Skip to content

Inisisasi Kristiani

11 May 2013

1.  Pengertian Inisiasiaa

Kata “inisiasi” berasal dari bahasa Latin in + ire (masuk ke dalam, memulai), initiare (memasukkan ke dalam; initium = awal). Inisiasi adalah upacara-upacara simbolik yang menyertai proses seseorang yang dimasukkan atau di-inkorporasi-kan ke dalam (diterima menjadi anggota) kelompok baru, dengan segala hak dan kewajibannya. Gejala inisiasi merupakan suatu gejala sosio-antropologis yang tersebar luas dalam masyarakat. Hampir semua kelompok sosial mengembangkan dan memiliki suatu upacara untuk secara resmi memasukkan orang menjadi anggota. Contoh; posma, pesta usia sweet-seventeen, dll.

Inisiasi dilakukan dengan pembaptisan dalam atau dengan air. Kata “baptis” berasal dari Yunani baptein, baptizein. Kedua kata itu aslinya dalam masyarakat Yunani berarti membenamkan, mencemplungkan (mencelupkan) ke dalam air, seluruhnya atau sebagian. Kedua kata kerja itu jarang sekali diartikan “mandi” “membasuh”. Dalam perkembangannya, PB tetap menggunakan kata baptein dalam arti aslinya, yaitu “mencelup”. Di lain pihak, hanya kata kerja baptizein atau kata benda baptisma digunakan secara eksekutif dalam ibadat. Arti ritual yang luas adalah membasuh, mentahirkan (memurnikan), [wudhu dalam tradisi Islam], khsususnya dalam tradisi PL (LXX) dan Yahudi. Sedangkan dalam arti teknis ialah “membaptis” atau “mempermandikan” seperti pengertian kita sekarang.

2.  Simbolik Upacara Inisiasi Kristiani

Praksis inisiasi Kristiani dalam Gereja awali, nampaknya dilakukan dengan cara membenamkan orang ke dalam air (immersio), menuangkan air ke atas kepala (infusio) dan memerciki (aspersio) orang dengan air.

Di lain pihak, PB sendiri tidak pernah memberikan rincian yang jelas tentang upacara pembaptisan. Jadi, tidak ada kepastian tentang bagaimana simbolik upacara inisiasi dilakukan. Gagasa utama yang menonjol dalam inisiasi ialah “lahir kembali”. Dari istilah “lahir kembali” tidak bisa disimpulkan tentang tata cara bagaimana orang dibaptis.

Kelahiran kembali lebih dikaitkan dengan pengertian “air hidup” yaitu air alamiah (air yang mengalir) sebagai sumber kehidupan, asal segala sesuatu, mirip rahim yang melahirkan anak. Air mempunyai dua fungsi, yaitu pertama, membersihkan (yang jahat) dan kedua memberi hidup dan kesuburan. Makna air inilah yang hendak disimbolkan dalam upacara inisiasi. Dengan demikian, tata simbolik upacara penggunaan air itu tidak terikat pada salah satu bentuk, artinya pembenaman (immersio), bisa perecikan (aspersio) dan bisa pula penuangan (infusio). Bukan “tata pelaksanaan” yang melahirkan kembali, tetapi penggunaan “air hidup” itulah yang merupakan simbolik upacara kelahiran kembali (membersihkan dan memberi hidup).

3.  Asal-usul Praksis Inisiasi Kristiani

Jika tidak ada dasar biblis yang bisa dipastikan berasal dari Yesus sendiri, dari manakah berasal inisiasi Kristiani? Para ahli menyatakan bahwa inisiasi Kristiani bukanlah hasil pengaruh Hellenis, atau upacara pemurnian, atau baptis dari kaum proselit. Kalau demikian, apakah mungkin bahwa praksis membaptis berasal dari praksis Yesus historis sendiri? Injil Yohanes mengatakan bahwa Yesus sendiri tidak pernah membaptis. Praksis pembaptisan bisa dipastikan sudah ada ketika Yesus masih bersama para murid-Nya, meskipun tidak ditemukan perintah eksplisit yang berasal dari Yesus. Kita bisa mengandaikan bahwa praksis pembaptisan itu sesuai dengan kehendak Yesus.

Jika praksis pembaptisan itu sesuai dengan kehendak Yesus, dari mana berasal isi praksis itu? Pertanyaan ini menjadi sangat mendesak karena adanya persamaan-persamaan antara inisiasi Kristiani dengan inisiasi Yohanes dan inisiasi komunitas Qumran. Apa kaitan antara ketiga inisiasi ini?

Praksis inisiasi dengan pembaptiasn (immersio atau infusio) berbeda dengan pembasuhan ritual yang biasa diadakan pada waktu itu. Pembasuhan ini dilakukan berulang-ulang seperti ditetapkan Hukum Taurat. Dalam Jemaat Qumran, ada praksis pembasuhan ritual yang merupakan upacara inisiasi. Baptisan Kristiani sebagai inisiasi sangat mirip dengan upacara ini. Kemiripan ini bisa dijelaskan, yaitu berasal dari Yohanes Pembaptis dan jemaatnya, karena Yohanes Pembaptis kemungkinan berasal dari jemaat Qumran ini. Menurut kesaksian PB, ada sejumlah murid Yohanes yang kemudian menjadi murid Yesus. Dari murid yang pindah inilah jemaat Kristiani melanjutkan Baptis yang diberitakan Yohanes, tetapi tidak secara langsung berkaitan dengan baptis jemaat di Qumran.

Dibandingkan upacara pembasuhan (pemurnian ritual) memang pembaptisan Yohanes berbeda sama sekali. (1) Yohanes menyuarakan kembali seruan para nabi yang menuntut pertobatan hati untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan. Pembaptisan merupakan ungkapan silih untuk pertobatan hati. (2) Dengan dibaptis, orang juga menerima pengampunan dosa. (3) Lebih lagi, pembaptisan Yohanes mewartakan datangnya pembaptisan yang lain, yaitu pembaptisan dalam ”Roh Kudus dan api” yang akan diberikan oleh Yesus Kristus.

Melihat konsep pembaptisan Yohanes, ada persamaan sekaligus ada juga perbedaan antara inisiasi Kristiani dan inisiasi Yohanes. Persamaannya: 1). Seruan pertobatan dan 2). Pemberian pengampunan dosa. Sedangkan perberdaannya adalah terletak pada arti teologis yang mendasar antara keduanya, yaitu pewartaan anugerah Roh Kudus pada pembaptisan Yohanes dan pemberian anugerah Roh Kudus pada pembaptisan Kristiani. Perbedaan ini bisa dirinci lebih lanjut. Pertama, inisiasi Yohanes (Baptis) merupakan antisipasi jemaat eskatologis, sedangkan inisiasi Kristiani memasukkan ke dalam kenyataan jemaat eskatologis. Kedua, dalam inisiasi Yohanes anugerah Roh Kudus baru dijanjikan, sedangkan dalam inisiasi Kristiani anugerah Roh Kudus sudah diberikan. Roh Kudus merupakan karunia khas di jaman akhir. Orang Kristiani tidak hanya dibaptis dengan air tetapi serentak dengan Roh Kudus.

Inisiasi Kristiani pada akhirnya melanjutkan sekaligus melampaui inisiasi Yohanes. Hubungan keduanya seperti hubungan persiapan dan pemenuhan. Maka bisa dikatakan bahwa inisiasi Kristiani adalah pemenuhan dari inisiasi Yohanes yang menjanjikan karunia tersebut.

Jadi, sulit menetapkan hubungan historis antara inisiasi Kristiani dengan Yesus, akan tetapi bisa dipastikan adanya hubungan teoligis.

4.  Praksis Inisiasi pada Jemaat Awali

Inisiasi Kristiani pada jemaat awali umumnya mengambil bentuk sbb; pemebritaan Injil, tanggapan dalam bentuk pertobatan, akhirnya pembaptisan pada orang yang bersangkutan dalam atau dengan air. Rumusan yang digunakan pada umumnya ialah rumusan kristologis, yaitu dibaptis dalam nama Yesus Kristus, Tuhan (Kis 2:23; 8:16). ”Nama” Tuhan Yesus menunjukkan daya kekuatan dan penyelamatan dari Yesus Kristus.

Inisiasi bisa diperkiraan terdiri dari dua tahap seperti nampak pada Kis 8:12-17 dan Kis 19:1-7. Dalam perikop-perikop ini digambarkan adanya pembaptisan dengan air dan disusul dengan penumpangan tangan agar orang-orang itu menerima Roh Kudus. Memang ada perikop yang menyatakan bahwa mereka sudah menerima Roh Kudus, sebelum dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.

Dalam teks-teks PB, tidak ada teks yang menunjukkan kaitan antara inisiasi Kristiani (Baptis dan penumpangan tangan) dengan perjamuan Tuhan atau Ekaristi. Praksis ini bisa ditemukan sejak abad II masehi, sesudah jaman para Rasul.

Inisiasi Kristiani menekankan dua dimensi penting, yaitu dimensi vertikal yaitu penyatuan (inkorporasi) dengan Kristus, dan dimensi horizontal, yaitu penggabungan ke dalam jemaat. Paulus memandang lebih penting pemberitaan Injil yang ditanggapi dengan iman (1 Kor 1:14-17) dan disertai dengan karunia Roh Kudus dari pada pembaptisan itu sendiri.

Arti kebangkitan dalam inisiasi dijelaskan oleh Paulus sebagai ”mengenakan manusia baru” yang dicapai dengan mati terhadap ”manusia lama”. Peng-inkorporasi-an (penyatu-ragaan) pada Kristus digambarkan oleh Paulus sebagai ”mengenakan” Kristus. Paulus mengartikan ”mengenakan” Kristus ini bukan sekadar seperti pakaian yang menutup bagian tubuh luar, tetapi dalam arti integral, artinya penyesuaian diri dengan pikiran, perasaan Kristus dan seluruh pribadi Kristus. Singkatnya, ”mengenakan” Kristus berarti menjadi sama seperti Kristus, yaitu hidup dalam Roh. Gagasan inkorporasi pada Yesus secara lengkap inilah yang mendasarkan penyatuan tiga sakramen sebagai sakramen inisiasi (Baptis, Krisma dan Ekaristi).

5.  Perkembangan Inisiasi Kristiani setelah Jemaat Para Rasul

Upacara inisiasi mengalami perkembangan melalui penambahan upacara-upacara lainnya. Demikian juga tiap-tiap bagian juga diperjelas dan dipertegas. Yustinus (+165) menulis (Apologia 1, 61-65) bahwa sebelum dibaptis orang mengikuti pelajaran agama dan moral, berdoa dan berpuasa. Seluruh jemaat juga ikut berdoa dan berpuasa. Kemudian para calon ”dilahirkan kembali” dengan permandian (loutron) dalam air, dihapuskan dosa-dosanya dan mendapat pencerahan.

Tertullianus (+223) menyusun sebuah karya lengkap tentang pembaptisan (yang pertama sejauh diketahui, De Baptismo). Menurut Tertullianus, sebelum dibaptis seorang harus mengikuti masa katekumenat. Ia mengungkapkan beberapa upacara tambahan, misalnya pemberkatan air baptis, pengolesan sekujur tubuh dari calon baptis dengan minyak, tiga kali pembenaman ke air, dan penumpangan tangan oleh Uskup disertai suatu berkat yang memanggil Roh Kudus. Dia melihat Baptis dalam kerangka sejarah keselamatan, yang menjelaskan simbolisme air dan menjelaskan makna ritusnya. Tertullianus juga mengembangkan metodologi katekis patristik yang menjelaskan ajaran iman bertitik-tolak dari ritusnya. Di Afrika Utara ada berbagai uapcara ditambahkan pada upacara pokok, misalnya penyangkalan iblis, pengolesan dengan minyak, penandaan, dan penumpangan tangan.

Karya besar yang mendasar untuk teologi dan liturgi Baptis adalah Tradisi Apostolik dari Hippolityus dari Roma (ditulis sekitar tahun 215-220). Karya ini menuliskan baik persiapan calon maupun perayaan Baptis itu sendiri. Inisiasi meriah dilakukan setelah masa ketekumenat tiga tahun. Dalam tata upacara Hippolityus ini (+235), seorang imam di jemaat Roma, dicatat unsur-unsur berikut:

  1. Si calon menyangkal iblis.
  2. Setelah menanggalkan pakaiannya, seluruh tubuh si calon diolesi dengan minyak yang sudah diberkati dahulu. Pengolesan itu merupakan suatu pengusiran iblis secara meriah.
  3. Tiga kali si calon terbenam dalam air yang sudah diberkati lebih dahulu disertai pengakuan iman berupa tanya jawab tiga kali.
  4. Baptisan baru dioles sekujur tubuh dengan minyak (yang sudah diberkati) oleh imam dan dilakukan di tempat khusus di luar gereja. Sampai upacara ini, imam-lah yang memimpin upacara.
  5. Para baptisan baru diantar masuk ruang gereja dan uskup merentangkan kedua tangannya ke atas mereka semua sekaligus disertai doa.
  6. Uskup mencurahkan minyak khusus (krisma) yang sudah diberkati ke atas kepala masing-masing baptisan baru disertai doa.
  7. Uskup menandai dahi tiap-tiap baptisan baru dengan tanda Tau/salib tanpa disertai doa.
  8. Pelukan damai disertai ucapan ”Tuhan sertamu”.

Pada upacar ini nampak jelas pembedaan antara upacara yang dipimpin oleh imam dan upacara yang dipimpin oleh Uskup. Bagian akhir dari upacara inisiasi ini menjadi wewenang khsusus Uskup saja.

Ada perkembangan penting dalam hal ini, yaitu bahwa Agutinus membedakan antara ”sakramen yang sah” tapi ”tidak berbuah” dan ”sakramen yang sah dan berbuah”. Agustinus menekankan objektivitas sakramen yang tidak bergantung pada orang yang menerimakannya. Ini nampak jelas dalam teologinya tentang pembaptisan anak-anak ketika melawan Pelagianisme. Praksis pembaptisan anak-anak sudah ada sejak abad II. Pelagianisme menyangkal penyebaran dosa asal dan menyangkal perlunya rahmat serta berpendapat bahwa tidak perlu membaptis anak-anak. Pandangan Agustinus diterima dan berkembang menjadi pandangan Gereja tentang pembaptisan anak-anak.

 

6.  Teologi Inisiasi Kristiani Masa Kini

Identitas Kristiani. Dalam pandangan Gereja Katolik Roma, mereka yang dibenarkan dalam pembaptisan berkat iman (tidak dikatakan: pengakuan iman Gereja Katolik Roma), dijadikan anggota tubuh Kristus. Karena itu, mereka yang menerima pembaptisan secara sah dalam Gereja-gereja lain dipandang oleh anak-anak Gereja Katolik Roma sebagai saudara (UR 3). Maka pembaptisan merupakan ikatan sakramental yang mempersatukan dan yang berdayaguna di antara mereka semua yang olehnya dilahirkan kembali (UR 22). Maka Baptisan sebagai inisiasi ke kekristenan menjadi semacam identitas kristiani dari semacam ”suku bangsa” dari berbagai marga.

Kristus sebagai dasar inisiasi hadir secara nyata pada Ekaristi. Setiap sakramen menonjolkan salah satu segi atau aspek penyelamatan yang diefektifkan oleh Yesus Kristus, atau daya kekuatan Kristus sedangkan sakramen Ekaristi menghadirkan Yesus Kristus menurut hakekatnya (substantialiter). Karena itu semua sakramen terarah kepada Ekaristi sebagai tujuannya. KV II masih juga mengulang pendekatan Thomas dan meyebutkan Ekaristi sebagai ”sumber dan puncak” seluruh kehidupan Kristiani. Sakramen inisiasi memperlihatkan bahwa karya penyelamatan dihadirkan secara penuh dalam perayaan Ekaristi atau perjamuan Tuhan.

Jemaat sebagai pelaku utama inisaiasi. Pelaku inisiasi Kristiani pertama-tama ialah jemaat, yang bertindak sebagai Jemaat Yesus Kristus atau Tubuh Mistik Kristus. Kristus-lah yang secara teologis menjadi dasar dari pembaptisan dan memberi makna pada tindakan sosial-inisiasi, akan tetapi jemaat Kristiani sebagai lembaga sosial yang menginisiasikan. Kedua unsur itu, yaitu karya Allah dan tindakan manusia, bersatu secara tak terpisahkan tetapi juga tidak tercampur. KV II menegaskan bahwa Kristus sendirilah yang membaptis (SC 7), meskipun secara material dan ritual, jemaat-lah yang membaptis melalui orang yang diberi wewenang. Dalam perayaan Ekaristi nampak bahwa pelaku sakramen ialah jemaat secara keseluruhan, dan bukannya jemaat sebagai perseorangan.

Pelayan sakramen. Jemaat-lah yang mempunyai wewenang menjadi pelaku utama yang kelihatan dari upacara inisiasi, tetapi jemaat bertindak melalui orang tertentu yang diberi otoritasi oleh jemaat. Maka adalah wewenang jemaat untuk menentukan siapa yang diberi otorisasi untuk melakukannya (dalam Gereja Katolik Roma, untuk situasi normal; diakon, imam dan Uskup). Petugas itu harus bertindak sesuai dengan intensi jemaat (intentio faciendi quod facit ecclesia). Dalam situasi darurat atau bahaya mati, Gereja memberi wewenang pada semua orang untuk atas nama jemaat memasukkan orang ke dalam jemaat Kristus.

Ungkapan iman. Karena inisiasi (juga setiap sakramen) adalah tindakan penyelamatan jemaat sebagai dimensi kelihatan dari tindakan Kristus, maka inisiasi adalah juga ungkapan iman-kepercayaan jemaat itu. Demikian juga, upacara inisiasi menjadi ibadat jemaat yang mengenangkan karya penyelamatan Allah, dahulu, kini dan nanti, serta yang memuji Allah (gerakan dari bawah ke atas).

Inisiasi sebagai tanda perjanjian. Dalam sakramen inisiasi bisa dilihat adanya dua gerakan, yaitu gerak ”dari atas ke bawah” dan gerak ”dari bawah ke atas”. Dua gerakan ini menunjukkan makna inisiasi sebagai suatu ”perjanjian”, tetapi bukan antara dua pihak yang setingkat melainkan antara Alah dan manusia. PB menunjukkan gagasan ”perjanjian” ini dengan menyebut pembaptisan sebagai ”sunat” (Kol 2:11; Flp 3:3). Sejalan dengan sunat, sakramen Baptis menjadi tanda, meterai dan cap PB yang diikat Allah dengan umat manusia.

Simbol rangkap dua dari air. Air digunakan sebagai tanda simbolik dari inisiasi. Air adalah funsi unsur paling azali. Air mempunyai fungsi ganda, yaitu fungsi simbolik destruktif (negatif) dan fungsi simbolik konstruktif (positif). Fungsi negatif air adalah menghancurkan, menghapuskan, sedangkan fungsi positif air ialah memberi hidup dan kesuburan. Roh juga dilambangkan dengan air kehidupan. Kedua arti ini disimbolkan oleh air dalam upacara inisiasi. Dalam upacara inisiasi (pembaptisan) orang dibersihkan dari segala dosa, termasuk dosa asal, dan dianugerahi kehidupan baru dalam Kristus.

Daya kekuatan Yesus Kristus Tuhan. ”Nama” berarti daya kekuatan atau daya penyelamatan. Dibaptis dalam nama Tuhan Yesus berarti dibaptis dalam daya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus yang dibangkitkan. Kata depan yang digunkan (kepada ”epi, dalam ”en”, menuju ”eis”) mempunyai arti yang hampir sama dalam pemakaian PB. Daya kekuatan Kristus itulah yang menghapuskan dosa dan memberikan kehidupan baru. Daya kekuatan itu tidak lain adalah Roh Kudus yang diberikan melalui Yesus yang adalah Anak Allah, Bapa.

Meterai Baptis. Buah pertama dan paling fundamental dari pembaptisan (yaitu inkorporasi pada Yesus Kristus) ialah meterai rohani yang tak terhapuskan. ”Meterai” Baptis ini menjadikan orang ”milik Kristus” secara tetap. Meterai ini menandakan kesetiaan Allah yang tetap mau menyelamatkan orang konkret dan individual ini, apapun yang terjadi. Meterai ini juga menandakan hubungan objektif, pra-subjektif dan rill dengan Kristus, Penyelamat dari Allah. Meterai adalah suatu partisipasi ontologis pada Kristus.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: