Skip to content

SAKRAMEN EKARISTI

11 May 2013

aaaBerbagai nama Ekaristi

1. Ekaristi

  •  Berasal dari bahasa Yunani Eucharistein: mengucap syukur atau berterima kasih.
  • Merupakan terjemahan bahasa Yahudi Bere akha: ucapan syukur di meja (Luk 22:1-9); muncul dalam tradisi Kristiani pertama (bdk. 1Kor 11:24).
  • Jadi, pada awalnya “Ekaristi” merujuk pada pujian bangsa Yahudi terutama waktu makan, dan kemudian diterapkan untuk doa syukur ekaristi, kemudian menunjuk pada seluruh perayaan, dan akhirnya secara khusus menunjuk pada roti dan anggur. Sekarang Ekaristi dimaksudkan untuk seluruh perayaan. 

2. Perjamuan Tuhan

  • Nama khas kristiani.
  • Merujuk pada kehadiran Tuhan yang bangkit di antara murid-muridNya, sebagai “pemimpin” perjamuan; digunakan kaum reformis Protestan kemudian masuk kalangan Katolik dalam KV II dalam pembaharuan liturgi.
  • “Perjamuan Tuhan” merujuk pada perjamuan malam yang diadakan Yesus bersama dengan murid-muridNya pada malam sebelum sengsaraNya, sekaligus menunjuk pada antisipasi pernikahan Anak Domba dalam Yerusalem surgawi.

 

3. Pemecahan Roti

  • Istilah Hibrani yang dipakai menyebutkan perkumpulan Ekaristi para murid.
  • Nama ini merujuk pada ritus khas pada perjamuan Yahudi di mana kepala keluarga “memecahkan roti” dan mengawali perjamuan persaudaraan. Yesus melakukan hal ini pada malam perjamuan terakhir (bdk. Mat 26:26).
  • Para murid hendak mengatakan bahwa semua orang yang makan satu roti yang dipecahkan–dari Kritsus itu–masuk ke dalam persekutuanNya dan membentuk di dalam Kristus satu tubuh. (bdk. 1 Kor 10:6-7).

4. Perhimpunan Ekaristi (synaxis)

  • KV II menggunakan istilah Yunani kuno, synaxis untuk Ekaristi (LG 11, 28; PO 5, 7), artinya himpunan, kumpulan, pertemuan liturgis, persekutuan=Eklesia karena Ekaristi dirayakan dalam perhimpunan umat beriman (bdk. 1 Kor 10:16-17). Perhimpunan Ekaristi sebagai perwujudan kelihatan Gereja.

 

5. Kenangan

  • Nama ini berasal dari perintah Yesus pada perjamuan-malam terakhir yang ditemukan hanya pada Injil Lukas dan I Korintus: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”.
  • Kenangan ini menurut arti Yahudi, yaitu menghadirkan kembali secara obyektif, mengaktualkan kembali; menyangkut apa yang telah dilakukannya dalam perjamuan-malam terakhir. Kenangan merujuk pada sengsara dan kebangkitan Tuhan.

6. Kurban Kudus

  • Digunakan pihak Katolik untuk menghadapi pertentangan dengan pihak Protestan.
  • “Kurban Kudus” dimaksudkan bahwa Ekaristi menghadirkan kurban tunggal Kristus, Penebus dan mencakup penyerhan diri Gereja.
  • Istilah ini sejajar: “misa kudus, kurban syukur”, persembahan rohani, kurban murni dan kudus, karena menyempurnakan dan melebihi segala kurban PL.

7. Liturgi Kudus dan Ilahi

  • Biasa digunakan di Gereja Timur, yang menunjuk Ekaristi sebagai tindakan kudus par excellence, sebab seluruh liturgi Gereja berpusat dalam perayaan Sakramen ini dan paling jelas terungkap di dalamnya; perayaan misteri kudus; Sakramen Maha Kudus karena ekaristi adalah Sakramen segala Sakramen.
  • Disimpan dalam rupa Ekaristi di dalam tabernakel, dan menamakan Tubuh Kristus itu Yang Mahakudus.

8. Komuni

  • Merujuk pada persekutuan dengan Kristus. Kristus mengundang para muridnya untuk bersatu dengan Dia dengan cara mengambil bagian dalam tubuh dan darahNya, supaya kita membentuk satu tubuh (bdk. 1 Kor 10:16-17).
  • Nama lain: roti malaikat, roti surgawi, “obat kebakaan” dan bekal perjalanan.

9. Misa Kudus.

  • Nama ini berasal dari kata Latin missa (misi, pengutusan) yang menunjuk pada pengutusan umat diterima pada akhir perayaan (ita missa est). umat diutus untuk melaksanakan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari.

 2.  Dasar Biblis Ekaristi

1.    Konteks Perjamuan malam terakhir

Dari Bentuk

Ekaristi berasal dari doa sebelum dan sesudah makan pada perjamuan Yahudi. Oleh bapa keluarga doa ini diucapkan atas roti bulat pipih yang besar, yang kemudian dipecahkan dan dibagikan kepada semua hadirin sebagai tanda bahwa perjamuan telah di mulai. Sesudah itu diadakan perjamuan biasa. Bapa keluarga mengambil piala anggur, mengucapkan doa syukur yang cukup panjang atas cawan itu, dan selanjutnya membagikan piala itu kepada semua hadirin. Dengan demikian dinyatakan kesatuan para hadirin dengan doa syukur ini, khususnya diungkapkan dengan jawaban “Amin”. Roti dan anggur itu mempersatukan hadirin dengan pemimpin, dan dengan doa pemimpin, mereka dipersatukan dengan Allah, dan mendapat berkat (berakah).

Dari Sudut Waktu

Menurut ketiga Injil Sinoptik, perjamuan-malam terakhir terjadi dalam konteks Paska Yahudi atau hari Raya Roti tak beragi. Hari raya Paska Yahudi memperingati perjanjian Yahwe dengan Musa dan orang-orang Yahudi yang mewarisi tanah Israel. Paska diperingati setiap tahun untuk mengingatkan setiap generasi akan perbuatan besar yang telah dilakukan Allah bagi orang-orang Yahudi. Paska Yahudi ini merayakan secara baru keluarnya orang Yahudi dari Mesir dan juga berkat tak terbilang dari Allah yang dilimpahkan kepada bangsa yahudi yang diselamatkan dari perbudakan. Ikut merayakan pesta ini berarti sebagai bangsa menghadirkan kembali kasih Allah yang amat besar.

2.    Kisah Perjamuan-malam terakhir

  • Mateus
  • Markus
  • Paulus
  • Lukas

 

3.    Persamaan Hakiki dan Penafsiran

 4 persamaan hakiki dari keempat Injil tentang Kisah Perjamuan-malam terakhir:

  1. Semua merujuk pada sebuah perjamuan-malam yang dilakukan Yesus bersama dengan murid-muridNya, yang disituasikan dalam konteks Paska Yahudi.
  2. Semua menekankan bahwa Yesus mengidentifikasikan tubuhnya dengan roti dan darahnya dengan anggur;
  3. Semua menegaskan dua ritus khas dari perjamuan Yahudi berkaitan dengan roti dan anggur (mengucap-syukur dan membagikan roti dan anggur kepada peserta perjamuan);
  4. Semua mengindikasikan kaitan yang mendalam antara perjamuan-malam terakhir dengan misteri Paska salib dan kebangkitan.

 a.    Tindakan Profetis Yesus dan kata-kata penafsiran

  • Yesus melakukan beberapa tindakan dan mengucapkan kata-kata, yaitu mengambil roti, mengucap syukur, memecah roti dan membagikannya, kemudian mengambil cawan anggur dan dituangkannya untuk diminum. Tindakan-tindakan serupa menurut tradisi Biblis, bermaksud mengantisipasi dan menghadirkan sebuah peristiwa yang masih akan terjadi. Sadar akan kenyataan yang akan terjadi, Yesus melakukan “tindakan profetis”, mengantisipasi dan mengungkapkan diri dengan tindakan dan kata dalam kenyataan (sengsara dan wafat) yang akan dihadapinya.
  • Kata-kata penafsiran yang diucapkan Yesus atas roti dan anggur menyatakan kehadiran Yesus dalam roti dan anggur yang diberikan kepada Rasul. Maka, roti yang dipecah dari tubuhnya yang dikorbankan, dan cawan, dimana ditumpahkan anggur, adalah penumpahan darahnya. Inilah penyerahan diri Yesus.

 b.   Undangan untuk mengambil bagian dalam perjamuan

Undangan ini terungkap dalam kata-kata ”ambilah dan makanlah” dan “ambilah dan minumlah”. Undangan untuk makan tubuhnya dan minum darahnya berarti undangan kepada perjamuan itu untuk menyatukan diri dengan kematiannya dan membuat mereka masuk dalam PB.

 c.    Perintah untuk mengulangi

Perintah ini diungkapkan sekali pada Lukas dan dua kali pada Korintus, yakni “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Kata-kata Yesus ini merupakan pelembagaan, suatu penyembahan kepada Allah yang dihadirkan kembali di masa mendatang oleh para rasul dan Gereja. Penghadiran kembali ini harus dilakukan sebagai “kenangan akan Dia” atau merupakan cara terbaik untuk menghadirkan kembali Yesus.

 3.      Sakramen Ekaristi dalam Tradisi

  • Sekitar abad I s/d IV: Kehadiran Nyata dan Kurban

 

  1. Sekitar abad V s/d IX: Perubahan Ekaristi dan Kurban
  2. Abad IX s/d XI: Polemik Ekaristi
  3. Abad XII s/d XIII: teologi Skolastik tentang Ekaristi

Para pemikir Skolastik memperkenalkan konsep materia dan forma dalam teologi sakramen. Unsur-unsur pokok dari teologi Skolastik tentang Ekaristi adalah materia (roti dan anggur), forma (kata-kata penetapan: kata-kata konsekrasi) dan perubahan substansi (perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus) dan concomitantia (menghadirkan Kristus yang utuh).

Abad XIV s/d XV: Ajaran reformasi tentang Perjamuan Tuhan Menekankan pada sabda Allah (sola scriptura), iman (sola fides) dan pengampunan dosa (sola gratia).

Abad XVI: Konsili Trente

  • Muncul gerakan liturgis yang berusaha mengikutsertakan kaum beriman awam dalam perayaan Ekaristi dengan keikutsertaan secara aktif (parcipatio actuosa).
  • Pandangan tentang Ekaristi sebagai kurban Gereja mengalami perkembangan, tanpa mengurangi kedudukan dan nilai kurban Kristus, yang mengorbankan diri “satu kali untuk selamanya”.
  • Ekaristi dikembangkan bukan lagi sebagai liturgi biara tetapi sebagai liturgi umat.

Abad XVII s/d XX: dari Trente menuju Vatikan II

1962-1965: KV II

Abad XXI: dari KV II sampai sekarang

 4.    Beberapa Makna Pokok dari teologi Ekaristi

1.    Ekaristi sebagai syukuran dan pujian kepada Bapa

  • Konteks asli perjamuan malam terakhir ialah Paskah Yahudi.
  • Pujian (eulogia) dan syukur (eucharistein) merupakan unsur dasar doa yahudi dan terutama liturgi Paska. eulogia dan eucharistein juga merupakan unsur konstitutif dalam perjamuan malam Yesus.
  • Pujian dan syukur dalam bahasa Ibrani diungkapkan dengan satu kata. Pujian-syukur adalah pengakuan terhadap kebesaran dan kebaikan Tuhan, sebagaimana dikatakan dalam “kemuliaan”: “kami bersyukur kepadamu karena kemuliaanMu yang besar”. “Bersyukur” dalam arti biblis-liturgis mengandung pujian dan pengakuan akan ketergantungan. “Bersyukur” berarti mengakui Allah sebagai Allah, khususnya dalam kebaikanNya sekarang.
  • Arti kata eulogia mencakup: karunia yang diberikan (berkat), pengenangan karunia itu dan kenikmatannya, kurban pujian yang berasal dari pada itu dan juga bahan kurban yang dipersembahkan pada kesempatan itu.

 2.    Ekaristi sebagai Kenangan Kurban Kristus dan Gereja

  • Kenangan. Dalam pengertian biblis (PL), arti “kenangan”/“mengenang” berarti mengingat, menghadirkan kembali dan menjadikan hidup kembali peristiwa-peristiwa di masa lampau. Mengenang berarti membuat peristiwa yang sama dari masa lalu itu hadir pada masa kini dan hadir (dalam arti tertentu) secara riil.
  • Dalam PB, konsep kenangan dikenakan pada Paska Tuhan, sehingga Ekaristi disebut sebagai kenangan akan Paska Kristus. Kenangan ini didoakan dalam semua Doa Syukur Agung sesudah kata-kata konsekrasi, yaitu doa anamnesis. Dengan merayakan Ekaristi Gereja mengenangkan Paska Kristus, yaitu misteri salib, wafat dan kebangkitanNya. Yang dihadirkan ialah kurban Kristus yang dilakukan satu kali untuk selamanya.
  • Kurban dalam arti biblis ialah suatu persembahan oleh manusia kepada Allah untuk menghormati kemahakuasaan Allah. Artinya manusia mengambil dan merelakan sebagian dari “miliknya” untuk diberikan kepada Allah. Tindakan-mempersembahkan ini merupakan ungkapan dari pengakuan bahwa apa yang dimilikinya bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi anugerah Allah. Jadi kurban menyiratkan pengakuan batiniah akan kemahakuasaan Allah, artinya mengakui Allah berkuasa atas segala yang dimilikinya.
  • Jadi Ekaristi sebagai kurban Kristus berdaya guna untuk semua orang asalkan tidak ada hambatan atau penolakan (sakramentalitas Gereja). Ekaristi sebagai sakramen yaitu sebagai ritus pengudus, adalah pertemuan antara Kristus dan orang beriman kepadanya.

 3.   Ekaristi sebagai Kehadiran Kristus oleh Sabda dan Kekuatan Roh Kudus

  • KV II melihat 4 bentuk kehadiran Kristus dalam liturgi, khususnya sakramen Ekaristi, yaitu dalam Gereja, dalam pribadi pelayan, dalam sabdaNya dan terutama dalam rupa roti dan anggur dalam Ekaristi (SC 7)
    • Kristus hadir dalam GerejaNya yang berkumpul untuk berdoa “karena ia sendiri berjanji”: Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitulah Aku berada di antara mereka (Mat 18:20).
    • Kristus hadir dalam “pribadi orang yang melaksanakan “pelayanan imami”; yang tertahbis (KGK 1373).
    • Kristus hadir “dalam sabdaNya”, sebab Ia sendiri bersabda bila KS di bacakan dalam Gereja”.
    • Kristus hadir “terutama dalam rupa Ekaristi”. Dalam Ekaristi roti dan anggur “diubah menjadi tubuh dan darah mulia (GS 38). KehadiranNya ini didasarkan pada sabdaNya sendiri: “ambilah, makanlah, inilah tubuh-Ku (Mat 26:26), inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu” (Luk 22:19), “inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Luk 22:28).

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: