Skip to content

Dosa Asal

Adam & Eve WEBAJARAN TENTANG DOSA ASAL

dan

PERKEMBANGAN TEOLOGI MODERN TENTANG  DOSA ASAL

Pertanyaan Kritis:

  • Apakah dosa asal merupakan suatu kebenaran yang otentik?
  • Apakah konsep dosa asal hanyalah sebuah dongeng/mitos semata?
  • Apakah Adam adalah sumber segala dosa manusia?
  • Mengapa Gereja menetapkan ajarah dosa asal?
  • Apa yang dikatakan Kitab Suci dan Tradisi Kristiani soal dosa asal?
  • Apakah ajaran dosa asal masih relevan dewasa ini?
  • Apa makna dosa asal bagi penghayatan iman umat sekarang ini?
  • Bagaimana dosa asal ini harus dipandang dengan benar dan tepat?

 

Pemahaman Dasar dalam Pembahasan:

  • Dosa pertama-tama harus dipahami dalam konteks relasi atau hubungan manusia dengan Allah. Dosa dapat dipahami sebagai sikap menyerahkan diri pada daya tarik untuk menjadi otonom yang mutlak. Singkatnya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tolok ukur segalanya (baik dan jahat). Dosa menunjukkan sikap yang hendak mencapai, mendapat, atau mengetahui apa yang bukan menjadi miliknya atau seharusnya. Inti dari dosa ialah keterpisahan diri dari Allah (ketidaktaatan), ingin memper-tuhan-kan dirinya sendiri. (lih. KGK 397-398)
  • Dosa asal tidak dimengerti sebagaimana tindakan dosa pribadi. Istilah dosa asal dikemukakan oleh Agustinus. Dosa asal adalah “dosa” dalam arti analog, artinya manusia menerima keadaan dosa, tetapi tidak melakukan dosa. Dosa asal adalah “situasi dosa”, suatu keadaan, bukan perbuatan. Sementara itu, dosa pribadi adalah perbuatan dosa individu yang memberikan keputusan bebasnya kepada kecenderungan kepada yang jahat. (lih. KGK 404)
  • Dosa asal mengacu kepada akibat dosa Adam yakni manusia kehilangan rahmat pengudus, sehingga terbelenggu oleh concupiscentia (kecenderungan pada yang jahat). Dasar pemikirannya adalah Adam tidak menerima kekudusan dan keadilan asli untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh kodrat manusia. Dosa Adam dan Hawa menimpa kodrat manusia, yang selanjutnya diwariskan dalam keadaan dosa (dosa asal). Adam dan Hawa meneruskan kepada keturunannya kodrat manusiawi yang terluka sehingga membuat manusia lemah dalam kekuatannya, ditaklukkam kepada kebodohan, kesengsaraan, kekuasaan kematian, dan kecondongan kepada dosa. (KGK 418)
  • Kisah Penciptaan – Peristiwa Penebusan Kristus dilihat dalam satu rangkaian sejarah dan karya keselamatan. Maksudnya adalah apa yang menjadi peristiwa awali menjadi jelas dalam masa kini. Lebih dari itu, Pembahasan tentang Kristus dan Adam tidak boleh bertitik tolak pada Adam kemudian Kristus, tetapi harus bertitik tolak dari Kristus dan kemudian Adam. Dari sinilah, kerangka berpikir bahwa penebusan oleh Kristus jauh mengatasi kedosaan manusia akan lebih mudah dipahami. Dosa tidak lagi dilihat lebih superior daripada penebusan Kristus.

Tesis:

Dosa asal merupakan suatu realitas yang termuat dalam Kitab Suci, diakui oleh para Bapa Gereja, dan menjadi ajaran iman Gereja.

Relevansi:

            Keselamatan kristiani ialah penebusan yang utama dan pembebasan dari dosa. Kitab Suci dan tradisi menunjukkan bahwa keberadaan dalam dosa yang dialami manusia bukan hanya akibat dosa pribadi, tetapi akibat pemberontakan manusia pada kejatuhan manusia pertama dalam sejarah. Kita memelajari bahwa keberdosaan ini masuk dalam diri manusia yang lahir, sehingga untuk membawa manusia keluar dari situasi kedosaan tersebut membutuhkan inisiatif rahmat belas kasih Allah dan Kristus Yesus, serta kondisi tanggapan iman atas ajakan penyelamatan Allah. Aspek sosial menjadi amat penting dalam konteks ini untuk melihat dimensi sosial dari dosa ini.

Pengertian Sementara Dosa Asal:

            Kita membutuhkan suatu pengertian sementara waktu yang sesuai dengan teori-teori modern tentang dosa asal yang dikemukakan oleh penulis (teolog) katolik. Kita bermaksud untuk menetapkan pandangan kristiani perihal hal ini melalui suatu pernyataan atau rumusan. Definisi sementara kita yakni dosa asal adalah situasi tidak sempurna atau rusak yang mengenai setiap manusia yang lahir, karena alasan inilah manusia memerlukan penebusan kristus, demi ketegasan dirinya untuk mengakui Allah atau melawan Allah.

            Pengertian sementara ini membawa keluar dari perbedaan antara dosa asal dengan tindakan dosa yang diperbuat. Dosa asal ini memengaruhi keputusan dalam diri manusia, dan berimbas pada manusia bahkan sejak awal kehadiran manusia.

DOSA ASAL DALAM TERANG KITAB SUCI

Gagasan Dosa yang Diturunkan/Diwariskan

            PL dan PB mengajarkan bahwa keturunan manusia mewarisi dosa nenek moyangnya. Hal utama yang dialami adalah penderitaan dan kematian fisik. Namun sebelum akhir masa pra-kristiani makna spiritualnya yakni kecenderungan pada si jahat yang menjadi kelemahan manusiawi dirusak oleh karena dosa Adam.

            Kejadian bukan sekadar kisah tentang manusia, tapi merupakan upaya untuk menjelaskan kematian dan penderitaan asali manusia. Kisah kejatuhan yang terkadang dipandang sebagai mitos dan diadopsi ini hendak menunjukkan bahwa dosa manusia yang menjadi tanggungjawabnya itulah yang mengakibatkan berbagai kejahatan dalam hidupnya: kematian, penderitaan, perpecahan, status wanita yang dipandang rendah, dan kecenderungan universal terhadap yang buruk atau jahat. Konsep ini memiliki implikasi pada rasa solidaritas kemanusiaan, bukanlah dosa personalnya sendiri yang membawanya pada kejahatan tetapi karena akibat dosa leluhur. Bukan kesalahan atau hukuman dari dosa leluhur yang diteruskan kepada generasi berikutnya melainkan akibatnya. Setelah peristiwa banjir yang menenggelamkan bumi, Allah menaruh belas kasihan dan memberikan kemudahan terhadap kecenderungan jahat manusia. Hal ini dikarenakan manusia tidak dapat dengan mudah menolong dirinya sendiri dari kecenderungan tersebut.

            Dalam tulisan selanjutnya, kematian diterima sebagai fakta yang penting dari eksistensi manusia, daripada sebagai akibat dosa. Orang yang tidak berdosa pun mengalami kematian, tetapi dia diselamatkan dari kematian sebelum waktunya (lih. Yes 65:17-20). Demikian juga kecenderungan pada yang jahat diakui sebagai bagian yang tidak dapat dihindarkan dalam diri manusia (Mzm 51:7). Selanjutnya, dalam buku-buku kebijaksanaan diuraikan kaitan antara kematian (lahiriah dan batiniah) dengan dosa. Kejahatan dalam diri manusia diterima tanpa penuh keraguan sebagai fakta kehidupan, meskipun dosa-dosa yang lain turut membantu tumbuhnya pengaruh buruk dalam diri manusia (lih. Sir 37:3). Dalam buku-buku Inter-Testamental, Adam ditampilkan sebagai pendosa pertama, tetapi setiap manusia berdosa karena dirinya sendiri. Adam dilihat lebih dari sekadar contoh dosa bagi  manusia atau asal masuknya kecenderungan jahat pada manusia. Penyebab kejahatan di dunia diidentifikasi dengan berbagai cara sebagai Adam, atau Hawa, atau roh jahat, atau yetser (kecenderungan jahat manusia), atau pun kombinasi dari kesemuanya itu.

 

Konteks Santo Paulus

            Dalam keterkaitan dengan dosa asal, Paulus tidak bermaksud berbicara mengenai dosa asal dalam Rm 5:12-21 maupun 1 Kor 15:21-22. Dalam konteks tersebut, Paulus berbicara tentang misteri keselamatan melalui Kristus yang tersalib. Paulus hendak menekankan perkara misteri keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus. Kristus mengambil bagi dirinya sendiri kejahatan manusia supaya dari situasi sebagai pendosa inilah akhirnya manusia diubah menjadi orang yang dibenarkan. Inti iman yang hendak ditampilkan oleh Paulus adalah universalitas keselamatan dalam Kristus. Sumber keselamatan yang mutlak dan universal yakni berasal dari Kristus.

             Gagasan Paulus perihal universalitas keselamatan mengandaikan adanya universalitas kondisi dosa. Untuk menunjukkan pandangan ini, Paulus merujuk kepada Adam (bdk. Rm 5:12) sebagai cara membuktikan adanya universalitas dosa manusia. Kristus adalah penyelamat semua orang, maka hal ini merujuk pula pada adanya dosa pertama yang memberi asal kepada ketidakselamatan semua orang.

            Paulus menampilkan Adam sebagai pendosa pertama. Paulus melihat bahwa Adam menjadi gambaran dosa pertama dan penyebab dosa pada semua orang. Paulus juga melihat Adamlah yang menularkan kesalahannya kepada manusia selanjutnya. Namun, tetap perlu dipahami bahwa pembahasan tentang Adam bukan yang utama dari pewartaan Paulus. Paulus berusaha merujuk kepada kisah Adam agar pewartaan misteri keselamatan Kristus dapat dipahami oleh konteks orang Yahudi yang berkeyakinan bahwa keselamatan itu disebabkan karena hukum bukan seseorang. Maka dari itu, Paulus menegaskan bahwa kematian dan kedosaan yang disebabkan oleh seseorang (Adam) dihapus oleh penyelamatan seseorang pula (Kristus) yang dipilih dan diutus Allah secara khusus.

TEOLOGI BIBLIS DOSA DI DUNIA

            Kedosaan manusia itu disebarkan melalui sifat manusia sebagai pribadi korporatif. Sifat korporatif menampilkan manusia yang terkait dengan apa yang jahat dan baik dalam satu generasi, maupun dalam kaitan dengan generasi selanjutnya. Pribadi korporatif ini juga menjadikan manusia tergantung pada lingkungan dan memikul tanggungjawab bersama atas segala yang terjadi. Ada unsur kolektif yang dibawa oleh manusia. Oleh karenanya, pribadi yang korporatif ini semakin terlihat dalam unsur kolektifnya, maka dapat dikatakan pula sebagai dosa korporatif.

            Schoonenberg merumuskan bahwa (1) dosa seorang ayah akan terkait juga pada anak-anak mereka atau “dosa dunia” diteruskan oleh setiap orang dan (2) setiap manusia bertanggungjawab dengan dosanya sendiri.

            Pribadi yang korporatif dan dosa korporatif ini tampak pada peristiwa Keluaran 20:5-6 atau Kebijaksanaan 3:16 di mana sumber dosa itu dilokalisir pada dosa individu yang kemudian diwariskan turun temurun. Selain itu, peristiwa menara Babel juga menunjukkan di mana sifat pribadi korporatif ini tampak semakin jelas dalam dosa kolektif. Situasi kedosaan inilah yang menjadi dasar untuk memahami peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa.

            Dalam Perjanjian Baru, ada persoalan yang lebih luas perihal “dosa dunia” yang akan dihapus oleh Yesus (lih. Yoh 1:29). Allah mencintai dunia dan berusaha menyelamatkannya. Namun, sebagaimana dosa telah masuk ke dalam dunia, maka “dunia” merupakan lawan Allah dan terkutuklah dunia ini. Semua manusia yang ada di dalamnya terkena dosa.

            Selanjutnya, perkara tanggungjawab individu atas dosa tersebut dikupas dalam Yeremia 31:29-30. Yeremia 31:29-30 memberikan penegasan bahwa dosa seseorang menjadi tanggungjawabnya sendiri dan tidak diwariskan kepada keturunannya. Selain itu, dalam ajaran moral Perjanjian Baru ditegaskan bahwa kesalahan yang dilakukan seseorang menjadi tanggungjawab dirinya sendiri, bukan orang lain atau sesamanya.

            Schoonenberg berusaha menyintesekan dua gagasan di atas. Pertama, adanya solidaritas dalam konsekuensi (hukuman) dosa: anak-anak menderita karena dosa orang tua mereka. Kedua, anak-anak mencontoh orang tua (lih. Mat 23:32: memenuhi takaran nenek moyang). Lebih tepatnya, anak-anak berada dalam situasi kedosaan yang memengaruhi kehendak bebas mereka. Akhirnya, berdasarkan catatan Yohanes menentang bahwa karya penyelamatan Kristus melawan “dosa dunia”, sebagaimana menentang Paulus yang rupanya memusatkan perkara dosa ini pada ketidaktaatan Adam. Dosa dunia sepertinya merupakan akumulasi dari dosa nenek moyang. Dia tidak mengatakan kesalahan dosa yang diturunkan seperti yang diungkapkan dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma.

DOSA ASAL MENURUT BAPA GEREJA

Bapa Gereja Sebelum Agustinus

Para Bapa Gereja sebelum Agustinus menerima eksistensi kematian (Yustinus), kekalahan (Ireneus), atau dosa (Tertulianus) yang diterima dari Adam. Yustinus menunjuk keluar bahwa setiap manusia dirusak oleh dosanya sendiri.

Yustinus: Kelahiran Yesus dan penyalibannya bukan untuk kepentingannya, tetapi demi rasa kemanusiaan, sejak Adam jatuh pada kematian dan tipu muslihat ular. Dalam konteks imitasi terhadap Adam dan Hawa ini mereka membawa kematian pada diri mereka.

Ireneus: Kita semua terkena dosa Adam. Sesuatu yang tidak mungkin apabila manusia yang telah ditakklukkan dan dirusak karena ketidaktaatan, dapat memerbaiki dirinya dan memeroleh kemenangan; dan tidak mungkin pula dia yang telah jatuh dalam kuasa dosa akan mencapai keselamatan. Karena alasan tersebut Putra yang adalah Sabda Allah, yang turun dari Bapa menjadi manusia untuk merendahkan dirinya bahkan sampai mati dan akhirnya melaksanakan rencana penyelamatan yang telah ditetapkan.

Tertulianus: Semua manusia diadili dalam Adam hingga mereka diadili sekali lagi dalam Kristus; Mereka tetap dalam kenajisan hingga diadili sekali lagi; perbuatan dosa karena kenajisan berimbas pada aib yang memalukan dari kesatuan daging.

Praktik: Kepercayaan pada dosa asal dapat dilihat pada praktek pembaptisan bayi. Anak-anak dibaptis demi pengampunan dosa. Para Bapa Gereja awal berpegang pada keyakinan bahwa anak-anak yang tidak dibaptis tidak dapat masuk surga.

Terlianus: (Kebaikan dan pengampunan dosa): Seorang bayi yang dalam bahaya kematian harus dibaptis oleh seorang pelayan.

Cyprianus: Bagaimana mungkin kita akan melarang pembaptisan bayi yang tidak pernah berdosa, kecuali mereka yang lahir dari Adam, karena dipastikan tertular kematian yang dulu dari kelahirannya yang pertama; tentu saja mereka dapat menerima pengampunan dosa dengan lebih mudah karena mereka telah dibersihkan, bukan dari dosa mereka tetapi dari yang lain yakni dosanya Adam.

Para Bapa Yunani menghindari penyebutan dosa asal sebagai suatu dosa atau kesalahan. Mereka menyebutnya lebih sebagai noda, kerusakan, kematian (keterpisahan dari Allah), kehilangan. Rupanya mereka melakukan ini untuk menjauhkan kesan bahwa dosa asal adalah dosa aktual yang dilakukan oleh individu mereka sendiri.

 

Agustinus dan Pelagianisme

Doktrin Pelagius

Pemikiran atau gagasan utama Pelagius adalah manusia dapat memiliki kehidupan yang baik jika ia mencoba dengan sungguh-sungguh. Ia memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Dalam konteks pertumbuhan laxism (paham yang longgar) kerajaan romawi yang rusak, doktrin asketis ini butuh kekuatan.

Pelagius menganggap doktrin dari dosa asal seperti dalih dan alibi untuk kehidupan yang lemah. Perlawanan Pelagius: dosa hanya dapat muncul dari kehendak bebas manusia itu sendiri. Pada mulanya, kita kuat seperti Adam. (dalam konteks ini dia hanya menyangkal bahwa Adam tidak akan pernah hidup abadi. Dalam pandangannya, kematian adalah akhir hidup manusia yang alamiah. Jika kematian adalah akibat dosa, penebusan Kristus akan dihapuskan). Mengacu pada Pelagius, Adam juga memiliki akibat dosa. Akibat dosa itu penting untuk manusia: hal ini memberikan dorongan kuat pada dirinya. Bahkan Kristus memiliki akibat dosa, sejak ia menjadi kuat. Hawa juga memiliki akibat dosa: perhatikan bahwa ia ingin makan buah terlarang. Tentunya dosa adam memiliki dampak pada kita: hal ini dipersiapkan sebelum kita sebagai contoh buruk dari leluhur kita.

Baptis bayi? Ya, tetapi hal ini bukan sebagai pengampunan dosa atau pencapaian hidup kekal, tetapi untuk masuk dalam Kerajaan Surga. Dalam Yoh 3:5 dikatakan bahwa kita tidak dapat “masuk dalam kerajaan Surga” tanpa baptis; tetapi dalam Mat 19:16-17 menempatkan bahwa “membangun kehidupan kekal” salah satunya untuk menjaga perintah Allah. Ya, baptis dewasa “untuk pengampunan dosa”- dosa mereka sendiri.

Catatan mengenai perbedaan yang tersirat oleh Celestius dibandingkan dengan pendapat Zosimus: “Kita percaya bahwa bayi harus dibaptis untuk pengampunan dosa.. disamping itu mereka tidak mendapatkan Kerajaan Surga. .. yang dimaksud kekuatan alamiah tidak dimiliki tanpa mereka memberikan rahmat kemuliaan (yang dimaksud adalah mereka tidak secara langsung mendapatkan rahmat kemuliaan).[1]

Agustinus. Pada tahun 397 Agustinus memiliki pandangan yang sangat optimis mengenai kapasitas manusia dalam karya keselamatan.[2] Ia juga menolak kehendak tak terbatas untuk kemuliaan dalam keinginan kita untuk diselamatkan. Dari tahun 397 sampai tahun 411 hal ini terlihat ia berpandangan bahwa dosa Adam dihapuskan untuk kita beberapa tendensi pada dosa yang hanya dapat ditaklukkan oleh kemuliaan Kristus. Hanya setelah tahun 411 ia berbicara jelas tentang dosa yang akan mengutuk bayi sekalipun ke neraka. Catatan juga bahwa dalam debat pertamanya dengan Pelagius, doktrin utamanya mengarah pada tidak adanya manusia dapat selamat tanpa kemuliaan Kristus. Hal ini menunjukkan pentahbisan imamatnya (tahun 391) yang membuat dia lebih dan lebih sadar lagi akan kebutuhan pada kemuliaan. Dan pembelajaran mengenai trinitasnya membuat dia menyatakan kebutuhan tak terbatas pada Kristus; De trinitate-nya disusun sejak tahun 399-416.

Jika kita mempertimbangkan bahwa serangan Agustinus pada Pelagius penuh dengan celah (misalnya peran dari keturunan dan perananan akibat dosa dalam dosa asal, dan gambaran penolakan panggilan keselamatan universal Tuhan), kita dapat melihat mengapa Pelagianisme  memiliki daya tarik tersendiri. Uskup Italia yang berumur delapan belas lebih baik diasingkan daripada diminta untuk kembali.

VANNESTE[3] mengatakan bahwa pandangan utama Agustinus adalah bahwa manusia tidak dapat mendapatkan keselamatan kekal tanpa penebusan kemuliaan Kristus. Kontroversi mengenai dosa Adam dan warisan dosa asal adalah masalah kedua. Kita harus sungguh-sungguh memegang kepercayaan bahwa semua manusia, termasuk anak kecil, tidak dapat diselamatkan tanpa penebusan yang datang dari Kristus- hal ini sangat penting dalam doktrin orang Kristiani mengenai keselamatan. Akan tetapi kemudian kita juga harus membebaskan kepercayaan ini dari doktrin kedua yang mungkin membuat doktrin pertama menjadi aneh dan tidak dapat diterima

Doktrin Gereja

Catatan: Meskipun Konsili Kartago dan Orange tidak bersifat ekumenis, doktrin mereka dianggap sebagai cerminan berdirinya gereja universal pada zamannya. Dekrit-dekrit Kartago diterima oleh Paus Zosimus:

Konsili Kartago

  1. Terkutuklah, siapa pun yang mengatakan bahwa Adam, manusia pertama, diciptakan fana, tidak sebagai hukuman dari dosa tetapi kebutuhan natural. (ND 501)
  2. Terkutuklah, siapa pun yang menyangkal bahwa bayi yang baru lahir harus dibaptis, atau mengatakan bahwa mereka dibaptis untuk pengampunan dosa tapi mereka memperoleh bukan dosa asal dari Adam, jadi baptisan “pada pengampunan dosa” tidak semata-mata dimasukkan didalam mereka. (DB 102, cf. The Church Teachs no 367)
  3. terkutuklah, siapa pun yang mengatakan .. bahwa dalam Kerajaan Surga disana ada tempat dimana bayi yang tidak dibaptis tinggallah kebahagiaan. (DB 102 no.4)

Konsili kedua dari Orange

Jika siapa pun mempertahankan bahwa kerugian dari kejatuhan Adam sendiri dan tidak pada keturunannya, atau menyatakan bahwa hanya kematian badan yang menjadi hukuman dosa, tetapi bukan dosa itu sendiri yang adalah kematian dari jiwa umat manusia dibebaskan oleh satu orang, ia menganggap Tuhan tidak adil dan melaan perkataan para rasul: “Dosa datang ke dunia karena satu orang”. (ND 505)

Konsili Trente, Lima bagian:

  1. Terkutuklah, jika seseorang tidak mengakui bahwa Adam, manusia pertama… kehilangan kekudusannya dan keadilan yang sudah diputuskan; (ND 508)
  2. Terkutuklah , jika seseorang menegaskan bahwa kerugian dosa Adam hanya ada pada dia dan bukan keturunannya…  atau yang disalurkan pada semua manusia hanya kematian dan penderitaan  dari tubuh tetapi tidak karena dosa yang disebabkan oleh kematian jiwa. (ND 509)
  3. Terkutuklah jika seseorang yang dengan dosa Adam ini, yang salah satunya asal dan yang diteruskan oleh penyebaran, bukan ileh kepalsuan dan yang dalam setiap manusia, tepat untuk masing-masing, dapat diambil oleh kekuatan manusia biasa atau dengan pengulangan yang lain dari salah satu rahmat mediator kita Tuhan Yesus Kristus ..; jika seseorang menolak bahwa rahmat Yesus Kristus memberikan hal yang sama pada orang dewasa dan anak-anak dalam sakramen baptis. (ND 510).
  4. Terkutuklah jika seseorang menolak bahwa bayi yang baru lahir dari rahim ibunya untuk dibaptis, … atau yang mengatakan, mereka dibaptis demi pengampunan dosa, juga mereka yang tidak menyetujui Dosa Asal Adam yang harus diperbaiki dengan mandi dari proses regenerasi yang membawa mereka pada kehidupan kekal … (ND 511)
  5. Terkutuklah jika seseorang menolak kesalahan dari dosa asal diampuni oleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus yang diberikan dalam pembaptisan, atau menegaskan bahwa semua adalah dosa yang kenyataan dan pengertian yang tepat tidak dapat begitu saja tetapi hanya melukiskan atau menghubungkan. (ND 512)
LUTHER TRENTE (KATOLIK)
Kodrat manusia rusak sama sekali; manusia kehilangan kebebasan, semua kekuatan dan kemampuannya. Kodrat manusia hanya terluka
Budi manusia tidak mampu mengerti kebenaran moral, kehendak bebas dirusak, dan setiap substansi manusia dirubah kepada kejahatan Manusia tidak kehilangan kemampuan mengerti kebenaran moral. Yang terjadi hanya pengurangan anugerah ilahi yang tidak dimiliki oleh kodrat manusia, sebagai hak dalam arti tegas, penguasaan penuh atas nafsu, bebas dari kematian
Concupiscentia (kecondongan kepada yang jahat) = dosa asal

Concupiscentia tidak bisa dikalahkanConcupiscentia ≠ dosa asal, tapi berasal dari dosa asal

Concupiscentia bisa dikalahkan dengan rahmat Dosa asal tidak bisa hilang; ia menentukan keberadaan kita, dan darimana perbuatan dosa itu tumbuh seperti buah busukPembaptisan menghapus semua dosa (dosa asal dan dosa pribadi), namun tidak menghapus concupiscentia.

VANNESTE mengatakan bahwa empat kanon pertama dari konsili Trente hanyalah pembuka yang menghantar ada penghukuman dari doktrin Luther atau berhubungan dengan kebenaran (kanon 5).[4] Mereka tidak mendefinisikan kenyataan (dengan pengecualian yang mungkin dari “origine unum” dalam kanon 3), tetapi hanya mengulang hasil konsili Orange dan Kartago, dan menceritakan doktrin yang mengacu pada penerimaan Reformasi itu sendiri. Seperti pada konsili Kartago, gagasan utama bukan pada dosa asal atau baptis bayi, tetapi kemampuan manusia untuk mencapai keselamatan tanpa kemuliaan Kristus. Oleh karena itu, poin utama dari definisi Kartago (yang diterima Paus Zosimus) bahwa kita semua membutuhan kemuliaan Kristus untuk memperoleh keselamatan.[5]

ALSZEGHY-FLICK: Pembedaan antara apa yang dikatakan di Konsili trente dan apa yang ditegaskan. Konsili trente menegaskan bahwa dosa asal tidak disebabkan oleh Tuhan tetapi oleh manusia, dan kesalahan dihapuskan dalam pembaptisan. [6]

Kanon 3 menempatkan bahwa dosa asal adalah “satu asal dan ada pada diri setiap manusia.” Pandangan ini dimasukkan untuk menolak doktrin yang diajukan oleh Phigius[7] bahwa dosa asal adalah satu dan dihubungkan pada kita. Jadi, dosa asal dalam diri kita dapat sungguh dihapuskan. Konsili menolak usaha untuk membenarkan doktrin Katolik dari pengampunan yang nyata dari dosa asal pada saat baptis dan doktrin Reformasi dihapuskan dari kebenaran.

Benedict J. EBDRES, OP mempelajari diskusi-diskusi dalam Konsili Trente dan mendapatkan kesimpulan yang sama dengan sebelumnya. Akan tetapi ia menambahkan bahwa Konsili Trente juga mendefinisikan bahwa “dari semula, manusia sudah berdosa”; dan “ini adalah solidaritas dalam dosa jadi manusia terluka tidak karena dirinya sendiri tetapi dari dia yang datang setelahnya dan benar juga bahwa semua manusia masuk ke dunia sebagai pendosa” (kanon 2).[8]

Doktrin tradisional mengenai Dosa Asal

Manusia pertama, Adam dan Hawa mendapat kebijaksanaan awali: abadi, utuh, dan diberkati dengan kemuliaan yang kudus. Kebijaksanaan awali ini bersifat turun temurun, asalkan Adam tetap percaya pada Tuhan. Akan tetapi karena Adam berdosa, ia kehilangan rahmat kekudusannya, dan ‘rahmat luar biasa’-nya. Oleh karena itu, keturunannya lahir dalam dosa (cacat dalam kekudusan) dan dengan luka alami (terutama karena akibat dosa). Kemuliaan Kristus diberikan dalam pembaptisan, menghilangkan dosa asal tetapi bukan menghilangkan kecenderungan berbuat dosa.

Pandangan Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II menyinggung masalah ini secara sepintas. LG menyatakan bahwa semua manusia jatuh ke dalam dosa dalam diri Adam dan Allah “tidak mengabaikan mereka tetapi selalu memberikan bantuan untuk menyelamatkan diri mereka dalam diri Kristus penebus” (LG 2). GS membahas tema ini secara lebih panjang (GS 13), demikian pula SC 6, 18, dan 20. Dapat dikatakan bahwa konsili tidak ingin menyajikan lagi ajaran tradisional secara sederhana dan umum. Butir-butir ini disajikan dengan bahasa eksistensial dan dalam prespektif keselamatan yang mengundang para teolog dan katekis untuk menafsirkan misteri agung ini secara konkrit dan sesuai dengan aktualitasnya masa kini.

Pemikiran teologis pada masa kini cenderung mengikuti pendapat Thomas. Setelah tahun 60-an muncul keberatan bahwa ajaran ini dianggap tidak bisa dimengerti oleh dunia modern, lagipula tidak mampu menjawab dengan cara yang bisa diterima keberatan-keberatan yang diajukan oleh ilmu pengetahuan manusiawi dan eksperimental. Keberatan yang diajukan:

  1. Dengan pengertian dunia sebagai perkembangan, bagaimana mungkin manusia pertama memiliki suatu perkembangan psikis yang dosanya bisa melibatkan seluruh umat manusia, dan karena itu menyangkal kesejarahan dosa asal originante.
  2. Berdasarkan konsep pribadi, bagaimana mugnkin seorang dijatuhi hukuman karena dosa orang lain; karena itu menolak adanya dosa asal originato, dan dianggap perlu disisihkan.
  3. Condong pada pelagianisme, yang kemudian diungkapkan dalam Pencerahan, diajukan pendapat bahwa pesimisme menghalangi kreativitas manusia modern, yang dimaksudkan untuk mengubah dunia dan masyarakat secara teknis, politis dan pedagogis. Penilaian negatif atas kemampuan manusia bisa membawa pada konsekuensi autotatian dan totalitarian.

Refleksi atas Pembahasan Dosa Asal

  • Pembahasan dosa asal membawa kita untuk memahami lebih dalam makna dari penebusan Kristus. Peristiwa iman dalam misteri keselamatan Kristus yang tersalib membuka wawasan keterkaitan dengan peristiwa kejatuhan manusia pertama.
  • Mengenal dosa asal lebih dalam merupakan salah satu keuntungan karena dengan mengenal dosa asal ini, kita dapat lebih mengenal besarnya kemuliaan Allah bagi umat-Nya. Dengan mengenal kemuliaan Allah yang nyata ini, dosa asal benar-benar ditebus dan terbukalah pintu menuju Kerajaan Allah. Meski dosa asal telah ditebus, salah satu hal yang membuat manusia jauh dari Allah atau terkendala untuk masuk dalam Kerajaan Allah adalah dosa yang dibuat setelah menerima sakramen baptis.
  • Kecenderungan untuk berdosa memang sulit untuk dihapuskan dan inilah yang perlu diolah dalam hidup manusia. Namun, untuk itulah rahmat Allah dibutuhkan agar manusia mampu bertahan dan berjuang melawan kecenderungan pada dosa yang senantiasa melekat pada manusia.

[1] Dikutip oleh LEEMING dalam Clergy Review 39 (1954) hlm. 74.

[2] FLICK-ALSZEGHY, Il Peccato Originale, hlm. 97-110.

[3] The Dogma of Original Sin, hlm. 73-75.

[4] Opcit. ,bag 7, hlm 114-148.

[5] Lih. FLICK-ALSZEGHYdalam Theol. Digest 15 (1967) 199.

[6] Theol. Digest 21 (1973) 57-65 “Apa yang telah ditetapkan Konsili Trente mengenai dosa asal?”) esp. hlm. 63-65.

[7] Albert van der Pigge, +1542.

[8] “The Council of Trent and Original Sin,” The Catholic Society of America Proceedings, vol 22 (1967) hlm. 51-91.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: