Skip to content

Belajar bersilogisme (salah satu aliran dalam Logika berfilsafat)

9 November 2014

logika-edit1Pendahuluan

Dalam hidup ini, kita tidak mungkin lepas dari logika. Dengan logika, kita bisa menemukan nilai-nilai tertentu yang baik untuk perkembangan hidup kita di masa mendatang. Logika pada dasarnya merupakan suatu ilmu berpikir lurus ke depan. Hal ini membuat logika bisa dirasakan dan bisa diaktualisasikan dalam diri kita.

Dalam kesempatan ini, kami membahas pengaplikasian silogisme dalam sebuah kasus ‘mendapatkan hadiah dalam undian’. Yang namanya undian, pasti semuanya menggunakan keberuntungan, tapi lain halnya dengan pemikiran seorang Black Hacker[1], yaitu Kevin Poulsen.

Setelah kisah Kevin Poulsen ditelaah lebih dalam, kami menemukan beberapa pengaplikasian silogisme yang terkandung dalam cuplikan kisah seorang hacker legendaris ini. Kami melihat semua ini dari sudut pandang dua premis yang saling berhubungan, mengandung sebab akibat, dan memiliki keterkaitan satu sama lain.

Teori Logika yang dipakai

Kami memakai teori Silogisme dalam menganalisis kasus yang disajikan pada pembahasan ini. Pada dasarnya Silogisme sendiri sendiri bisa diartikan dua penyimpulan, dimana dari dua keputusan (premis-premis) disimpulkan suatu keputusan yang baru. Keputusan yang baru itu berhubungan erat sekali dengan premis-premisnya. Keeratannya terletak dalam hal ini: Jika premis-premisnya benar, dengan sendirinya atau tidak dapat tidak kesimpulannya juga benar.[2]

 

Contoh KASUS

Demi Mimpi Menang Lotere[3]

Siapa yang tidak tergiur? Sebuah mobil Porsche 44 S2 seharga USD 50 ribu menjadi hadiah utamanya. Hadiah ini diberikan kepada orang yang berhasil menjadi penelepon ke-102 pada acara “Win a Porsche by Friday”, yang digelar oleh KISS FM 102, sebuah stasiun radio di Los Angeles Amerika Serikat.

Wajar saja, hari Jumat 1 Juni 1990 itu 25 jalur telepon yang disediakan stasiun radio KISS FM sangat sibuk. Bahkan bukan cuma padat, jalur-jalur telepon itu macet! Banyak orang mulai dari ibu rumah tangga, pelajar sampai pebisnis menyerbu nomor telepon milik stasiun radio itu. Tapi untuk berhasil menelepon ke nomor-nomor yang tersedia itu susahnya minta ampun.

Mobil Porsche itu akhirnya jatuh ke seorang pendengar yang berhasil menjadi penelepon  ke-102. si pemenang pasti gembira, sementara para pendengar yang gagal men-dial nomor-nomor tetepon stasiun radio boleh kecewa atau boleh ikut senang membayangkan kegembiraan si pemenang.

Kelihatannya acara ini berjalan beres-beres saja: fair dan sukses. Pengelola stasiun radiopun adem ayem saja, sampai FBI mendatangi mereka.

“Agen FBI ke sini dan tidak bilang apa-apa. Mereka cuma bilang ‘kami dari FBI dan cuma mengambil beberapa File’ kata Karen Tobin Vice President untuk KISS FM.” Belakangan para pengelola stasiun baru ngeh bahwa peraih hadiah pertama: “Win a Porsche by Friday” itu adalah seorang Hacker. “sebelumnya kami benar-benar tidak tahu bahwa kami menjadi korban,” tambah Karen.

Kekagetan bukan K-EARTH101dialami oleh pengelola stasiun radio KIiS FM, tapi juga oleh beberapa pengelola stasiun radio yang jugamenggelar acara serupa. Stasiun radio K-EARTH101 yang menyediakan hadiah utama tiket perjalanan ke Hawaii besertauang tunai USD 1000, misal. “kami tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya sampai kemudian kami diberitahu,” kata Beverly Ward, Program Asistant di stasiun radio  K-EARTH101. menurut penyidik, si hacker berhasil ngerjain 4 stasiun radio yang menggelar acara serupa.

Siapakah sang hacker itu? Dialah Kevin Poulsen, salah satu hacker yang paling diburu oleh para aparat keamanan di Amerika Serikat saat itu. Ketika berhasil mengerjain stasiun-stasiun radio itu, Poulsen sebetulnya sedang buron untuk beberapa aksinya yang lain. Tapi, aksi Poulsen untuk mendapat hadiah-hadian utama di berbagai stasiun ini dianggap sebagai aksi hacking yang kreatif. Dalam kasus KISS FM, Poulsen tidak bekerja sendiri, dia didukung oleh beberapa hacker lainnya: Ronald Austin dan Justin Peterson. Selama acara “Win a Porsche by Friday” itu berlangsung, Poulsen dan kawan-kawannya mengendalikan sistem telepon stasiun radio itu. Mereka memblokir jalan telepon KISS FM untuk memastikan bahwa hanya mereka yang bisa menjadi penelepon yang ke-102 pada acara itu. Itulah sebabnya, ketika acara itu berlangsung banyak pendengar radio yang gagal masuk ke jalur KISS FM, sementara Poulsen dengan enteng sambil memelototi layar komputernya sambul melenggang menjadi pemenang.

 

PEMBAHASAN

Apabila kita melihat kasus diatas dengan teliti, maka akan terlihat kejadian-kejadian yang terdapat dalam kasus terebut menerapkan salah satu teori logika, yakni silogisme. Oleh karena itu, pada bagian berikut, kami akan mencuplik beberapa penggal dari kasus diatas yang merupakan terapan dari silogisme.

 

  1. * Jika menginkan mobil Porsche 944 S2, jadilah penelefon KIIS FM yang ke- 102

* Poulsen ingin memiliki mobil Porsche 944 S2

۩ Poulsen menelefon KIIS FM

 

  1. * Jika ada orang yang dapat memblokir jalur telepon KIIS FM, maka ia    bisa     menempatkan dirinya pada urutan ke- 102.

* Poulsen dapat memblokir jalur telepon KIIS FM.

۩ Poulsen bisa menempatkan dirinya pada urutan ke-102.

3. * Penelefon ke-102  berhak mendapatkan mobil Porsche 944 S2.

             * Poulsen adalah penelefon ke-102.

۩ Poulsen berhak mendapatkan mobil Porsche 944 S2.

      4.    *  Black hacker selalu melakukan tindakan kriminal.

* Poulsen adalah seorang black hacker.

۩ Poulsen melakukan tindakan kriminal.

kesimpulan

Melihat pembahasa diatas, apa yang dilakukan oleh Kevin Poulsen adalah suatu tindakan logis, yaitu ia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia juga menggunakan cara-cara berpikir sederhana dengan menahan atau memblokir jalur telepon, sehingga ia bisa menjadi penelepon pada urutan yang ia inginkan. Dalam penentuan syaat yang diajukan oleh KIIS FM, Kevin Poulsen tidak melakukan suatu pelanggaran, akan tetapi bila dilihat dari prosedur untuk mengikuti kuis itu, Kevin Poulsen telah melakukan tindakan kriminal.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lanur, Alex. Logika: Selayang Pandang. Yogyakarta: Kanisius. 1983.

Sumaryono, E. Dasar-dasar Logika. Yogyakarta: Kanisius. 1999.

Hidayat, Wicak dan Yayan Sopyan. Di Balik Kisah-kisah HACKER Legendaris. Jakarta: Mediakita. 2007.

[1] Hacker dibagi dalam tiga kelas yaitu White Hacker (hacker yang tidak merugikan sesama/tidak merusak sesuatu), Gray Hacker (hacker setengah baik setengah buruk), dan Black Hacker (hacker yang merusak sesuatu, termasuk dalam kriminalitas)

[2] bdk. Alex Lanur. Logika: Selayang Pandang,(2006) hal 41

[3] bdk. Wicak Hidayat dan Yayan Sopyan. “Dibalik Kisah-Kisah Hacker Legendaris”. (1999) Hal. 91-94.

From → coretan

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: