Skip to content

Tiong Hoa Hwe Koan (THHK)

11 May 2013

Inspirator Budi Utomo

Pengantar

Perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) merupakan sebuah pergerakan masyarakat Tiong Hoa yang mungkin tidak begitu dipahami oleh kebanyakan orang pada masa kini. Sebenarnya, bila kita melihat dan mencoba menelisik ke dalam akan pergerakan ini, kita akan menemukan banyak hal-hal baru yang mungkin tidak tertulis dalam Sejarah Perjuangan Indonesia. Menurut penulis, seharusnya gerakan ini masuk dalam sejarah perjuangan Bangsa, karena gerakan THHK ini adalah gerakan yang dilakukan oleh orang Indonesia. Hal ini mungkin terjadi karena gerakan ini dinilai sebagai gerakan separatis dari kelompok kecil yang ada di Indonesia dan mungkin karena ada kata “Tiong Hoa” yang membuat mereka menjadi golongan minoritas yang pada saat itu belum begitu diakui sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Sebenarnya mereka juga adalah orang Indonesia, karena orang tua mereka juga adalah orang Indonesia.


Meski demikian keadaannya, gerakan ini masih terlihat separatis. Penulis menemukan beberapa kaitan gerakan THHK sebagai cikal bakal gerakan-gerakan Bumiputra yang kemudian mendirikan perkumpulan “Daya Upaya” di Batavia yang akhirnya mendirikan “Budi Utomo”. Di sisi lain, dalam tahun berdirinya gerakan THHK sebenarnya sudah terlihat bahwa gerakan ini lebih tua daripada gerakan Budi Utomo, yakni pada permulaan tahun 1900 dan diakui keberadannya secara sah dengan Surat Keputusan Gubernur Jendral tertanggal 3 Juni 1900. Jelas terlihat bahwa sumbangan THHK dalam pergerakan Nasional begitu besar, meski tidak banyak yang mengetahui sumbangan THHK bagi negara kita, Indonesia.
Dalam pemaparan singkat ini, penulis akan memaparkan secara singkat mengenai perjalanan Perkumpulan THHK yang nantinya akan menjadi sebuah inspirasi untuk pembentukan gerakan nasional terutama Budi Utomo. Mengapa penulis lebih mengarah pada pembentukan Budi Utomo? Ini karena ada kesamaan dalam tujuan dan persamaan dalam pergerakan awal Budi Utomo dalam menelurkan beberapa perubahan untuk masyarakat Jawa pada khususnya. Di lain sisi, penulis akan memberikan pemaparan berbentuk sinopsis dari buku The Origins of the Modern Chinese Movement in Indonsia sebagai sumber buku utama, dan pada akhir pemaparan ini, barulah penulis akan memaparkan keterkaitan gerakan THHK dengan gerakan Budi Utomo yang didukung dengan penemuan penulis dari beberapa sumber internet dan buku pendukung lainnya.
Perjalanan Awal Masyarakat Tiong Hoa

Tionghoa sudah mengunjungi banyak bagian dari kepulauan Indonesia jauh lebih awal dari bangsa Eropa. Hal ini terlihat dalam catatan perjalanan para musafir Fa Hien, I Tsing dan lain-lain. Bahkan, catatan dan penuturan dari para musafir Tiongkok inilah yang menjadi satu-satunya sumber sejarah untuk mengetahui keadaan di Sumatra dan Jawa di masa lampau. Ketika para saudagar Belanda pertama kali datang ke Batavia, mereka telah menemukan adanya saudagar-saudagar Tionghoa yang sebagian bahkan telah menjadi penduduk tetap (Huaqiao) di beberapa kota pelabuhan di pulau Jawa sejak beberapa abad yang lalu.
Meskipun bangsa Tionghoa terhitung sebagai orang asing pertama yang berdiam di pulau Jawa setelah bangsa Hindu, apalagi jumlah para Huaqiao ini juga paling banyak dibandingkan orang asing yang lain dan kedudukannya di bidang dagang sangat penting sekali, tapi pergerakan para Huaqiao yang terhitung maju dan modern baru muncul di permulaan abad ke 20. Ini bukan berarti para Huaqiao ini tidak pernah mendirikan perkumpulan-perkumpulan yang bertujuan amal, sosial dan lain-lain, hanya saja perkumpulan-perkumpulan yang ada itu masih tradisional, seperti yang nampak sekarang pada perkumpulan-perkumpulan klenteng atau perkumpulan yang mengurus rumah persemayaman jenazah dan sebagainya.
Pergerakan yang modern baru mulai muncul dan menjalar dengan cepat setelah berdirinya perkumpulan THHK Batavia. Satu catatan ringkas dari asal usul dan apa yang telah dilakukan oleh perkumpulan ini barangkali cukup berguna untuk diketahui oleh para Huaqiao di jaman sekarang, sebab sesungguhnya sejak didirikannya Tiong Hoa Hwe Koan di Batavia dapat dikatakan bahwa para Huaqiao di Indonesia mulai ‘sadar’ dan bersamaan dengan itu dimulailah satu periode jaman baru dalam sejarahnya. Bahkan setelah berdirinya THHK, barulah para Huaqiao di Indonesia yang masih menganut agama dan adat istiadat Tionghoa mendapatkan pencerahan kembali untuk memuliakan Nabi Kong Zi. Jadi bisa dikatakan bahwa berdirinya Khong Kauw Hwe dan perkumpulan Tionghoa lain yang menyusul bermunculan setelah itu adalah karena berasal dari bibit yang telah ditebarkan oleh THHK ini.
Selain itu, ada sejumlah perubahan dalam adat istiadat dan pergaulan dari para Huaqiao yang sudah diadakan atau digerakkan oleh THHK. Meskipun dalam pandangan orang jaman sekarang semua usaha THHK itu tampak tidak seberapa penting, tapi tidak bisa disangsikan lagi bahwa THHK telah menjadi pembuka jalan bagi perubahan yang lebih besar. Bahkan dalam bidang olahraga, THHK telah menjadi pelopor dengan didirikannya perkumpulan olahraga Tiong Hoa Oen Tong Hwe yang dipimpin dan digerakkan oleh guru-guru dan pengurus dari THHK Batavia. THHK merupakan pusat atau sumber dari segala macam pergerakan orang Huaqiao yang kemudian menyebar ke pelbagai bidang, dan meskipun pada waktu itu hasil usaha yang dilakukan tidak seberapa berarti dan masih jauh dari sempurna, tapi dalam perkumpulan THHK ada tergabung seluruh tenaga dan semangat atau kemauan untuk berkarya, merubah, memperbaiki, menolong, memajukan dan mengangkat derajat kebangsaan.

Latar Belakang berdirinya Tiong Hoa Hwe Koan (THHK)

Latar belakang berdirinya THHK tidak sesederhana yang diketahui masyarakat pada umumnya, yakni hanya atas anjuran dari Kang Youwei atau Dr. Liem Boon Keng . Memang benar bahwa kedua orang bijaksana ini secara tidak langsung telah mendorong kelahiran perkumpulan THHK, tetapi masih ada alasan lain yang menyebabkan beberapa orang Huaqiao di Jawa sampai mempunyai ide mewujudkan berdirinya satu perkumpulan yang aturan dan tujuannya berbeda jauh dengan perkumpulan lain yang ada pada masa itu.Bantuan tidak langsung dari Kang Youwei mengenai kelahiran perkumpulan THHK terletak pada perjalanan sejarah Cina.
Berawal dari kelemahan dan bobroknya dinasti Qing yang menjadi semakin nyata ketika Rusia berhasil menduduki Port Arthur dan Dairen, Jerman merampas Kiaochow, Inggris mengambil Weihaiwei dan Perancis menduduki Teluk Guang Zhu. Dinasti Qing saat itu bahkan menyewakan Hongkong kepada Inggris selama 99 tahun sejak tahun 1898, mendadak pada bulan Juni 1898 tersiar kabar bahwa Kaisar Guang Xu atas nasehat dan anjuran dari Kang Youwei, telah mengeluarkan serentetan Perintah Kaisar yang isinya memerintahkan dilakukannya beberapa perubahan besar dan penting untuk memodernisasi Tiongkok. Saat itu, orang Tionghoa termasuk para Huaqiao yang tinggal di luar negeri dan yang wawasannya lebih luas, memiliki harapan akan bisa dengan cepat menyaksikan bangkitnya Tiongkok menjadi negara yang maju dan kuat dibawah kepemimpinan Kang Youwei yang mendapat kepercayaan besar dari kaisar Guang Xu. Tapi harapan yang ini tidak berlangsung lama. 100 hari kemudian pada tanggal 22 September 1898, Ibu suri Ci Xi tiba-tiba mengadakan kudeta dan merampas kekuasaan negara dari tangan kaisar Guang Xu yang kemudian ditahan dalam satu kamar istana sedang Kang Youwei dan para pembesar lain yang mendukung Reformasinya terancam akan dihukum mati. Hanya dengan bantuan dari Konsul Inggris, Kang Youwei berhasil menyelamatkan diri dan lari menyingkir ke Hongkong. Sejak itu Kang Youwei mengembara di luar Tiongkok dan giat menganjurkan para Huaqiao supaya mendukung gerakan reformasi di Tiongkok dengan menyelamatkan kaisar Guang Xu dan melawan kekuasaan konservatif yang dipimpin oleh Ibusuri Ci Xi.
Perkumpulan yang digerakkan oleh Kang Youwei itu dinamakan Po Hong Hui atau Po Hong Tong yang berarti Perkumpulan Untuk Menunjang Kaisar Guang Xu dengan harapan kaisar yang berpikiran liberal itu kelak bisa berkuasa kembali sehingga segala reformasi yang dilakukan untuk memajukan Tiongkok segera tercapai. Jadi tujuan dari pergerakan Kang Youwei ini berbeda dari Dr. Sun Yat Sen yang hendak menggulingkan dinasti Qing, dinasti bangsa Manzu itu.
Pada jaman gelap itu, rakyat Tionghoa selalu teringat pada usaha pembaharuan yang dilakukan oleh Kang Youwei, dimana saat itu harapan rakyat sudah begitu tinggi. Hal ini pastilah memberi pengaruh diantara para Huaqiao yang berpikiran luas untuk meniru teladan Kang Youwei untuk diterapkan pada kalangan mereka sendiri dan untuk mencapai kemajuan. Usaha ini coba diwujudkan dengan pendirian THHK yang bertujuan mengadakan perbaikan atas adat istiadat bangsa Tionghoa seperti pernikahan dan kematian.
Bantuan atau anjuran yang tidak langsung dari Dr. Liem Boon Keng terlihat pada:
Pada awal tahun 1900, Sukabumische Snelpers Drukkerij di Sukabumi telah menerbitkan terjemahan bahasa Melayu dari kitab Thai Hak dan Tiong Yong yang dikerjakan oleh Tan Ging Tiong dengan dibantu oleh Yoe Tjai Siang. Dalam kata pengantar tertanggal 24 Februari 1900 yang terdapat dalam kedua kitab terjemahan itu, Tan Ging Tiong menulis bahwa tuan Liem Boen Keng yang telah mendirikan Khong Kauw Hwe di Singapura dan Malaka mengatakan bahwa hingga kini belum ada seorangpun yang sanggup menerjemahkan kitab Thai Hak dan Tiong Yong ke dalam bahasa Melayu dengan sempurna. Karena itu ia mengharap jika terjemahan kami sudah selesai dicetak, dia berharap agar dia dikirimi satu untuk diperiksa oleh perkumpulan Khong Kauw Hwe yang didirikannya.
Dari sedikit penuturan ini, kita bisa mengetahui bahwa Dr. Liem Boon Keng sudah mendirikan satu perkumpulan agama Khonghucu di Singapura dan Malaka lebih dahulu dibandingkan THHK di Batavia.
Tuan Yoe Tjai Siang yang membantu Tan Ging Tiong, dalam kata pengantar yang tertanggal 15 Januari 1900 menganjurkan agar para Huaqiao di Jawa juga mendirikan satu perkumpulan yang bertujuan mempelajari agama Khonghucu. Anjuran ini dapat dilihat dalam catatannya sebagai berikut : ‘ … Maka untuk dapat memperdalam agama Khonghucu sebaiknya didirikan sebuah organisasi lengkap dengan para pengurusnya. Semua orang yang ingin bergabung dalam organisasi ini harus dipandang sebagai orang yang sungguh-sungguh mempunyai keinginan untuk belajar.’
Terbitnya penerjemahan kitab Thai Hak dan Tiong Yong ini segera mendapatkan banyak perhatian dari para sastrawan-sastrawan yang paham dengan bahasa Mandarin. Ini ditindaklanjuti dengan penerbitan surat kabar mingguan Li Po di Sukabumi yang dipimpin juga oleh Tan Ging Tiong dan Yoe Tjai Siang.
Begitulah bisa diketahui bahwa usaha untuk membangkitkan kembali agama Khonghucu di Jawa sudah mulai dilakukan sejak Tan Ging Tiong bertemu dengan Dr. Liem Boon Keng di Singapura.
Melihat pasal dua dari Anggaran Dasar THHK Batavia, akan didapati tentang tujuan atau maksud dari pendirian THHK sebagai berikut :
a. Memajukan adat istiadat bangsa Tionghoa, sedapat-dapatnya dengan menurut pada ajaran Nabi Khonghucu dan tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Juga untuk memajukan pengetahuan bahasa dalam hal membaca maupun tulis-menulis dalam bahasa mandarin di kalangan Huaqiao peranakan.

b. Mengupayakan dan mengembangkan apa yang tercantum dalam butir a diatas agar dapat terwujud di wilayah Betawi dan juga daerah lain di Hindia Belanda. Mendirikan gedung atau tempat untuk dijadikan tempat berkumpulnya para anggota THHK untuk membicarakan masalah organisasi dan perkara lain yang mempunyai kepentingan untuk masyarakat banyak. Mengadakan dan memelihara sekolah-sekolah ataupun perguruan-perguruan guna memajukan pendidikan seperti tercantum pada butir a diatas dengan senantiasa tidak melanggar ataupun menentang UU yang berlaku.

c. Mendirikan perpustakaan yang berfaedah untuk memajukan pengetahuan.

Dalam hal ini terlihat bahwa tujuan pertama dari perkumpulan THHK adalah mencoba mengadakan pembaharuan dalam adat istiadat bangsa Tionghoa dengan berpedoman pada ajaran agama Khonghucu, tahap selanjutnya adalah untuk memajukan pengetahuan bahasa mandarin dimana pada saat bersamaan diupayakan berdirinya sekolah-sekolah dan juga perpustakaan. Selain itu, ada sebuah angan-angan untuk melakukan perubahan seperti yang dilakukan oleh Kang Youwei dan juga niat mengembangkan agama Khonghucu seperti yang dilakukan oleh Dr. Liem Boon Keng di Singapura. Diluar itu pun masih ada beberapa sebab alasan berdirinya THHK yang juga dianggap penting, tapi ini hanya menyangkut kepentingan bangsa Tiong Hoa di Hindia Belanda.

THHK dengan Pendidikan (terutama untuk pendidikan para Huaqiao)

Pada dasarnya, THHK mempunyai tujuan utama untuk menyiarkan ajaran agama Khonghucu dan bukan memajukan pendidikan para Huaqiao di Indonesia. Sedangkan sekolah-sekolah yang diadakan oleh THHK semula dijadikan alat agar murid-muridnya bisa membaca dan mengerti kitab-kitab suci agama Khonghucu yang tercetak dalam bahasa mandarin. Akan tetapi diantara para pendiri THHK ini ada juga beberapa orang yang mempunyai pikiran dan angan-angan yang lain, yakni hendak menggunakan sekolah-sekolah THHK ini sebagai alat untuk mendesak pemerintah Belanda agar menaruh perhatian terhadap pendidikan bagi para Huaqiao yang pada masa itu tidak dipedulikan sama sekali oleh pemerintah penjajah ini.
Beberapa orang ini bukannya tidak setuju atau menganggap para Huaqiao tidak penting untuk mempelajari bahasa mandarin dan mempelajari ajaran Nabi Kong Zi yang juga sangat mereka junjung tinggi, tapi saat itu mereka menilai bahwa pada masa-masa penjajahan jika para Huaqiao ingin dipandang penting kedudukannya oleh pemerintah Belanda, maka lebih penting bagi mereka untuk mengerti bahasa Belanda ketimbang bahasa Mandarin. Masalahnya tidaklah mudah bagi anak-anak Huaqiao untuk masuk dan belajar di sekolah-sekolah berbahasa Belanda yang didirikan oleh pemerintah. Jika mereka tidak mempunyai hubungan baik dengan para residen atau asisten residen yang biasanya menjadi kepala dari komisi sekolah, jangan harap anak-anak Huaqiao itu bisa diterima untuk bersekolah. Dan kalaupun kepala komisi itu sudah menyetujui atau tidak menghalangi seorang anak Huaqiao untuk bersekolah, biasanya niat bersekolah ini masih biasa dihalangi oleh Kepala Sekolah dengan alasan “Tidak ada bangku kosong!”. Tidak hanya itu biaya sekolahnya juga selalu diberi tarif yang lebih tinggi dari anak-anak Eropa yang lain, kira-kira f 15 per anak. Selain itu terkadang juga masih dikenakan aturan dimana anak-anak Huaqiao itu harus lebih dahulu bisa berbahasa Belanda dan memahami segala aturan orang Eropa, ini menyebabkan si orang tua terpaksa harus menitipkan anak-anaknya pada salah satu sekolah dengan pembayaran SPP yang sangat mahal sekali yaitu dari f 80 sampai f 100 per-anak. Dari sini bisa diketahui bahwa jika anak-anak Huaqiao yang ‘beruntung’ itu tentulah anak dari seorang kapten Tionghoa atau anak dari seorang hartawan yang berpengaruh besar.

THHK sebagai Pembela kepentingan penduduk Tionghoa di Hindia Belanda

Pada masa-masa ini, hampir di setiap kota terdapat orang Huaqiao terpelajar yang bersedia maju ke depan untuk membela kepentingan kaumnya bila terjadi perlakuan tidak adil atau tertindas oleh peraturan-peraturan dari pemerintah penjajah yang sangat memberatkan. Mungkin karena sebab inilah jasa THHK nampak sedikit. Saat itu orang Huaqiao yang bisa berbicara, membaca, dan menulis bahasa Belanda. THHK merupakan perkumpulan kaum Huaqiao modern pertama dan satu-satunya dimana didalamnya duduk orang-orang Huaqiao yang paling pandai, giat dan gemar memperhatikan nasib kaumnya, maka wajar jika perkumpulan ini menjadi pusat pergerakan, bukan saja dari gerakan merubah adat istiadat, pendidikan dan pelajaran agama Khonghucu melainkan juga pusat gerakan untuk membela kepentingan kaum Huaqiao di Hindia Belanda dari segala perlakuan tidak adil, baik dengan jalan melakukan perlawanan, maupun dengan jalan mengajukan petisi-petisi yang berisikan keberatan.
Benar bahwa THHK tidak bertindak diluar dari apa yang telah ditentukan dalam AD/ART perkumpulan (yang diakui oleh pemerintah Belanda), tetapi dalam kalangan perkumpulan itu, yakni diantara para pengurus pada saat berkumpul ataupun sedang duduk ngobrol-ngobrol, mereka juga membicarakan segala macam urusan yang dirasa bisa memberikan manfaat bagi kaum Huaqiao pada umumnya. Disinilah dilahirkan segala pikiran atau pembicaraan yang pada akhirnya membawa hasil penting yang menentukan bagi nasib para Huaqiao di Hindia Belanda. Pemikiran itu bukan saja dalam kalangan pendidikan tetapi juga dalam bidang ekonomi serta beberapa tindakan untuk mendapatkan hak dan perlakuan lebih baik sebagai penduduk tetap atau warga negara Indonesia, dan bahkan berkembang menjadi gerakan nasionalis serta percobaan untuk membuat bentuk hubungan yang lebih erat dengan Tiongkok.
Cara kerja THHK Batavia tidak hanya dalam lingkup internal perkumpulan saja melainkan sebagian besar berada di luar perkumpulan. Mereka inilah yang mempunyai pemikiran untuk menerbitkan sebuah surat kabar harian berbahasa Melayu dengan modal kaum Huaqiao untuk membela kepentingan kaum Huaqiao. Adapun harian yang semula diberi nama ‘Kabar Perniagaan’ lalu diringkas menjadi ‘Perniagaan’ dan berubah menjadi ‘Siang Po’ yang bertahan hingga sekarang. Sejak beberapa tahun yang lalu boleh dibilang menjadi satu organisasi dibawah THHK Batavia dan terhitung sebagai surat kabar berbahasa Melayu satu-satunya pada jaman itu yang berani membeberkan segala penindasan terhadap para Huaqiao dan juga memuat kritikan-kritikan yang sangat tajam. Banyak kritikan-kritikan yang disampaikan pada pemerintah melalui surat kabar, dan melalui media inilah THHK berjuang demi kepentingan kaum Huaqiao.

Hasil-Hasil Yang Didapat Oleh THHK

THHK adalah perkumpulan Huaqiao pertama dan satu-satunya yang mencoba memperbaiki keadaan mereka. Hasil dari perkumpulan THHK yang tidak bisa dibantah antara lain:
a. Anak-anak Huaqiao mendapatkan pelajaran bahasa mandarin dengan sistem pengajaran modern yang dipimpin oleh guru-guru yang berkompeten. Dan gerakan mendirikan sekolah-sekolah modern ini dengan cepat menyebar ke seluruh Hindia Belanda dengan cepat bagaikan jamur di musim hujan.
b. Pemerintah Belanda akhirnya terpaksa mendirikan HCS dan membuka pintu sekolah-sekolah lain yang selama ini tertutup bagi anak-anak Huaqiao.
c. Walaupun tidak sepenuhnya berhasil, tapi nampak adanya beberapa perubahan dalam adat istiadat dan kebiasaan para Huaqiao yang bersifat mengurangi pelbagai keruwetan.
d. Membangkitkan kembali perhatian para Huaqiao terhadap ajaran agama Khonghucu.
e. Membangkitkan perasaan nasionalisme dan adanya gerakan merapat pada tanah leluhur (Tiongkok).
f. Menganjurkan pemuda-pemuda Huaqiao agar lebih giat bergerak dalam bidang olahraga, sosial dan lain-lain. Perkumpulan Olahraga Huaqiao yang pertama yakni Zhong Hua Yin Dong Hui di Batavia (sekarang berubah nama menjadi U.M.S.) telah didirikan oleh para pemuka dan guru-guru sekolah THHK Batavia. Perkumpulan Xiong Di Hui yang didirikan oleh beberapa pemuda di Buitenzorg, semula bertujuan untuk mengikuti tindakan dari THHK ini.
g. Munculnya kesadaran dari Pemerintah Belanda (walaupun ini mungkin terpaksa dilakukan dan bukannya dengan sukarela dilakukan oleh penjajah ini) untuk menghapuskan atau sekedar merubah aturan-aturan diskriminatif yang menyusahkan bangsa asing dari Timur dan mengurangi beberapa perbedaan yang sangat menyolok mata.
h. Memberi kesadaran kepada kaum wanita Huaqiao untuk ikut ambil bagian dalam pergerakan sosial dan pendidikan sebab sekolah-sekolah yang dikelola THHK juga mengajarkan olahraga, gimnastik, pekerjaan tangan, musik dan lain-lain pada murid-murid perempuannya. Mereka inilah yang belakangan menjadi pemimpin atau penganjur dari pergerakan kaum perempuan.
i. Gerakan THHK ini juga memicu kebangkitan kaum Bumiputra untuk menirunya dan kemudian mendirikan perkumpulan ‘Daya Upaya’ di Batavia yang mengandung tujuan seperti THHK hingga akhirnya mendirikan ‘Budi Utomo’ yang kemudian menjalar menjadi pergerakan nasional Indonesia!
j. Majunya bangsa Tionghoa dalam bidang jurnalistik dan penerbitan majalah-majalah agama Khonghucu. Selain berdirinya harian Perniagaan (sekarang bernama Siang Po) yang merupakan alat dari THHK Batavia, muncul juga surat kabar-surat kabar mingguan yang bertujuan menyiarkan ajaran agama Khonghucu. Ini segera disusul dengan terbitnya pelbagai media lain seperti: Li Po dan Tiong Hoa Wie Sin Po di Bogor, Ik Po di Solo, Loen Boen di Surabaya dan lain-lain.
k. Membangkitkan kembali perhatian pemerintah Tiongkok (awalnya pemerintah dinasti Qing [1644 – 1912] dan dilanjutkan oleh Republik Tiongkok [1912-1949]) terhadap para Huaqiao di Nanyang (negeri-negeri di sebelah selatan Tiongkok termasuk Hindia Belanda), hingga hampir setiap tahun dikirim utusan dari Tiongkok untuk menilik keadaan para Huaqiao dan beberapa kali juga dikirim kapal-kapal perang, pengawas pendidikan serta didirikannya Khay Lam Hak Tong, universitas khusus bagi anak-anak Huaqiao yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dimana biaya pendidikannya bahkan ditanggung oleh pemerintah Tiongkok. Juga ada beberapa tindakan dari pemerintah Tiongkok yang bersifat membela dan melindungi kepentingan kaum Huaqiao.
l. Keinginan untuk bersatu atau bekerjasama antar sesama Huaqiao yang tadinya hidup di ‘kampung China’ masing-masing, ini bisa dilihat dari konferensi tahunan yang diadakan oleh Hak Boe Tjong Hwe yang belakangan ditiru oleh perkumpulan lain seperi Chung Hsioh, Xiong Di Hui dan lain sebagainya.

Melihat begitu besar hasil yang didapat oleh THHK ini baik secara langsung ataupun tidak langsung (bersifat sebagai pemicu gerakan yang lain), maka akan kurang betul dan sangat salah jika ada orang yang mengatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh THHK ini adalah satu kegagalan (atau kesia-siaan) belaka.

Hubungan Antara THHK Dengan Pergerakan Nasional Terutama Budi Utomo

Dalam buah-buah gerakan THHK bagian ‘i’, yakni: THHK memicu gerakan Bumiputra yang kemudian menjadi gerakan ‘Daya Upaya’ dan yang kemudian berkembang menjadi ‘Budi Utomo’, merupakan salah satu gagasan yang baru ditemukan oleh penulis dalam penggarapan pemaparan singkat ini. Gerakan Budi Utomo memiliki beberapa kesamaan dengan perjalanan THHK dalam memperjuangkan pendidikan dan perkembangan kebudayaan masyarakat Tionghoa pada saat itu. Dalam perjalanan berikutnya, memang ada pergeseran dalam pergerakan Budi Utomo yang lebih nasionalis. Akan tetapi jika kita melihat perjalanan THHK, banyak kemiripan dengan perjalanan Budi Utomo dalam memperjuangkan pendidikan bagi masyarakat Jawa, sehingga didirikannya HIS (Holland Indisce School). Perjalanan Budi Utomo juga melalui berbagai jalan yang sama dengan THHK. Mereka juga mengajukan beberapa keberatan mereka atas perlakuan pemerintahan Belanda dalam memperlakukan masyarakat Jawa, terlebih dalam hal pendidikan. Perkembangan lain juga tidak dapat dilupakan begitu saja. Budi Utomo menjadi poros pergerakan Nasional Indonesia yang juga menginspirasi kaum muda di Indonesia untuk berani maju dan berjuang mempertahankan Tanah Air Indonesia.
Bila dibayangkan, jika tidak ada THHK, mungkin kegelisahan yang dialami para priyayi jawa ini tidak akan terfasilitasi, dan tentunya kita perlu berterima kasih atas gerakan THHK yang berani dan inspiratif. Karena gerakan ini adalah inspirator gerakan lain, maka tidak baik jika gerakan ini dilupakan dan tidak dimasukkan dalam sejarah Indonesia. Orang TiongHoa adalah juga orang Indonesia dan mereka ikut berujuang memajukan bangsa Indonesia.

Sumber Bacaan Utama:

Hoai, Kwee Tek. The Origins Of The Modern Chinese Movement In Indonesia. Translate and edited by: Lea E. Williams. Cornell University. Ithaca, New York:1969
Sumber Pendukung lain:
Kartodirjo, Sartono. Sejak Indische Sampai Indonesia. Kompas. Jakarta:2005
Kartodirjo, Sartono. Sejarah Pergerakan Nasional Jilid 2.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta:1993.
Muljana, Slamet. Kesadaran Nasional dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan. LkiS. Yogyakarta: 2008
Sumber Pendukung dari Internet:

http://koleksikemalaatmojo.blogspot.com/2008/08/buku-lamalangka-riwajat-40-taon-tiong.html
http://mochtariwumbo.blogspot.com/2012/05/kitab-suci-agama-khonghucu.html
http://sketsaindonesia.com/wp/?p=28
http://en.wikipedia.org

From → coretan

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: