arti lain, primbon merupakan undang-undang atau kitab penganut ilmu jawa kuno, mulai dari watak, rizki, jodoh, mimpi, ilmu pengobatan, bahkan ramalan mengenai mati seseorang bisa diprediksi dengan perhitungan yang berpedoman pada pasal-pasal kitab primbon.
Kepercayaan terhadap primbon begitu kental dan mendarah daging hingga sampai saat ini, zaman modern. Semua ramalan kejadian dan peristiwa yang ada di primbon diciptakan agar para penganutnya lebih mawas diri, berhati-hati dalam mengambil langkah di setiap perjalanan hidupnya. Semua ini oleh para orang tua (khususnya masyarakat jawa) betul-betul diamalkan dan tidak bisa hilang begitu saja dari lubuk hati, biar sudah memeluk agama tertentu atau dilanda modernisasi.
Di sisi lain, primbon juga dapat diartikan sebagai gudang ilmu pengetahuan (pangawikan Jawa) yang memunculkan paham primbonisme . Corak kehidupan yang primbonis ini tergolong tradisional, dan karena hal inilah penganut paham ini dituduh kurang modernis. Primbon amat lengkap memuat berbagai hal mengenai persoalan hidup. Karena primbon termasuk kitab yang mengandung timbunan berbagai ilmu kejawen, kemungkinan primbon berasal dari leluhur, dari kitab-kitab suluk, kitab-kitab wirid, dan sastra ajaran yang lain. Bila dipilah-pilah, isi primbon berkaitan dengan masalah mistik kejawen. Artinya, kalau mau memandang mistik sebagai laku yang tidak sempit, akan memanfaatkan primbon sebagai pedoman ritual, karena berbagai aspek kehidupan orang Jawa itu serba kompleks.
Kehebatan orang Jawa membaca alam semesta melahirkan pranatamangsa yang sangat luhur. Pranatamangsa sampai sekarang masih banyak digunakan kaum tani di pedesaan. Mereka dengan cerdik tahu saat yang tepat bagi mereka untuk mulai menanam dan yang lebih dashyatnya lagi, mereka dapat menyiasati dan meminimalisir petakan yang mungkin akan menimpa ladang mereka. Petani di zaman modern ini mungkin tidak mau seratus persen menggunakan cara hitung Jawa ini, dan akibatnya beberapa waktu lalu, kita pernah terkena hama wereng besar-besaran.
Ada pun dalam pranatamangsa yang terlebur, kita akan mengenalnya dengan istilah bintang Anda atau horoskop. Dalam hal ini, kita dapat menemui horoskop di media masa yang biasa kita gunakan, seperti: koran, internet, televisi, atau media-media informasi lainnya. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa horoskop merupakan bagian dari primbon. Fenomena yang terjadi dewasa ini adalah pada saat horoskop itu berkata sesuai dengan keinginan atau terjadi sesuai dengan apa yang kita alami, kita merasa senang dan bangga, akan tetapi jika itu salah, tidak jarang kita malah mencaci maki horoskop karena itu seperti bualan saja. Hal seperti ini merupakan suatu penyelewengan dari primbon. Horoskop yang ada kemungkinan direkayasa untuk menyedot pembaca agar terkesan akrab, mistik. Seharusnya, horoskop yang benar-benar adalah bagian dari primbon ini adalah hasil dari sebuah ramalan dan tidak instant. Perlu proses untuk dapat membuahkan sebuah ramalan yang tepat. Kesan yang bisa kita lihat dari permasalahan ini adalah ramalan itu belum mampu menggapai atau menerangkan hal-hal yang kecil, mencakup semua gejala yang ada di alam semesta. Hasil-hasil dalam ramalan juga mungkin belum melalui kontemplasi atau laku mistik yang dalam. Dan mungkin hal ini menjadi samar karena bisa dipercaya atau bisa tidak dipercaya. Ramalah yang serupa dengan referensi hidup kita itu jarang ditemukan.
Pranatamangsa dan ramalan merupakan realitas kehidupan masyarakat Jawa dari dulu sampai sekarang. Kita tidak bisa menolak kenyataan yang memang terjadi, dan bagaimanapun juga, penulis sebagai orang jawa juga membenarkan bahwa ada realitas yang mungkin tidak berhubungan secara langsung, dalam arti ada hal yang diluar pemikiran logis yang juga kadang menjadi pergulatan dalam pemikiran kita di zaman modern ini. Dalam kacamata Taylorian, kemungkinan kita hidup dalam kosmos yang memikat dunia dan kita memang hidup diantara keduanya. Dalam arti lain, penulis ingin mengartikan bahwa pranatamangsa dan horoskop merupakan salah satu hal yang ada di luar dunia yang logis tapi hal itu menarik untuk dimengerti. Kita tahu bahwa realitas orang jawa yang menghidupi dan menjalankan pranatamangsa itu terlihat aneh, tapi ada sisi yang benar dalam perhitungan mereka dalam menentukan waktu tanam. Hal ini mungkin berbeda dengan sebuah ramalan yang ke-logis-annya masih dipertanyakan, dan mungkin tidak dapat ditemukan sisi logis-nya.
Bagian primbon yang lain yang dapat kita pahami bersama adalah wirid , mantra , dan aji-aji . Ketiganya mengandung pesan, sugesti, larangan yang menuju kesuatu titik mistik. Titik utamanya pada memayu hayuning bawana. Agar tercipta keindahan dan harmoni manusia Jawa dengan sesama, alam semesta, dan Tuhan. Wejangan sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang. Melalui wirid, manusia diajak untuk menuju pengalaman mistik yang tidak usang ditelan zaman. Dalam pemahaman menganai mantra, kita dapat memahaminya dalam ranah mistik. Hal ini dapat dipahami secara mistik karena mantra adalah sebuah kalimat yang bisa dikatakan unik dan biasa dipakai untuk dasar kasekten orang Jawa. Melalui mantra, orang Jawa lebih sakti jika diterapkan sebagai mana mestinya.
Aji-aji merupakan sebuah gambaran hidup supranatural orang jawa, yang jika diyakini akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Mungkin karena ini, sampai sekarang masih ada yang menggunakan, secara khusus untuk maksud-maksud yang menuju keuntungan. Penggunaan aji-aji sebenarnya membutuhkan beberapa pantangan, bahkan diperlukan sikap dan watak yang jujur. Jika pada saat menggunakan aji-aji tersebut penuh kesombongan, kemungkinan besar akan mendapatkan sebuah kegagalan. Dan anehnya ada sebagian orang Jawa yang memanfaatkan wirid, mantra, dan aji-aji dari sebuah primbon untuk tujuan yang tak mulia.
Sisi lain dari primbon yang juga menarik adalah Ngalamat, mimpi, dan pengobatan tradisional. Ngalamat biasanya berupa fenomena aneh di sekitar kita. Jika kejadian itu sudah menjadi tradisi, akan berubah sebagai gugon tuhon . Ini semua mungkin masih tergolong tanda-tanda yang dapat berlaku sampai sekarang. Ngalamat yang ditimbulkan dari gejala alam semesta itu logis. Hal ini masih dapat diterima dan dilihat dari segi etik, kultural, dan kesehatan. Akan tetapi hal ini dapat berarti simbolik seperti sebuah sugesti. Misalnya: agar wanita hamil, kalau tidur di bawah bantalnya diletakkan gunting. Untuk mengamati ngalamat, kita butuh ilmu titen (teliti), yang dapat tahu rahasia dibalik sasmita gaib. Biasanya dapat dibantu dengan orang yang berpengalaman.
Hal diatas berbeda dengan mimpi yang dalam bahasa jawa adalah impen. Impen memang lebih mengarah pada hal mistis. Impen bukanlah sekedar bayangan atau bunga tidur. Jika mimpi masih sebatas bayangan, kenangan, atau hanya sebagai bunga tidur, maka hal ini tidak memiliki arti apa-apa, dan bukan ngalamat. Mimpi yang benar-benar berupa ngalamat biasanya memiliki keganjilan tertentu dan bukan kebetulan.
Dalam Serat Centhini, ditampilkan ihwal ngalamat mimpi yang unik, yakni tentang ilmu pengobatan tradisional terhadap penyakit yang membahayakan, yaitu pengakit Raja Singa. Penyakit itu diderita oleh tokoh Ki Wirya akibat dari hubungan badan dengan Ni Asem Sore. Dalam mimpinya, ia disuruh oleh Jamal-Jamil untuk mengobati kemaluannya dengan jalan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan kuda betina dengan diolesi daun bunga sepatu dan bunga sedap malam yang telah dihaluskan. Kalau tidak demikian kepada perempuan yang telah menopause atau kepada perawan. Dari proses mimpi yang berhubungan dengan pengobatan tradisional tersebut, tampak bahwa orang Jawa memiliki daya tangkap terhadap gejala gaib yang luar biasa. Dengan cara-cara seperti itu, orang jawa semakin waspada terhadap berbagai kemungkinan peristiwa alam semesta.
Ilmu yang paling tertinggi yang masih menjadi bagian dari primbon jawa adalah ngelmu rasa. Ngelmu rasa atau ilmu Ketuhanan merupakan pencarian terus-menerus terhadap kegaiban Ruhan. Jika orang jawa mampu menemukan Tuhan, seakan dirinya sedang mencapai pencerahan batin. Hal ini dinyatakan oleh Jayengwesthi dengan menyitir perkataan para ahli wirid sebagai berikut:
Ujaring wong ahli wirid,
gegedhening raseki,
tan kaya rasane ngelmu,
tokite mangkonooa,
mutung-mutung marang ngelmi,
amal tama mrih metu mangunahira.
(Serat Centhini, V 350, 153 d-i)
Dalam tembang tersebut tampak bahwa ilmu tauhid merupakan keindahan tertinggi. Penemuan ilmu ini akan menyebabkan manusia lebih tenang hidupnya. Dengan menemukan ilmu ini, manusia jawa merasa memiliki keistimewaan dan mereka mendekatkan diri pada Tuhan. Ilmu kesempurnaan ini juga dapat disebut dengan ilmu kasepuhan, dimana ada empat laku batin yang menjadi pegangan hidup mereka, yakni syariat ,tarekat , hakikat , dan makrifat .

Dalam masyarakat sekarang, ilmu rasa sering dilakukan dengan cara menyepi atau bertapa. Dan dari kesemuanya ini, dapat ditarik sebuah kejelasan bahwa masyarakat Jawa, setidaknya sebelum mengenal ilmu pengetahuan, mereka hidup dengan landasan tugas hidup sebagai manusia sejati, dan pada saat kembali kepada Tuhan, mereka juga kembali sebagai manusia yang sejati juga. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan yang telah diuji oleh waktu dan situasi itu mereka terapkan dalam segala perilaku kehidupan. Meski sebenarnya apa yang mereka lakukan itu lebih bersandar pada budaya primbon yang telah turun temurun.
Pengenalan akan pemahaman tertinggi dari primbon tidak lain adalah kedekatan dengan Tuhan Allah. Hal ini memang tidak disinggung sebelumnya secara jelas, tapi arahan manusia Jawa tidak lain adalah bersatu dengan Allah. Primbon yang dikenal sebagai mistik, kini beralih pada sesuatu yang transenden. Hal ini mengalahkan pendapat para ilmuwan pada suatu teori tertinggi yang tidak dapat dipecah atau diurai lagi. Dengan kata lain, ditemukan teori yang bersih atau jernih, tanpa ada embel-embel yang lain selain hidup baik yang dilakukan. Hal itu terlepas dari sebutan atau pengenalan akan Allah.

Imanensi

Dalam buku A Secular Age, dalam bagian The Immanent Frame, Taylor mengajak kita untuk menyelami apa itu pencarian jati diri manusia. Imanensi yang dibahas oleh Taylor tidak serta merta menjelaskan langsung pada pembaca, akan tetapi ia memberikan beberapa penjelasan mengenai pemaknaan diri dari ‘dalam’ dan dari ‘luar’. Hal ini tidak melulu mengarah pada penemuan pribadi, dan bukan pada yang transenden. Taylor menggagas bagaimana hidup manusia yang baik pada umumnya.
Taylor memiliki pandangan mengenai pemahaman akan jati diri manusia dilihat dari sebuah kekecewaan. Kekecewaan memiliki banyak segi. Dalam hal ini, ia mengarahkan pemikirannya pada sisi “dalam” perubahan diri pribadi yang keropos, dimana hal ini terlihat jelas dalam pemikirannya, perasaan dan tujuan, semua bagian diri kita yang normal yang berasal dari alat, harus ada dalam pikiran, dan yang nyata dari sisi “luar” dunia. Penyangga diri berawal dari penemuan ide mengenai jiwa, kekuatan moral, kekuatan kausal dengan bakat yang terarah, yang dekat pada keraguan. Sebuah kebangkitan yang mendukung penemuan identitas telah ada bersama dalam sebuah kedalaman; yang tidak hanya ada di dalam atau diluar perbedaan, antara pikiran dan dunia seperti pembagian loci, yang berpusat pada kekuatannya sendiri; dan tidak hanya pada penyedia pemikiran dari luar atau dalam dalam ruang teori epistemologi dari jenis meditasi dari Descartes pada Rorty; tapi juga berkembang dalam kekayaan kosakata kedalaman, didalam dunia pemikiran dan perasaan yang bereksplorasi. Hidup manusia tidak lepas dari dunia dan alam semesta, dimana sebelumnya manusia berbicara sesuai kebutuhan yang dipengaruhi oleh jiwa yang tidak baik, dapaat juga manusia berpikir mengenal ketidaksadaran mental. Atau dengan kata lain menapatkan simbolisasi yang mewarnai dunia yang juga menjadi pemikiran Freud dalam kedalaman dari psyche; dan kira akan menemukan pergerakan natural dan meyakinkan, meskipun kita berpikir dalam teorinya yang rinci. Dalam hal ini penulis menemukan sebuah pemahaman bahwa dalam kehidupan manusia, ada perkembangan dalam pemahaman akan penemuan jati diri dan mengarahkan manusia tidak langsung pada hal-hal yang transenden, akan tetapi lebih pada hal yang berhubungan dengan kehidupan bersama dengan manusia lain atau yang biasa kita sebut dengan hubungan bermasyarakat.
Taylor juga menekankan sebuah kekuatan dari disiplin diri yang mengarah pada pembentukan hubungan sosial manusia dengan penilaian rasional sebagai kunci dari penilaian yang lain, dan waktu merupakan sebuah tantangan yang menutupinya. Penilaian yang dimaksud dalam hal ini diartikan oleh penulis sebagai nilai kehormatan atau status sosial yang ada dalam diri manusia. Hal itu dapat dicapai dengan adanya kehidupan bersama, dan bagaimana moralitas manusia menjadi tolok ukur penilaian terhadap seseorang. Hal ini juga tidak berhenti pada kehidupan bersama. Dalam pencarian akan nilai yang tertinggi, manusia juga mendapatkan penilaian tersendiri bila mereka memahami kedekatan mereka denganalam sekitar dan dapat menyesuaikan diri dalam peruabahan dnia dewasa ini.
Ada banyak teori yang menyinggung hal-hal yang paling mendasar, yakni pada sebuah penemuan akan yang tertinggi atau yang transenden. Bagi Taylor, teori mengenai yang transenden itu merupakan sebuah teori tertinggi, yang tidak dapat dipecah atau tidak dapat diuraikan lagi. Teori ini murni, tanpa ada atribut yang mengikuti selain sebuah kehidupan baik yang mengikuti. Hal yang transenden tidak diartikan sebagai Allah, melainkan pada pemahaman akan hidup dengan dunia secara murni. Tidak ada kejahatan, yang ada hanyalah kebaikan. Dalam hal inilah titik berat pandangan Taylor pada kesinambungan antara pemahaman akan diri pribadi dengan kehidupan pada umumnya, yakni sebuah hidup baik yang tidak diikuti dengan embel-embel lain.

Sebuah Pertemuan

Melihat hal diatas, melalui primbon, manusia jawa mulai memanfaatkan primbon bukan hanya untuk kepentingan diri pribadi mereka, melainkan lebih mengarah pada sisi sosial atau dalam hidup mereka bermasyarakat. Dalam fenomena wirid, mantra, dan aji-aji, tentunya manusia Jawa yang menggunakan ketiga hal ini ingin mendapatkan sebuah nilai yang lebih di mata masyarakat. Dengan menggunakan kekuatan supranatural, tentunya mereka mendapat sebuah kehormatan atau penilaian lebih diantara orang lain. Hal ini senada dengan istilah The Immanent frame yang disampaikan oleh Taylor. Dalam hal ini, Taylor menekankan sisi kekuatan dari disiplin diri yang mengarah pada pembentukan ruang sosial, dimana penilaian secara rasional adalah kunci dari sebuah penilaian, dan waktu adalah sebuah tantangan yang buruk. Dalam arti lain, manusia jawa demi mendapatkan sebuah penilaian yang lebih tinggi, ia berani memakai segala cara (walaupun itu terlihat kurang baik). Ini adalah sebuah dorongan pribadi dari manusia yang benar-benar manusiawi dan sarat dengan kebutuhan duniawi, yakni ingin dihormati sesama dalam masyarakat atau kehidupan sosial.
Realitas dalam ngalamat, mimpi, dan pengobatan tradisional oleh penulis dapat diartikan sebagai suatu perkembangan manusia jawa dalam memahami gejala-gejala yang ada di dalam alam semesta dan di dalam kehidupan mereka. Manusia jawa terlihat mulai mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Mana arti yang sesuai bagi mereka, dan mana yang kurang sesuai bagi kehidupan mereka selanjutnya. Dalam memahami ngalamat, mimpi, dan pengobatan tradisional dalam primbon dewasa ini, tentunya sudah sangat berbeda dengan zaman dulu. Sekarang lebih banyak orang yang berpendidikan dan bisa menempatkan diri pada sesuatu yang dapat dianggap benar dan dapat dianggap salah. Kita tentunya juga dapat menyinggung akan kekuatan Tuhan sebagai pencipta kita (saat ini), sehingga tidak serta merta dapat mempercayai salah satu bagian dari primbon ini. Hal ini senada dengan apa yang diutarakan dalam pertemuan antara kaum normalis dan realisme Aquinas mengenai kuasa Tuhan terhadap mana yang dapat dianggap benar dan yang mana yang dianggap tidak benar, dan tidak mengubah kodrat. Akan tetapi, bukan hal ini yang menjadi dasar pemikiran Taylor, melainkan pada pemahaman akan kedekatan dengan dunia, dan pengalaman kosmik, yang didominasi oleh para penduduk di masa sebelumnya, yang hanya dapat ditetapkan pada pemahaman kita akan dunia yang disesuaikan dengan sebuah perubahan.
Pengenalan akan pemahaman tertinggi dari primbon tidak lain adalah kedekatan dengan Tuhan Allah. Hal ini memang tidak disinggung sebelumnya secara jelas, tapi arahan manusia Jawa tidak lain adalah bersatu dengan Allah. Primbon yang dikenal sebagai mistik, kini beralih pada sesuatu yang transenden. Hal ini mengalahkan pendapat para ilmuwan pada suatu teori tertinggi yang tidak dapat dipecah atau diurai lagi. Dengan kata lain, ditemukan teori yang bersih atau jernih, tanpa ada embel-embel yang lain selain hidup baik yang dilakukan. Hal itu terlepas dari sebutan atau pengenalan akan Allah.
Memahami Primbon tidak serta merta kita diarahkan pada pemahaman akan mistik atau suatu pengetahuan mengenai klenik, akan tetapi lebih pada memahami kehidupan yang terjadi dalam masyarakat Jawa pada zaman dulu hingga sekarang. Tidak jarang di zaman ini masih terdapat praktek-praktek mengenai primbonisme, dan hal ini memang menjadi realitas yang tidak terelakkan. Disamping itu, pada zaman sekular sekarang ini, masyarakat Jawa sebenarnya sudah memiliki pendasaran yang jelas akan bagaimana hidup baik terlepas dari agama dan pengetahuan akan Tuhan. Melalui primbon, mereka sebenarnya sudah hidup secara sekular. Pada awalnya mereka hidup dengan diri mereka sendiri, kemudian hidup dalam masyarakat sehingga mereka membutuhkan penerimaan akan nilai atau tingkatan hidup mereka di masyarakat, dan pada akhirnya, mereka menjadi manusia sejati.

Penutup

Memahami primbon merupakan salah satu hal yang tidak mudah. Memahami primbon berarti memahami ilmu pengetahuan orang Jawa. Mengapa demikian, karena primbon tidak lain adalah gudang ilmu pengetahuan atau yang sudah disebutkan pada awal pemaparan ini adalah pawikan Jawa. Pemaparan singkat ini memang tidak mengangkat semua hal yang ada dalam primbon, tetapi hanya inti dari pemahaman akan primbon dalam kehidupan orang Jawa di zaman dulu sampai dengan zaman sekarang.
Pisau bedah yang digunakan untuk mencari kaitan antara primbon dengan kehidupan di zaman sekular dalam ranah Taylorian, penulis mendapat beberapa temuan yang sebelumnya belum didapatkan penulis dalam memahami primbon ini. Menurut penulis, memahami primbon itu sama dengan memahami kehidupan manusia pada umunya di tengah masyarakat. Primbon tidak mengarahkan manusia pada hal-hal buruk seperti magic atau mistik, melainkan pada hidup baik dengan sesama. Hal ini merupakan sebuah kesesuaian dalam pandangan Charles Taylor dalam The Immanent Frame. Pandangan Taylor tidak mengarahkan manusia pada hal-hal yang bersifat anti Tuhan atau anti agama, melainkan pada hidup baik di masyarakat.
Dalam perjalanan manusia pada umumnya, manusia mengenal diri, kemudian berelasi dengan sesama, dan berusaha hidup dalam kedamaian. Jika dalam primbon, ilmu tertinggi adalah pengetahuan akan Tuhan, yang tidak lain adalah menjadi orang yang baik di mata masyarakat dan di hadapan Tuhan, Taylor meski tidak menyebut secara langsung akan Tuhan juga mengarahkan hidup manusia pada kehidupan yang baik.
Buku A Secular Age karangan Charles Taylor yang digunakan sebagai dasar untuk memahami primbon ini merupakan sebuah buku yang membuka wawasan manusia pada pemahaman akan konsep hidup yang ideal, yang tidak dipengaruhi oleh teori-teori yang berat, malahan mempertemukan teori-teori yang mungkin sulit untuk dijelaskan, kini menjadi jelas. Pemahaman akan Primbon pun juga lebih terasa mudah dipahami, dan dapat disesuaikan dengan kehidupan pada masa kini. Hidup ini adalah baik adanya, dan seharusnya memang dilalui dengan berbuat baik.

Pustaka

Taylor, Charles. A Secular Age. The Belknap Press of Harvard University Press. Cambridge, Massachusetts, and London, England: 2007.
Endraswara, Suwardi. Falsafah Hidup Jawa. Cakrawala. Jakarta: 2012.
http://iwanmuljono.blogspot.com/2011/12/gugon-tuhon.html
http://m.kompasiana.com/post/filsafat/2011/08/07/primbon-dan-segala-jenis-pemikirannya/
http://www.primbonjodoh.net/2012/04/makna-primbon-jawa.html

From → my poem

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: