Skip to content

Sakramen Baptis

11 May 2013

1. Dasar Biblisab

Injil Sinoptik. Ada dua ucapan Yesus yang merujuk secara eksplisit ke pembaptisan, namun demikian keduanya tidak berasal dari Yesus sendiri, tetapi merupakan hasil tahap perkembangan yang kemudian. Matius 28:19 jelas merupakan pengaruh liturgi saat itu, dan Markus 16:16 berasal dari abad ke II yang menandai akhir Injil Markus. Berdasarkan data PB yang ada, sulit menentukan bahwa secara historis Yesus menetapkan pembaptisan, meskipun secara teologis makna Baptis jelas berasal dari Yesus.

Rasul Yohanes. Baptis dipandang sebagai kelahiran ilahi dalam Injil keempat (Yoh 3:3-10) dan dalam surat pertama Yohanes (1 Yoh 2:29-3:9). Titik tolak Yohanes bukanlah pembaptisan yang diberikan oleh Yohanes Pembaptis, tetapi anugerah Roh Kudus yang diberikan kepada Gereja. Anugerah itu adalah buah dari wafat dan pemuliaan Kristus. Penenggelaman dalan Roh Kudus itulah yang menyelamatkan mereka yang percaya. Melalui sakaramen Baptis, diwujudkanlah dalam diri baptisan perjalanan rohani dari inkarnasi sampai penyaliban dan pemuliaan Yesus. Baptis sebagai kelahiran kembali nampak dalam pembicaraan Yesus dengan Nikodemus (Yoh 3:1-21), dan kelahiran kembali itu berasal ”dari atas” dari Roh. Dari penelitian para ekseget, bisa dibuktikan bahwa kata-kata ”air dan” pada Yoh 3:5 adalah tidak asli atau tambahan yang dilakukan oleh redaksi Injil Yohanes pada akhir penulisan. Dalam surat-surat Paulus gagasan Baptis sebagai ”kelahiran kembali” hanya ditemukan dalam Titus 3:5, sedangkan dari surat-surat pastoral hanya dalam surat pertama Petrus. Dari sumber-sumber inilah bisa ditarik gagasan tentang katekese primitif. Dari Yoh 3:22 kita bisa menyimpulkan bahwa para murid Yesus sudah melakukan pembaptisan juga pada masa hidup Yesus. Ini berarti bahwa sudah semasa hidup Yesus, pembaptisan sebagai kelahiran kembali dilihat sebagai upacara inisiasi.

Kisah Para Rasul membedakan antara pembaptisan air dan pembaptisan Roh; bahkan pembaptisan Roh mendahului pembaptisan air (Kis 10:47;11:16). Jarak antara keduanya dalam Kis 8:12-17 digunakan kemudian sebagai argumen biblis untuk pemisahan sakramen Krisma dan Baptis. Baptis diberikan ”dalam (ke dalam) nama Yesus”. Sesuai dengan teologi nama-nama dalam PB dan khususnya dalam Kis, titik yang menentukan dalam proses ini ialah bahwa sesuatu dilakukan dalam nama Yesus, artinya dalam kekuatan Yesus pengampunan dosa dan keselamatan terjadi. ”Dalam nama Yesus” merujuk pada peristiwa keselamatan dalam Yesus yang dirangkum dalam bentuknya yang paling ringkas dan padat.

Paulus merefleksikan Baptis dengan kerangka utama misteri sengsara, wafat, pemakaman dan kebangkitan Yesus Kristus. Baptis dilihat sebagai kelahiran kembali, penciptaan baru, pembaharuan hidup, pencerahan, pemurnian, pengudusan, dll. Pada dasarnya bagi Paulus, Baptis adalah peristiwa iman yang ditandai oleh unsur hakiki yaitu; seseorang disatukan (inkorporasikan) secara rill dengan misteri peristiwa Yesus, dalam misteri sengsara, wafat, pemakaman dan kebangkitan Yesus. Inkorporasi rill pada Yesus Kristus ini berarti persatuan nyata (bukan hanya secara rohani atau moral) dengan Kristus dalam seluruh tujuan hidupnya-hidup, penyaliban, pemakaman dan pembangkitan Yesus (Rom 6:4-8)-yang melampaui ruang dan waktu dan sangat menentukan dalam hidup Kristiani. Penyatuan ini berarti juga di-konformasi-kan, diserupakan, dengan wafat dan kebangkitan Kristus.

Bagi Paulus, ada perbedaan gradasi dalam hal persatuan dengan Kristus. Pertama; persatuan dengan Kristus sebagai anggota umat manusia karena peristiwa Kalvari. Paulus melihat bahwa peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus Kristus mempunyai dampak pada semua manusia, bukan pertama-tama dengan mereka yang percaya dan dibaptis.

Kedua, persatuan dengan Kristus karena iman. Persatuan dengan Kristus secara subjektif mulai terjadi ketika baptisan itu mulai mengimani Yesus Kristus. Paulus bisa berkata bahwa ”kita” telah mati di salib bersama Yesus Kristus bahkan sebelum pembaptisan. Dalam iman yang sama, orang disatukan dengan kebangkitan Kristus, artinya orang tersebut bangkit bersama Kristus, dan menandai awal hidup baru dalam diri orang tersebut. Persatuan dalam iman inilah yang kemudian diwujudkan dengan tindakan simbolis dan praksis orang-orang Kristiani.

Ketiga, persatuan dengan Kristus karena Baptis. Dalam peristiwa ini, Baptis mewakili suatu waktu tertentu dalam kematian Yesus, yaitu kesatuan dengan pemakaman Yesus, artinya baptisan sungguh-sungguh dikuburkan bersama Yesus (seperti direfleksikan dalam Kol 2:11-12). Dimakamkan berarti bahwa melalui sakramen Baptis, orang sudah mati di salib bersama Kristus lama sebelum upacara pembaptisan tersebut. Paulus tidak mempertentangkan iman dan Baptis. Pembaptisan didahului oleh tindakan mengimani Yesus Kristus (keselamatan karena iman). Sakramen Baptis menyatakan secara publik bahwa orang itu dikuburkan bersama Kristus dan ingin tetap mempertahankan bersama Dia dalam hidup baru. Dengan kata lain, iman orang itulah yang menjadi isi dari tindakan simbolis sakramen Baptis. Dalam arti ini, Baptis menjadi ungkapan yang kelihatan dari kenyataan bahwa kekuasaan dosa sudah dihancurkan dan dunia didamaikan dengan Allah, sebelum pertobatan individual dalam iman.

Surat Petrus (1 Ptr 3:19-21) menggambarkan Baptis sebagai tanda keselamatan melalui air, mitra bahtera Nuh dalam banjir. Teks ini menambahkan penjelasan bahwa Baptis bertindak ”bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah-oleh kebangkitan Yesus Kristus (ay.21). Penjelasan ini mengeksplisitkan permohonan kepada Allah dalam Baptis, yang dalam formula ”dalam nama Tuhan Yesus” permohonan itu hanya tersirat saja. Permohonan ini berarti meminta hadirnya Yesus, kebangkitan dan pemerintahan-Nya atas langit dan bumi. Penghadiran ini melampaui ruang dan waktu dan karena itu bersifat rohani (pneumatis).

Rangkuman. Uraian tentang inisiasi pada PB menunjukkan empat butir data teologi sakramen Baptis, yaitu:[1] Baptis mengungkapkan pertobatan sempurna dan memberikan pengampunan dosa. Pertobatan ini meliputi penyangkalan penuh akan hidup sebelumnya, sekurang-kurangnya dosa-dosa, dan pengakuan Yesus sebagai Mesias. Baptis mengandaikan adanya pewartaan Sabda dan penerimaan Sabda itu. Keselamatan diawali dengan penghapusan dosa, yang merupakan tindakan eskatologis pertama dari Allah yang membawa ke kehidupan abadi. [2] Baptis dilakukan dalam nama Tuhan Yesus Kristus, sebab Dia-lah pengantara tunggal. [3] Baptis merupakan kesempatan, tetapi juga adalah sebab dan sarana pencurahan Roh. Anugerah diberikan biasanya hanya kepada mereka yang menerima Baptis. Kis mencatat adanya pencurahan Roh Kudus yang mendahului Baptis. [4] Akhirnya, Baptis menandai dan mengefektifkan peng-inkorporasi-an ke dalam komunitas keselamatan, Gereja, yang melalui Baptis, tumbuh secara kelihatan.

2.Makna Sakramen Baptis

2.1. Makna individual kristologi

Makna fundamental. Penelurusan data PB di atas menunjukkan bahwa Baptis pertama-tama berarti penyaturagaan (inkorporasi) secara rill dan publik seseorang pada seluruh hidup Yesus-sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Iman dan Baptis menyatukan secara mistis baptisan dengan seluruh pribadi Yesus Kristus. Inilah makna fundamental pertama sakramen Baptis, yang ditonjolkan dalam Kis dalam formula Baptis yang mereka gunakan: ”dalam nama Tuhan Yesus Kristus”. (Kis 2:38;8:16;10:48;19:5). KV II mengembalikan makna fundamental ini pada posisi pertama.

Persatuan dengan Tuhan berjalan seiring dengan pertobatan. Bertobat berarti secara radikal mengubah haluan hidup dan selanjutnya mengarahkan hidupnya sesuai dengan hidup Yesus Kristus (Kis 9:35; 11:21; 15:19; 26:20). Unsur pertobatan dalam Baptis cukup ditekankan dalam PB (Kis 2:38; 3:19). Bertobat mengandaikan seseorang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengasingkan dia dari Allah (Yoh 1:10), termasuk dosa pribadi (Kis 3:19,26). Masa katekumenat adalah masa perkenalan dengan Yesus yang kemudian diikuti oleh pertobatan dan perubahan arah hidup. Pada masa ini, seorang yang tertarik pada Yesus semakin mempercayakan diri kepada Allah dalam Yesus Kristus sebagai Juruselamat, artinya orang itu semakin mengimani Yesus. Iman adalah tanggapan manusia atas pribadi Yesus yang diwartakan dalam Injil. Beriman itu berarti percaya pada Yesus sebagai Sang Mesias, Kristus, Juruselamat. Ini juga percaya meliputi pada kekuatan kebangkitan semua kekuasaan di atas bumi maupun di bawah bumi. Roh Kuduslah yang mengerjakan semuanya ini dalam diri orang yang tertarik kepada Kristus.

Jadi sakramen Baptis menjadi suatu pernyataan, pengakuan iman hati yang diungkapkan secara definitif dengan ”mulut”, secara total dengan tindakan simbolis (ekspresif) pembaptisan. Di sinilah pertama kali seseorang disatukan secara definitif dan rill dengan Yesus, bukan hanya Yesus Kristus dari masa lalu, tetapi Yesus Kristus di masa kini. Karena itu, pembaptisan disebut sebagai dasar hidup Kristiani, seseorang dimungkinkan untuk menerima kekayaan rohani lainnya dalam sakramen-sakramen Gereja. Persatuan ini bersifat kekal, sekali untuk selamanya dan tidak bisa hilang. Inilah yang disebut sebagai meterai baptisan (karakter sakramental). Meterai ini menandai manusia sebagai milik Kristus, tidak terhapuskan juga jika orang itu murtad.

2.2.   Makna Sosial Eklesial

Makna fundamental. Tidak diragukan bahwa Baptis adalah ritus inisiasi, artinya melalui ritus inisiasi ini orang dimasukkan menjadi anggota Gereja. Dengan menerima ritus ini baptisan menyatakan diri bersedia menjadi anggota jemaat, di lain pihak, jemaat juga menyatakan mau menerima orang itu menjadi anggota. Persatuan dengan jemaat ini terjadi karena baptisan disatukan tidak hanya dengan Yesus Kristus, tetapi juga dengan semua orang yang sudah bersatu dengan Dia. Memasukkan orang ke dalam jemaat itulah yang menjadi makna fundamental kedua dari Baptis. Jemaat di sini jelas adalah sebuah paguyuban orang-orang yang sudah berada dalam persekutuan dengan Kristus dan dalam Kristus. Inilah Tubuh Mistik Kristus satu-satunya, yang sekaligus bersifat ilahi dan insani (sebuah masyarakat yang kelihatan). Persatun (yang tak kelihatan) dengan Kristus diungkapkan dengan persatuan (yang kelihatan) dengan anggota-anggota yang konkret.

Perwujudan dan Persatuan dengan Kristus. Paulus menandaskan bahwa kita semua dibaptis menjadi (eis) satu tubuh (1 Kor 12:13). Bisa muncul pertanyaan, melalui Baptis, ke dalam Gereja yang manakah orang itu dimasukkan, ke dalam Gereja Kristus satu-satunya atau ke dalam Gereja (sebagai badan sosial) yang memberikan pembaptisan tersebut? Konteks pernyataan Paulus nampaknya merujuk ke Gereja sebagai badan sosial (1 Kor 12:14-26), yang juga adalah ”tubuh Kristus” (1 Kor 12:47). Melalui Baptis orang disatukan dengan anggota-anggota konkret dalam kasih persaudaraan , artinya menjadi anggota tubuh sosial itu. Aspek sosial-eklesial ini diwujudkan dalam jemaat Kristiani (tidak sama dengan Gereja Katolik Roma) yang kelihatan dan historis. Tidak ada pembaptisan yang melulu rohani dan indiviualistis. Ciri eklesial merupakan ciri hakiki yang tidak dapat dicabut. Jemaat yang konkret itu mewujudkan persatuan dengan Kristus tsb.

Gereja Kristus dan Gereja sebagai badan sosial-historis. KV II, untuk pertama kali, telah mengakui bahwa Gereja Kristus hadir juga dalam Gereja-gereja lain di luar Gereja Katolik. Konsili juga menegaskan bahwa Gereja Kristus yang satu-satunya itu berada dalam  (subisistit in) Gereja Katolik. Gereja Kristus ini juga ditemukan, meskipun hanya pecahannya, dalam Gereja-gereja lain, tetapi kepenuhan kebenaran dan sarana rahmat tetap ditemukan dalam Gereja Katolik. Melalui Baptis orang dijadikan anggota Gereja Kristus ini, yang secara historis kelihatan diwujudkan dalam Gereja di mana dia dibaptis.

Anggota penuh dengan hak dan kewajiban. Melalui Baptis, orang menerima keanggotaan penuh dalam jemaat Kristus, beserta hak dan kewajibannya. Baptisan menjadi ”batu hidup” yang dipergunakan untuk membangun ”rumah rohani” dan ”imamat kudus”. Baptisan menerima martabat dan kedudukan Kristiani yang sama seperti semua anggota lain dan disatukan dalam kasih persaudaraan jemaat. Oleh pembaptisan mereka ”mengambil bagian dalam imamat Kristus, dalam perutusanNya sebagai imam, nabi dan raja. Pembaptisan membuat si baptisan mengambil bagian dalam imamat semua anggota tubuh Kristus dan bertugas membangun ”rumah rohani” dan ”imamat kudus”. Imamat ini disebut imamat umum.

Meterai rohani. Dalam teologi tradisional-skolastik, keanggotaan tetap dalam jemaat ini diungkapan dengan istilah ”meterai”. Meterai itu adalah Roh Kudus, yang menjadi tanda seperti halnya sunat dalam PL. Meterai ialah ”tanda tak kelihatan dan tak terhapuskan yang tertera pada jiwa”. Yang ditandakan pertama-tama oleh meterai ini ialah kesetiaan Allah yang tetap mau menyelamatkan orang konkret dan individual yang dibaptis.

3. Buah-buah Sakramen Baptis

3.1. Pengampunan Dosa

Dosa asal dan dosa pribadi. Oleh pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal dan semua dosa pribadi serta siksaan-siksaan dosa. Pengampunan dosa ini diungkapkan dengan ”menanggalkan tubuh dosa-dosa daging” dan ”pelanggaran-pelanggaran diampuni” atau manusia lama ”disalibkan”, ”tubuh dosa ditiadakan” dan ”mati berkenaan dengan dosa”. Pengampunan dosa sebagai buah inisiasi (Baptis) sangat ditekankan dalam praktek umat Kristiani, katekese dan teologi. PB seringkali mengaitkan Baptis dengan pengampunan dosa-dosa pribadi, kecuali Rm 6:3-11 yang mengkhususkan pada penghapusan dosa asal.. namun teks-teks lain mengindikasikan dosa asal ini, terutama bila dibicarakan dalam bentuk tunggal.

Prakarsa kasih Allah mengampuni dan pertobatan manusia. Pengampunan dosa adalah anugerah kasih Allah, dan hanya Allah yang bisa memberikan pengampunan. Pengampunan harus dilihat dari konteks relasi antara manusia dengan Allah, bukan terutama dalam arti yuridis. Karena itu, pertobatan baptisan adalah syarat mutlak pengampunan Allah. Pengampunan dosa (dosa asal dan dosa pribadi) itu diberikan bersamaan dengan pertobatan dan tindakan mengimani Yesus Kristus, dan tidak harus menunggu sampai tindakan simbolis pembaptisan. Paulus menegaskan bahwa orang dibenarkan oleh karena iman. Namun demikian, pembaptisan tetap perlu juga. Maka, Baptis menjadi tanda pertobatan, mengimani, maupun pengampunan Allah. Sekaligus Baptis menjadi sarana yang mengefektifkan dan menyempurnakan pertobatan, iman dan pengampunan itu, khususnya dalam wujud sosio-historis. Baptis menjadi tanda yang kelihatan dan objektif kerahiman Allah, sekaligus mengefektifkan atau menyempurnakan pertobatan itu.

Karena penyerahan diri Kristus di salib. Pengampunan dosa ini mengalir dari proses penyatuan baptisan dengan Yesus Kristus. Urutan pembahasan di sini tidak boleh ditafsirkan sebagai proses kronologis terjadinya pengampunan. Jelas bahwa sebab universal dari pengampunan dosa ialah penyerahan diri Yesus (ketaatan) dalam korban salib sampai wafat.

Meskipun sudah dibebaskan secara total dari dosa asal dan dosa pribadi, kenyataan menunjukkan bahwa baptisan masih dalam pengaruh dosa: dosa tinggal di dalam dia (Rom 7:14-25). Rasul Yohanes juga mengatakan: ”Jika kamu mengatakan bahwa kami tidak berdosa, kami berbohong kepada diri sendiri dan tidak ada kebenaran di dalam diri kami” (1Yoh 1:8).

3.2. Pengangkatan menjadi Anak Allah

Menjadi anak-anak Allah melalui, dalam dan mengikuti Kristus. Melalui penghapusan dosa dan penyatuan dengan Yesus Kristus, maka baptisan juga mengambil bagian dalam hidup ilahi. Artinya, karena Kristus hidup dalam relasi kesatuan dengan BapaNya dan Roh Kudus, maka melalui Baptis, orang dibawa ke dalam hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Melalui pembaptisan, orang diangkat menjadi putra-putri Allah dalam keputraan Allah Putra, Sang Putra sulung. Maka bisa dikatakan bahwa melalui Kristus, dalam Kristus, dan mengikuti Kristus, baptisan diangkat menjadi anak-anak Allah.

Divinisasi. Pengangkatan menjadi anak ini seringkali juga disebut sebagai proses divinisasi (pengilahian) manusia. Kata divinisasi (seringkali digunakan oleh para Bapa Gereja Yunani) menyiratkan terjadinya transformasi dalam diri manusia. Thomas menyebut divinisasi ini sebagai habitus yang dianugerahkan dalam jiwa manusia melalui pembaptisan. Habitus ini diartikan sebagai partisipasi pada penyelenggaraan ilahi dalam hal pengetahuan.

3.3. Anugerah Roh Kudus

Roh Kudus sebagai Sang Anugerah. Karena disatukan dengan Yesus Kristus, dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, baptisan menerima anugerah rahmat pengudus dan dijadikan kenisah Roh Kudus. Roh Kudus adalah Sang Anugerah, yang merupakan pemberian khas sakramen Baptis (Yoh 3:5; Tit 3:5). Setiap baptisan adalah pengemban Roh Kudus. Tanda rill dari rahmat baptisan adalah pengurapan dengan Roh, sehingga diserupakan seperti Kristus, Sang Terurapi. Baptisan Roh Kudus inilah yang telah bekerja membuat orang bertobat dan mengimani Yesus Kristus sebagai Mesias. Roh Kudus ini juga yang telah mengerjakan penghapusan dosa, penyatuan dengan Yesus Kristus, pengangkatan menjadi anak Allah (divinisasi), dimasukkannya baptisan menjadi anggota Gereja dan pemberian kharisma dan pelayanan. Roh Kudus-lah yang menyatukan semua orang yang dibaptis menjadi Tubuh Kristus (1 Kor 12:13).

Rahmat pengudus atau rahmat pembenaran meyanggupkan baptisan, oleh kebajikan-kebajikan ilahi, untuk percaya kepada Allah, berharap kepadaNya dan mencintaiNya; rahmat itu juga menyanggupkan baptisan, oleh anugerah-anugerah Roh Kudus, untuk hidup dan bekerja di bawah dorongan Roh Kudus; rahmat itu juga menyanggupkan baptisan oleh kebijakan-kebijakan susila, untuk bertumbuh dalam kebaikan. Dengan demikian berakarlah seluruh organisme kehidupan adikodrati seorang Kristiani di dalam pembaptisan kudus (KGK 1266).

Dari data PB, jelaslah bahwa tindakan pembaptisan dengan air tidak boleh dipandang sebagai satu-satunya sarana pemberian rahmat Allah, roh Kudus. Tindakan simbolis pembaptisan dengan air adalah tanda yang kelihatan dari jawaban baptisan atas karya Roh Kudus yang sudah bekerja dalam dirinya. Sekaligus Baptis menjadi sarana untuk menyempurnakan anugerah Roh Kudus yang telah diterima sebelumnya.

4. Perlunya Pembaptisan

4.1. Baptis demi inkorporasi penuh pada Kristus, termasuk Tubuh Mistik dan Misinya

Rahmat yang diterima melalui iman tidak cukup dan karena itu diperlukan sakramen Baptis karena:

1). Sakramen Baptis diperlukan untuk menyempurnakan rahmat awali yang diterima karena iman. Baptis merupakan perwujudan tanda dari ziarah batiniah dari baptisan sekaligus ungkapan lengkap dari manusia yang utuh. Seperti halnya tidak cukup hanya mencintai secara batiniah, dan karena itu perlu diwujudkan secara lahiriah sesuai dengan kodrat manusia yang adalah makhluk korporal, lahiriah, kelihatan. Penyempurnaan rahmat awali itu juga terjadi karena sakramen bukan hanya tanda, tetapi juga adalah sarana rahmat.

Di sinilah pengertian sakramental persis sama dengan inkarnasi, yaitu penyataan (revelasi) Allah secara kelihatan dan publik dalam masyarakat dan persekutuan. Dengan sakramen Baptis, yaitu perwujudan secara publik dan kelihatan ini, baptisan menyatakan sepenuhnya mengikuti Yesus Kristus dan karyaNya di dunia ini.

2). Sakramen Baptis diperlukan juga karena Baptis menyatukan secara rill baptisan dengan Yesus Kristus. Baptis sekaligus merupakan tanda dan sarana partisipasi penuh pada seluruh hidup Yesus, terutama karya penyelamatanNya di dunia melalui Tubuh MistikNya, Gereja. Dengan dibaptis, baptisan menyatakan diri secara kelihatan dan publik keputusannya untuk ikut ambil bagian misi keselamatan Yesus dan Gerejanya di dunia ini. Perlunya sakramen Baptis harus dilihat dalam kaitan dengan persatuan penuh (lengkap) dengan Yesus Kristus, termasuk pada misiNya. Untuk mengerti perlunya sakramen Baptis, orang harus memiliki keinginan untuk mencapai kesempurnaan keselamatan yang penuh (dinamis), yaitu melalui partisipasi penuh pada misi Yesus Kristus yang dilanjukan oleh Gereja.

4.2. Baptis Darah dan Baptis Rindu

”Gereja sudah sejak dahulu yakin bahwa orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima sakramen Baptis, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematianNya. Baptis Darah ini demikian pula kerinduan akan Baptis menghasilkan buah-buah Baptis walaupun tidak merupakan sakramen.”

Bagi para katekumen yang mati sebelum pembaptisan, kerinduan yang jelas untuk menerima sakramen Baptis, penyesalan atas dosa-dosanya dan cinta kasih sudah menjamin keselamatan yang belum dapat mereka terima melalui sakramen itu (KGK 1259). Inilah yang disebut dengan Baptis rindu.

 

5. Simbolik Upacara Pembaptisan

5.1. Arti simbolik Ganda dari Pembaptisan

Pembaptisan menggunakan air alamiah yang mempunyai arti simbolis ganda. Air adalah salah satu unsur yang paling mendasar. Air mempunyai fungsi positif (konstruktif), yaitu memberikan hidup dan kesuburan pada tetumbuhan; sekaligus, air mempunyai fungsi negatif (destruktif), yaitu membersihkan, memurnikan, menghancurkan dan merusak.

Arti simbolis ganda dari air itu juga diterapkan pada arti simbolis ganda dari pembaptisan. Air mengungkapkan fungsi negatif Pembaptisan, yaitu pembersihan dari dosa-dosa dalam manusia oleh Allah. Demikian pula, air mengungkapkan fungsi positif Pembaptisan, yaitu pemberian hidup baru, dan pemulihan hubungan Allah dengan manusia.

Makna Baptis disimbolkan dalam pengenaan kain putih dan pemberian lilin Baptis. Kain putih melambangkan bahwa orang yang dibaptis mengenakan ”Kristus”, manusia baru. Lilin baptis yang dinyalakan dari lilin Paska berarti bahwa Kristus menerangi orang yang baru dibaptis, sekaligus baptisan diutus untuk menjadi ”terang dunia”.

5.2. Unsur-unsur Ritus Pembaptisan

Dalam pembaptisan digunakan air (materia) karena air mengungkapkan arti simbolis ganda yang hendak dilaksanakan dalam pembaptisan. Sejak awal dunia air adalah sumber kehidupan dan kesuburan. Air telah digunakan dari berbagai peristiwa PL untuk menandakan keselamatan, mulai dari bahtera Nuh, penyeberangan Laut Merah, penyeberangan sungai Yordan.

Air pembaptisan diberkati dengan doa epiklese pada perayaan pembaptisan itu sendiri atau pada malam Paska. Gereja berdoa kepada Allah supaya kekuatan Roh Kudus turun ke atas air ini melalui Putra-Nya, sehingga semua orang yang menerima Pembaptisan di dalamnya, ”dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh 3:5).

Rumusan doa (forma) yang diucapkan ketika membaptis ialah ”Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus” (Mat 28:19). ”Dalam nama” berarti dalam daya kekuatan. Rumusan doa yang digunakan ialah rumusan indikatif, bukan imploratif (permohonan). Rumusan trinitaris ini merupakan perkembangan dari rumusan kristologis yang juga ditemukan dalam jemaat awali, yaitu ”dibaptis dalam nama Yesus” (Kis 2:38;8:16; 10:48; 19:5). Rumusan trinitaris yang digunakan Gereja masa sekarang menegaskan bahwa kuasa atau daya kebangkitan Yesus Kristus itu berasal dari Allah sebagai Bapa melalui Putra dan dalam Roh Kudus. Dengan demikian, kedua rumusan tsb., (kristologi dan trinitaris) menurut isinya mempunyai arti yang sama. Rumusan doa ini merupakan titik sentral dari seluruh upacara pembaptisan. Dalam upacara pembaptisan, pengucapan doa ini disertai dengan penuangan air di kepala atau pencelupkan pembaptisan.

Pelayan utama (minister principalis) ialah Yesus Kristus sendiri, seperi halnya pada semua sakramen. Pelayan hanyalah instrumen (minister instrumentalis) yang melaksanakan kehendak Allah.

Penerima (subjectum) sakramen Baptis ialah setiap orang yang percaya dan belum dibaptis. Menurut tradisi Hippolitus, yang penting bukanlah orang yang membaptis tetapi orang yang dibaptis dan penerimaan iman oleh orang ini. Dibutuhkan persiapan (masa katekumenat) untuk mematangkan pertobatan dan imannya dalam kesatuan dengan persekutuan Gereja. Masa katekumenat adalah masa ”pembinaan dalam seluruh hidup kristiani dan masa percobaan yang lamanya memadai, yang membantu para murid untuk bersatu dengan Kristus Guru mereka. Maka hendaknya para katekumenat diantar bagaimana seharusnya untuk memasuki rahasia keselamatan, menghayati cara hidup menurut Injil, dan ikut serta dalam upacara-upacara suci, yang harus dirayakan dari masa ke masa. Hendaknya mereka diajak memulai hidup dalam iman, merayakan liturgi dan mengamalkan cinta kasih Umat Allah”. (AG 14) (KGK 1248).

6. Wali Baptis, Nama Baptis dan Catatan Lain

Wali Baptis adalah orang yang ditunjuk untuk menjadi orang tua asuh dan pembimbing dalam bidang rohani bagi baptisan. Wali Baptis bertugas untuk membantu baptisan dalam menanggapi rahmat Tuhan dan mengembangkan iman baptisan selanjutnya. Wali baptis Wajib menegur atau mengarahkan jika baptisan (anak) mulai ragu-ragu atau menyimpang dari kehidupan dan ajaran iman Katolik. Wali baptis adalah saksi yang kuat, bahwa anak itu benar-benar telah dipersatukan dengan Kristus dan Gerejanya. Ini tidak berarti bahwa pendidikan iman baptisan selanjutnya secara penuh diserahkan kepada wali baptis. Di sini wali baptis bekerjasama dengan orang tua, bahkan dengan komunitas Gereja untuk ikut mendukung dalam pendidikan dan pemeliharaan iman atau kehidupan rohani dari anak tersebut.

Dalam memilih wali baptis, KHK kan. 874 menetapkan kriteria-kriteria sbb:

  1. a.  Ditunjuk oleh calon baptis atau orangtuanya atau oleh orang yang mewakili mereka, atau bila mereka itu tidak ada, oleh pastor paroki atau pelayan baptis, serta memiliki kecakapan dan maksud untuk melaksanakan tugas itu;

b. Telah berumur genap 16 tahun, kecuali jika umur lain ditentukan oleh Uskup diosesan, atau pastor-paroki atau pun pelayan baptis menilai bahwa kekecualian atas alasan wajar dapat diterima;

  1. c.  Seorang Katolik yang telah menerima penguatan dan sakramen Ekaristi mahakudus, lagi pula hidup sesuai dengan iman dan tugas yang diterimanya;

d. Tidak dijatuhi atau dinyatakan ternoda oleh suatu hukuman kanonik;

  1. e.  Bukan ayah atau ibu dari calon baptis.

Nama Baptis. Dalam pembaptisan, nama Tuhan menguduskan manusia dan seorang Kristen mendapat namanya di dalam Gereja. Nama itu boleh diambil dari seorang kudus, artinya seorang murid Yesus yang telah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhannya. Orang kudus itu akan dipandang sebagai {1} pelindung sekaligus sebagai panutan dalam kehidupan imannya. {2} Doa-doa dari orang kudus itu juga mengungkapkan cinta kasih Kristiani dan mengungkapkan persatuan dengan Kristus dan kesatuan antara Gereja yang berjuang dan Gereja yang mulai. Dengan demikian, baptisan, {3} dimampukan untuk memulai hidup baru dalam keluarga Tuhan. Nama baptis juga diambil dari satu misteri Kristiani atau satu kebajikan Kristiani. ”Orang tua, wali baptis dan pastor paroki hendaknya menjaga agar jangan diberikan nama yang asing dari semangat kristiani” (KHK kan. 855).

Catatan Baptis. Pemberian sakramen Baptis perlu dicatat dengan teliti dalam buku-baptis, yaitu nama orang yang dibaptis, pelayan baptis, orang tua, wali-baptis. Jika ada, juga perlu dicatat saksi-saksi, tempat dan tanggal baptis, sekaligus juga dicatat pula tanggal dan tempat kelahiran (KHK kan. 877, 1).

7. Pembaptisan Anak-anak

7.1. Memahami Permasalahan

Masalah yang muncul sekitar pembaptisan anak-anak berkisar pada partisipasi anak atau bayi sebagai subjek yang sadar. Karena perkembangan biologisnya, seorang anak atau bayi (1) belum bisa menggunakan kemampuan akal-budi dan (2) kebebasan-nya sehingga (3) belum bisa secara sadar tertarik, bertobat dan beriman mengikuti Yesus Kristus.

Karena seorang anak belum bisa menanggapi Sabda yang diwartakan dan menyatakan iman yang diandaikan dalam pembaptisan, maka pembaptisan anak memisahkan antara pernyataan iman dan tindakan pribadi di satu pihak, dan sakramen itu di lain pihak. Karena itu, praktek dan teologi tentang pembaptisan anak-anak bertentangan dengan proses ”normal” yang terjadi pada orang dewasa, sehingga memperkuat kesan bahwa peristiwa yang ”sebenarnya” ialah pelaksanaan upacara itu sendiri. Justru karena situasi khusus inilah, pembaptisan anak menjadi model klasik tentang sebuah sakramen, karena menunjukkan dengan jelas bahwa efektivitas sakramen itu tidak tergantung pada kelayakan pelayan atau kesadaran subjek penerima, selama tidak ada halangan untuk menerima.efektivitas tergantung melulu pada hubungan antara materia yang sah dan forma yang tepat. ”Dalam pembaptisan anak-anak dapat dilihat dengan jelas sekali bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita (KGK 1250).

Dalam teologi dan dalam Gereja di masa lalu, pentingnya pembaptisan anak banyak ditekankan karena 2 faktor:

1}. Pemikiran tentang dosa asal yang diwarisi oleh anak-anak ketika dilahirkan. Situasi terpisah dari Allah ini dipandang sebagai konteks yang jahat, di mana tidak ada kedamaian, keadilan dan banyak godaan.

2}. Penekanan (bahkan pemutlakan) yang berlebihan pada dimensi institusional dan historis dari Gereja membawa pada kesimpulan bahwa kemungkinan untuk selamat itu hanya dibatasi pada penerimaan sakramen Baptis. Akibatnya, juga semua anak atau bayi harus dibaptis, biarpun mereka belum bisa menggunakan akal-budinya untuk menanggapi tawaran Tuhan.

7.2. Melihat permasalahan secara benar

Kedua faktor di atas menyebabkan kecemasan besar tentang keselamatan anak-anak yang belum dibaptis. Pandangan Gereja dan teologi masa kini telah berubah. Ini tidak berarti melalaikan atau membuang ajaran tentang dosa asal, tetapi mengembalikan ajaran tentang dosa asal itu pada intinya. Maka untuk melihat pentingnya pemabptisan anak, kita perlu mendudukkan permasalahan secara benar.

Rom 5:12-21 menegaskan bahwa situasi dosa asal itu mengenai semua manusia dan membawa kematian, lepas dari ada-tidaknya dosa pribadi. Dosa asal itu semakin mengakar karena dan melalui terjadinya dosa-dosa pribadi. Di lain pihak, rahmat karunia Kristus mengenai semua orang dan membawa hidup. Rahmat karunia itu tidak tergantung pada tanggapan pribadi dari orang yang bersangkutan. Inilah penebusan objektif, yaitu keselamatan yang sudah dilakukan Kristus satu kali untuk semua orang. Penebusan objektif ini memang masih perlu dibatinkan melalui persetujuan bebas dari masing-masing subjek, sehingga penebusan itu menjadi efektif secara personal.

Maka pembaptisan merupakan tindakan simbolis Gereja yang menunjukkan kemenangan Yesus Kristus ini, bahkan pada anak-anak kecil. Jika baik dalam dosa asal maupun dalam penebusan Kristus, bayi itu sama-sama belum memberikan tanggapan pribadinya, belum melakukan dosa pribadi, apakah Allah sedemikian kejam sehingga memperhitungkan kekuatan dosa (yang sudah dikalahkan Kristus) dan tidak memperhitungkan rahmat penebusan Kristus (yang jauh lebih besar)?

Dengan meluruskan pandangan ini, teologi hendak meluruskan kembali dasar-dasar pemikiran teologis dan dengan demikian menghapuskan kecemasan yang tidak perlu karena pengandaian yang berlebihan itu. Jadi, yang hendak diluruskan ialah pandangan dasar yang berlebihan, dan bukannya menghapuskan perlunya pembaptisan. Perlunya pembaptisan perlu dijelaskan dengan alasan lain, dan bukannya dengan mengecilkan arti rahmat penebusan Kristus dan membuat Allah sebagai pribadi yang kejam.

7.3. Alasan-alasan perlunya pembaptisan anak-anak

Kaitan antara Baptis dan tindakan iman. Keberatan: seperti nampak dalam PB, Baptis dikaitkan dengan iman yang tumbuh karena pewartaan. Dalam hal ini, kaitan antara iman dan Baptis itu terjadi pada orang dewasa yang bertobat. Tanggapan: pembaptisan anak-anak berasal dari tradisi jaman para rasul, sehingga mempunyai nilai sangat penting. Sakramen Baptis tidak pernah dilakukan tanpa iman. Dalam pembaptisan anak-anak, Gereja-lah yang mewakili tindakan iman anak tsb. Gereja-lah yang melahirkan. Iman diungkapkan oleh orang tua dan wali baptis. Karena itu, bayi tidak bisa dibaptis tanpa persetujuan orangtuanya, ”sekurang-kurangnya satu dari mereka atau yang menggantikan orangtuanya secara legitim” KHK kan. 868, 1, 1). Lebih lanjut, haruslah diingat juga bahwa Baptis bukan hanya tanda iman tetapi juga sebab iman. Sakramen Baptis menghasilkan pencerahan batiniah, artinya iman yang diterima itu menguasai jiwa dan menyebabkan runtuhnya selubung kebutaan manusia di hadapan kecermelangan Kristus. Karena itu, Gereja juga menuntut agar setelah pembaptisan, anak itu akan dididik secara Katolik (KHK 868, 1, 2). Gereja menghargai hak-hak orang tua dan menuntut jaminan atas perkembangan iman anak.

Keselarasan antara Baptis dan penerimaan rahmat pribadi. Keberatan: dikatakan bahwa karena setiap rahmat dimaksudkan untuk pribadi tertentu, maka rahmat itu harus diterima secara sadar dan dibatinkan oleh penerima. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh bayi atau anak-anak. Tanggapan: Instruksi itu menjawab bahwa seseorang harus dipandang sebagai pribadi bukan hanya sejak dia bisa menunjukkan ”ke-pribadi-an” nya dalam kesadaran dan kebebasan. Sebagai ”pribadi,” bayi sudah berada dalam proses menjadi dan terus menjadi. Melalui sakramen Baptis, dia juga sudah bisa dijadikan anak Allah dan rekan-pewaris dengan Kristus. Kekayaan rohani yang diwarisinya ini akan ikut membentuk bayi dalam proses ”menjadi” itu (sebagai habitus) dan akan menjadi kekuatannya ketika dia sudah bisa menggunakan kesadaran dan kebebasannya. Kekayaan rohani adalah rahmat yang diberikan dalam Baptis.

Keselarasan antara Baptis dan kekebabasan anak. Diajukan keberatan bahwa pembaptisan anak merampas anak itu untuk menentukan sendiri hidupnya, pilihannya. Tidak fair memaksakan kewajiban religius kepada anak, yang mungkin kemudian ditolak oleh yang bersangkutan ketika menanjak dewasa. Maka sebaiknya Baptis diberikan ketika pribadi tersebut sudah bisa membuat komitmen. Tanggapan: pandangan ini hanyalah sebuah ilusi, sebab tidak ada kebebasan murni. Sejak kecil pasti sudah ada pengaruh dari luar yang ikut menentukan. Bahkan juga pada tingkat kodrati, pilihan-pilihan orangtua ikut mempengaruhi dan membentuk apa yang penting untuk anak tersebut, termasuk orientasinya terhadap nilai-nilai. Sikap ”netral” orangtua dalam hal religius bahkan bisa dipandang sebagai sikap negatif sebab anak akan kehilangan apa yang diperlukan secara rohani.

Baptis dalam masyarakat Pluralistis. Ada keberatan untuk membaptis anak dalam masyarakat pluralistis, di mana banyak konflik nilai dan pandangan. Pembaptisan anak-anak dipandang hanya cocok untuk masyarakat yang homogen di mana nilai, pandangan dan kebiasaan membentuk satu masyarakat yang homogen. Dalam masyarakat pluralistis, dikatakan, sebaiknya pembaptisan ditunda sampai calon mempunyai kematangan yang cukup untuk menentukan pilihan. Tanggapan Instruksi Pastoralis Actio cukup lugas. Pertama, tolok ukur homogenitas dan pluralitas hanyalah keadaan eksternal-sosiologis yang memang diperlu dipertimbangkan, tetapi tidak bisa dijadikan prinsip normatif. Kedua butir sosiologis itu tidak memadai untuk menentukan masalah religius. Kedua, jika prinsip homogenitas diikuti, maka berarti tidak sah membaptis anak-anak dalam masyarakat di mana orang-orang Katolik hanyalah minoritas. Maka tolok ukur itu tidak bisa diterima. Ketiga, jika tolok ukur pluralisme itu diikuti secara konsekuen sejak Gereja awali, maka Gereja tidak pernah akan berkembang. Keempat, tolok ukur masyarakat yang pluralistis tidak melarang kebebasan Gereja dan anggotanya untuk bertindak secara kristiani atau memberi pendidikan kristiani. Kelima, justru dalam masyarakat yang pluralistis, sangat pentinglah menciptakan suasana kristiani bagi anak-anak, karena ini berkaitan dengan jati diri dan misi Gereja serta anggotanya. Kekayaan pluralisme baru bisa dihargai jika masing-masing unsur dihargai dan dibiarkan menunjukkan kekhasan dan kekayaannya. Dengan demikian, masyarakat itu semakin diperkaya dan berkembang.

Pembaptisan anak-anak dan praksis pastoral-sakramental. Keberatan terakhir dilontarkan dengan mengatakan bahwa praksis membaptis anak-anak berasal dari kebiasaan pastoral yang kurang bersifat misioner dan pewartaan Injil, tetapi lebih menekankan pelayanan sakramental. Dengan menekankan pembaptisan anak-anak, Gereja terlalu mementingkan kuantitas dan pembangunan dimensi sosial, mengunggulkan konsep magis sakramen, sedangkan sebenarnya Gereja harus lebih melibatkan diri dalam kegiatan misioner, mendewasakan iman, menggalakkan komitmen anggota, dan memperhatikan pastoral anggota-anggotanya. Tanggapan Gereja terutama bersumber pada nilai sakramen Baptis itu sendiri., tanpa menyangkal perlunya penekanan pastoral pada hal-hal yang disebutkan di atas. Menambah kuantitas bukanlah suatu yang jahat, tetapi adalah kewajiban dan berkat yang memang perlu pembatinan. Keselamatan yang dibawa Kristus perlu disampaikan kepada setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Praksis pembaptisan anak-anak sungguh injili.

 

8.Perspektif Ekumenis

Sakramen ”Baptis merupakan ikatan sakramental kesatuan antara semua orang yang dilahirkan kembali karenanya” (UR 22). Pembaptisan menyaturagakan orang yang dibaptis dengan Kristus. Karena itu, mereka yang menerima pembaptisan secara sah dalam Gereja-gereja lain dipandang oleh anak-anak Gereja Katolik Roma sebagai saudara (UR 3). Maka Baptis sebagai inisiasi ke kekristenan menjadi semacam identitas Kristiani dari semacam ”suku bangsa” dari berbagai marga.

”Akan tetapi Baptis sendiri baru merupakan awal-mula dan titik-tolak, sebab seluruhnya tertujukan untuk memperoleh kepenuhan hidup dalam Kristus. Oleh karena itu Baptis terarahkan kepada pengikraran iman yang seutuhnya, kepada integrasi sepenuhnya ke dalam tata-keselamatan seperti dimaksudkan oleh Kristus sendiri, akhirnya kepada integrasi seutuhnya ke dalam persekutuan Ekaristi.” (UR 22)

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: